Tuesday, 12 January 2016

Pertarungan dua rock climber cantik dunia, Nina Caprez vs Sasha Digiulian




Pada dasarnya saya tidak begitu tertarik menulis postingan yang agak lebay begini, tentang persaingan dua rock climber jelita yang sama sama saya kagumi dan saya idolakan.

Namun sekitar sepuluh hari yang lalu, ketika saya sedikit berkomentar pada status Nina Caprez di akun facebooknya yang saat itu ia mengucapkan selamat tahun baru 2016. Tidak begitu berlebihan menurut saya apa yang saya tulis, dalam sebuah kalimat pendek saya hanya mengatakan

“… Tahun 2015 kemarin, Sasha Digiulian telah mencatatkan diri sebagai rock climber perempuan pertama dunia yang sukses memanjat Eiger North Face pada jalur yang berpuncak pada Musroom Rock, saya sungguh berharap, tahun 2016 ini, namamu juga akan melakukan hal yang special seperti itu Nina…”

Saya tahu diri, tidak berharap Nina Caprez akan menjawab komentar saya pada postingan itu, dan saya juga yakin Nina Caprez adalah athlete hebat dengan karakter hebat pula, yang tentu akan menanggapi teori comparative yang saya tulis, sebagai sebuah cambukan untuknya melakukan sesuatu yang lebih hebat di tahun 2016 ini mendatang. 

Namun ada yang membuat saya jadi agak mengerutkan dahi, ketika ada dua orang pengguna facebook yang lain, yang tampaknya fans berat Nina, atau mungkin ingin menarik perhatian Nina dengan membalas komentar saya tersebut. Dua orang tersebut membalas komentar saya dengan nada ketus dan cenderung menghakimi saya karena membandingkan Nina Caprez dengan Sasha Digiulian, bahkan salah satu komentar dari fans perempuan Nina menutup kalimatnya dengan seolah olah menunjuk ke arah batang hidung saya, dan saya pikir itu adalah sesuatu yang berlebihan.

Saya tidak membalas lagi komentar balasan tersebut, karena saya tetap yakin dan percaya bahwa Nina Caprez adalah athlete rock climber besar yang juga berjiwa dan berkarakter besar. Brand sekelas Petzl dan Arcteryx tidak akan sembarangan merekrutnya sebagai brand ambassador jika ia memiliki jiwa cengeng yang gampang tersinggung.


Nina Caprez saat first ascent di Silbergeier

Dan tentang Sasha Digiulian, athlete cantik dan periang, dan rock climber andalan dari merek besar Adidas ini memang seperti yang kita tahu sendiri, beberapa waktu yang lalu, bersama seorang partner sesame brand ambassador Adidas telah berhasil menuntaskan pemanjatan di Eiger North Face hingga ke Mushroom Rock. Dan itu telah mencatatkan namanya sebagai perempuan pertama di dunia yang melakukan hal tersebut, setidaknya itu yang ditulis oleh Wikipedia, dan beberapa journal adventure lainnya.

Sebelumnya memang nama Sasha Digiulian telah berkibar dengan kencang dalam jagad dunia rock climbing internasional, dua merek besar  yang identik dengan segala aksinya, Red Bull dan Adidas, telah ikut mengorbitkan namanya sehingga menjadi salah satu rock climber perempuan dengan usia muda yang penuh prestasi.

Dan Nina Caprez, namanya juga menjadi viral dan populer dalam seantero dunia panjat tebing. Apa yang ia lakukan dalam Viva La Vie, first ascent di Silbergier, serta serangkaian pemanjatan first ascentya di Orbayu 8c Naranjo de Bulnes, di Picos Spanyol juga merupakan prestasi yang tidak semua rock climber bisa melakukannya. 

Pendek kata, dua nama rock climber internasional yang cantik tersebut, Nina Caprez dan Sasha Digiulian adalah dua sosok yang berimbang dari sisi prestasi, dunia yang digeluti, pencapaian, dan juga tentunya daya tarik, dua duanya cantik, penuh enerjik, dan sama sama rock climber tangguh, brand  ambassador dari merek merek besar.

Lantas, apakah salah jika kita menyandingkan nama keduanya dan mereview mana yang lebih hebat..?
Saya pikir tentu tidak salah. 

Ada sebuah teori yang mungkin akan membantu menjelaskan mengapa hal ini perlu dilakukan, orang berpendidikan tinggi sering menyebutnya sebagai teori antithesis, yaitu mengadu kedua objek, opini, pemikiran, gagasan, ide, dengan sesuatu yang bertentangan dengan ide tersebut, dan ide tantangan haruslah memiliki kapabilitas dan spesfifikasi yang sama hebatnya dengan ide yang akan diuji.

Dengan adanya pengujian antithesis ini akan membuat kedua objek yang diadu akan semakin sama kuatnya, dan hasilnya akan semakin solid dan diakui.

Sasha Digiulian saat Mushroom Rock Eiger North Face

Contoh simplenya adalah begini, jika Mike Tyson bertanding tinju melawan juara tinju antar kampung, dan Mike Tyson memenangkan pertarungan, hal itu sama sekali bukan sesuatu yang hebat. Dunia tidak akan mengakui kehebatan dan superiornya di atas ring karena prestasi tersebut. Karena apa yang ia lakukan sama sekali tidak berimbang dengan latar belakangnya.

Namun jika Tyson beradu tinju dengan Evander Holyfield, Manny Pacquiao, Mohammad Ali, dan sederet bintang kelas berat tinju lainnya, dan ia menang, maka itu akan semakin mempertegas bahwa Tyson adalah yang terbaik di dunia boxing.

Demikian halnya saya menyandingkan nama Nina Caprez dan Sasha Digiulian. Sama seperti banyak orang Cristiano Ronaldo vs Leonel Messi, atau DickBass vs Pat Morrow, Edurne Pasaban vs Euh Eun Sun, atau dari rock climber laki laki, Chris Sharma vs Allex Honnold..

Saya tidak tahu siapa yang akan menjadi yang terbaik diantara dua rock climber cantik ini, Nina Caprez kah…, atau Sasha Digiulian kah..?

Yang pasti semoga keduanya tetap konsisten mencetak prestasi di tebing tebing dunia..




No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...