Sunday, 7 February 2016

Hanya dua kata untuk Rock Climber terbaik dunia satu ini





Sudah lama saya tidak menulis di blog ini lagi, saya sungguh memohon maaf mungkin ada sahabat yang menyempatkan diri berkunjung ke laman blog ini dan merasa kecewa karena tidak menemukan tulisan baru bahkan setelah hampir satu bulan lamanya. Memang saat ini saya sedang sibuk sibuknya menunggangi rollercoaster kehidupan yang tampaknya saat ini sedang meluncur deras sekali, sehingga saya tidak sempat meluangkan waktu untuk menulis postingan terbaru di blog kita yang sederhana ini.

Baiklah, kali ini saya ingin berbagi tentang sedikit berita yang saya baca sekitar dua hari yang lalu, tentang apa yang telah Alex Honnold lakukan dalam super climbingnya di Torre Regional Park, dengan memanjat tiga menara kematian Torre hanya dalam waktu 20 jam 40 menit. Ini rekor yang paling prestisius sepanjang sejarah pemanjatan tebing Torre.

Next Level…

Hanya itu yang ditulis oleh redaksi majalah Rock and Ice saat membagikan artikel tentang apa yang Alex Honnold lakukan ini.

Pemanjatan ini dilakukan oleh Honnold bersama rekannya Colin Haley, yang tampaknya memang telah mendedikasi hidupnya dalam berbagai bentuk ekspedisi merayapi sisi tebing Torre Regional Park. Sebenarnya, waktu yang berhasil dicetak oleh Alex dan Colin telah lewat 40 menit dari target yang telah mereka pasang, sebelumnya mereka menargetkan akan mampu menyelesaikan memanjat 3 menara Torre ini dalam waktu maksimal 20 jam saja. 

Meskpun tampaknya gol mereka tidak tercapai, namun ini adalah kesuksesan besar yang dilakukan oleh Colin dan Alex. Hal ini semakin mengokohkan nama mereka sebagai rock star papan atas dunia.

“…Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, betapa jauh waktu telah berubah…"

Mungkin itulah yang ingin disampaikan oleh Ronaldo Garibotti, orang yang dikenal sebagai orang pertama yang berhasil mendaki tebing tebing maut Torre. 

Bagaimana tidak, 30 atau 20 tahun sebelumnya ia harus menghabiskan waktu berhari hari hanya untuk menuntaskan beberapa pitch saja pada permukaan cadas tebing Torre.

Trilogy of Torre dan jalur tempuh pemanjatan Alex dan Colin dalam waktu 20 Jam.


Saya tidak ingin bercerita terlalu panjang tentang apa yang telah terjadi dipermukaan tebing Torre ini, dan apa yang dilakukan oleh the best rock climber in the world Alex Honnold ini, dengan mudah sahabat dapat membacanya dalam beberapa journal outdoor dunia seperti Rock and Ice Magazine, Climber Magazine, dan yang lainnya.

Namun sebenarnya yang ingin saya tulis kali ini adalah tentang pribadi Alex Honnold yang tergambar dengan cukup jelassaat saya membaca sebuah surat pembelaannya saat kematian tragis menimpa salah satu mentornya dan tokoh adventure dunia yang juga menjadi salah satu ultimate adventurer in the world, Dean Potter. 

Kita tahu, tahun 2015 mungkin adalah salah satu tahun yang cukup menyedihkan untuk para petualang dunia, bagaimana tidak, dalam satu tahun hampir 20 orang athlete dan tokoh kenamaan dunia outdoor dan adventure yang meninggal, dan yang familiar diantaranya adalah kematin Dick Bass si pioneer seven summit grand slam, kematian  Douglas Tomkins si founder brand outdoor paling populer sejagad, The North Face, lalu kematian Dean Potter, salah satu super star adventures  yang terkenal sangat rendah hati, humble, dan juga mengayomi untuk juniornya. Dean tewas saat melakukan base jumping dari tebing Yosemite, di Yosemite National Park, saat parasut yang ia gunakan terbelit bersama parasut yang temannya gunakan, dan keduanya tewas dalam tragedi tersebut.

