Wednesday, 16 December 2015

The North Face Trilogi & Tiga Tebing Pembunuh Para Pendaki Gunung di Sisi Utara


The North Face, nama ini begitu melegenda saat ini, tidak tahu siapa sebenarnya orang pertama yang mendapatkan ide untuk merangkai tiga kata tersebut.

Di negara kita, Indonesia, jika disebut nama The North Face, maka sebagian besar  untuk masyarakat awam mungkin yang terbayang adalah sebuah merek yang melekat pada  aneka macam produk pendaki gunung dan aktifitas petualangan. Mulai dari jaket, tas, sepatu, kaos, hingga tenda dan semacamnya. Di antara banyak produk outdoor yang lainnya, yang paling populer memang adalah brand ini, The North Face.

Perusahaan ini sendiri yang bergerak khusus memproduksi perlengkapan outdoor, didirikan oleh Douglas Tompkins pada tahun 1966 di San Fransisco, Amerika Serikat. Meskipun Douglas Tompkins tidak begitu lama mengurus bisnisnya ini, karena pada tahun sekitar 1968 ia menjualnya kepada Kenneth Hap Klopp dengan harga kurang lebih $50.000, nama The North Face berkembang menjadi brand dengan tingkat kepopuleran paling besar di dunia, bahkan hingga saat ini. 

Dan nama The North Face sendiri, menurut cerita Doug Tompkins, terinspirasi dari perjalanan hikingnya ke Eagle Mountain di Minnesota. Di sana, Tompkins melihat sisi utara gunung tersebut yang terasa lebih dingin, lebih banyak es, dan lebih rumit untuk dipanjat. Kemudian logo The North Face sendiri, yang begitu familiar seperti yang kita kenal saat ini, bukanlah logo pertama kali saat bisnis ini dicetus oleh Tompkins.

Logo The North Face dengan model seperempat lingkaran seperti saat ini di desain pada tahun 1971 oleh seorang desainer logo bernama David Alcorn. Dan desain ini merupakan epic atau tiruan dari Half Dome, sebuah batuan monolith raksasa yang ada Yosemite National Park.

Half Dome yang menjadi inspirasi dasar dari logo brand The North Face
image: www.foxnews.com

Saat ini, hampir semua aktifitas outdoor dan adventure, di berbagai belahan negara dunia sangat akrab dengan brand ini. Ratusan atlit terbaik, dari berbagai bidang sport adrenaline yang menguras nyali dan keberanian, disponsori oleh merek ini. Mulai dari rock climbing, mountaineering, kayaking, hiking, base jumping, ski race, dan lain sebagainya, The North Face dan logonya yang khas akan terlihat banyak bersliweran disana.

Tak dapat dipungkiri, saat ini merek ini mungkin merajai pasar outdoor dan adventure dunia, sebagai salah satu brand yang paling populer dan terkenal.

Lalu sekarang, selain terkenal sebagai brand outdoor paling tajir di dunia, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan The North Face, kita akan coba mengobrol tentang hal ini pada postingan kali ini.

Setidaknya ada enam sisi bagian utara di dunia yang mendapat gelar The North Face, mulai dari Eiger di Switzerland hingga Everest di Himalaya. Namun kali ini, kita akan mencoba mengobrol tentang tiga saja tebing The North Face di dunia, yang merupakan Trilogy of The North Face, tiga tebing maut sisi utara paling mematikan di dunia, yang kesemuanya berada di kawasan Eropa, menjadi penghias kilauan jajaran pegunungan Alpen yang mempesona.

Tiga tebing ini sering disebut juga sebagai the great north face of the Alps.

Lalu mana sajakah yang masuk dalam trilogy of the north face, ini dia sedikit datanya.

Pertama, The North Face of Grandes Jorasses Of Mont Blanc.

Grandes Jorasses berada dalam kawasan negara Perancis dan bagian Aosta Valley Italia, menjulang dengan ketinggian 13.806 ft atau 4.208 mdpl.