Apa yang menimpa Dean Potter dan rekannya saat itu, menuai pro dan kontra dalam dunia outdoor, ada yang bersimpati, namun ada juga yang berantipati, ada yang secara mendalam merasa kehilangan seorang tokoh adventurer yang terkenal dengan keberaniannya mengexplorasi kemampuan dan tingkat kesulitan sebuah petualangan, namun ada juga yang menganggap kematian Dean adalah sebuah resiko konyol dan mematikan dari seorang selfish dan narsis yang haus pujian dan penghormatan, yang kemudian hal yang menimpanya malah menyakiti orang orang disekitarnya.

Dan tuduhan negative inilah yang coba dijawab oleh Alex Honnold dalam sebuah tulisan terbukanya yang dimuat di beberapa journal outdoor dunia. 

Surat Alex cukup panjang saat itu, namun saya akan mengemukakan beberapa hal yang menurut saya cukup menggugah, khususnya untuk saya secara pribadi. Sebuah penjelasan yang tidak hanya membela Dean Potter secara khusus yang telah meninggal, namun juga dalam sudut pandang lain ikut menjelaskan karakter dirinya sendiri, yang saat telah diakui sebagai pemanjat tebing terbaik di dunia.

“ apa yang Dean lakukan dengan memanjat Big Wall secara speed soloing pada saat saya melihatnya pertama kali di tebing Yosemite adalah sesuatu yang tampaknya gila dan mustahil, namun itulah yang Dean lakukan…”

Dunia panjat tebing saat ini, tentu tahu siapa the best rock climber, yang hidupnya dalam vannya, tidak banyak bicara, penyendiri namun selalu memukau dengan aksi aksi gilanya. 

Holywood boleh saja merekrut Chris Sharma sebagai rock climbing technical advisor dalam Point Break dengan aksi gilanya memanjat air terjun di Venezuela, atau mencatut nama Adam Ondra dengan pekikannya yang seolah memecahkan gendang telinga saat meraih point demi point. Atau semerbaknya nama Ashima Shiraishi yang dinobatkan sebagai rock climber perempuan terbaik di dunia dalam usia yang masih sangat belia, Namun Alex Honnold memiliki kelasnya sendiri,  yang hanya dialah orang yang ada disana, ia memiliki podiumnya sendiri.

 Chris Sharma, Adam Ondra, Ashima Shiraishi, & Alex Honnold

Alex tak banyak bicara dengan segala filosofi dan ungkapan yang memukau, namun aksinya dalam dunia vertical lah, yang membuat para pecinta adventure dunia terpukau dengan sendirinya.

Saya masih ingat kata kata Ueli Steck, mountaineer tercepat di dunia dengan gelar Swiss Machine nya, saat bersanding dengan Alex Honnold dan memanjat Yosemite bersamaan.

“.. Dia ( Alex ) tak seperti kebanyakan orang yang bicara bla bla bla… Ia hanya mengatakan lets do it., dan kami pun berangkat…”

Kemudian pada paragraph selanjutnya Alex mengatakan lagi..

“..Most people had only seen his climbing and flying through short YouTube videos and never got a glimpse of the years of training behind them. Dean actually had a thoughtful and conservative approach, building up to things slowly over time as he became physically and psychologically prepared…”

Banyak orang yang melihat apa yang Dean lakukan, dan dirinya juga sebenarnya, hanya dari video singkat youtube atau website lainnya, mereka tidak pernah berada bersama mereka ketika berlatih perlahan lahan, bertahun tahun, mempersiapkan diri selangkah demi selangkah secara fisik dan juga mental.

Sekarang hampir semua insan outdoor dunia tahu siapa raja dari panjat tebing tebing besar dunia, tanpa pengaman dan juga seorang diri, atau yang sering disebut dengan istilah free soloing. Alex Honnold adalah nama pertama yang berada di predikat paling atas dengan semua prestasi dan aksinya yang bisa kita lihat di youtube secara bebas. Dan itu semua seperti statement untuk Dean Potter membutuhkan persiapan yang tidak singkat, sebelum mengambil resiko sejuah itu, ia telah mempersiapkan diri secara fisik dan mental untuk melakukannya.

Tebing Torre kemarin adalah salah satu bentuk aplikasi hasil latihan dan persiapannya selama ini, ia memang tidak melakukannya secara free solo, namun tetap saja itu adalah prestasi orang orang yang khusus, yang tidak semua rock climber top dunia mampu melakukannya, persis seperti tulisan Rock and Ice Magazine untuk memuji aksi Alex Honnold..

He is Next Level..



Salam.


Alamat resmi store arcopodo saat ini adalah :
Terimakasih yang menyempatkan diri untuk berkunjung
 

No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...