Jalur termudah menuju puncak gunung adalah melaui Pointe Walker, dan pertama kali berhasil dipuncaki oleh Horace Walker dan guidenya Melchior Anderegg, dan penamaan jalur ini pun, mengambil nama akhir dari Horace Walker.

Grandes Jorasses memiliki banyak puncak, mulai dari yang tertinggi bernama Pointe Walker, Pointe Whymper, Pointe Croz, Pointe Margharita, Pointe Elena, dan yang terendah adalah Pointe Young dengan ketinggian 13.110 ft.

Dan yang paling menarik dari gunung ini bukanlah banyak puncaknya, namun sebuah tebing dengan ketinggian lebih dari 1km yang membentang dari dasar lembah Leschaux Glacier hingga mengarah langsung ke Pointe Walker di puncaknya. Tebing ini berada di sisi gunung bagian utara gunung Grandes Jorasses, dan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, adalah salah satu anggota dari trilogy of the north face di pegunungan Alpen.

Secara detail, North Face of Grandes Jorasses memiliki ketinggian sekitar 1200 meter atau 3.900 ft. Dan jalur klasiknya adalah Walker Spur yang mengarah langsung ke Pointe Walker. Walker Spur juga dalam beberapa kesempatan sering disebut dengan nama Cassin, Esposito, atau Tiponi dengan tingkat kesulitan berada pada skala 5c /6a.

Salah satu pendaki perempuan ternama yang berhasil memuncaki North Face of Grandes Jorasses ini adalah Alison Hargreaves melalui jalur Croz Spur. Alison melakukan ini dalam project tournya mendaki enam terbing utara tersulit di pegunungan Alpen, dan tentu saja, North Face of Grandes Jorasses masuk dalam salah satunya.

The North Face of Grandes Jorasses


North Face kedua, The North Face of Matterhorn.

Matterhorn adalah salah satu gunung paling cantik dari sisi bentuknya menurut saya, menjulang tinggi ke angkasa seperti tanduk kerbau yang runcing dan melengkung.

Matterhorn nerupakan sebuah gunung yang berada dalam kawasan negara Italia dan juga Switzerland, ketinggiannya mencapai 4.478 Mdpl atau 14.692 ft. 

Dari sisi sejarah pendakian, Matterhorn tidak dapat dipisahkan dengan nama besar alpinis Perancis, Jean Antonie Carrel. Ia bersama sang paman Jean Jaques Carrel adalah dua orang pertama yang berusaha mendaki gunung tanduk kerbau ini, meskipun gagal sampai ke puncak, Carrel dan pamannya berhasil mendaki hingga ke titik 3.800 meter. 

Kegagalan pada percobaan pertama tidak membuat Carrel jera, beberapa kali ia kembali ke Matterhorn, namun tetap gagal. Pencapaiannya yang tertinggi sebelum pristiwa first ascent Matterhorn adalah, ketika 1963  Jean Antonie Carrel bersama Cesar Carrel, John Tyndall, Anton Walters, dan J.J Bennen, sebelum kembali turun karena gagal mencapai puncak Matterhorn, Jean Antonie mengatur pendakian untuk menapai titik 4.248 mdpl di bahu gunung Matterhorn. Pencapaian Carrel ini dinamakan dengan sebutan Pic Tyndall, sebagai penghormatan mereka kepada John Tyndall yang merupakan client Carrel pada ekspedisi tersebut.


Akhirnya orang yang beruntung menjadi first ascent of Matterhorn adalah Edward Whymper bersama ke enam orang rekan mendakinya pada 14 Juni 1965, namun nasib naas menimpa mereka ketika perjalanan turun, empat orang dari anggota team ditelan avalanche saat melewati Matterhorn Glacier, bahkan satu jenasah tidak pernah ditemukan hingga saat ini.

Tiga hari setelah Whymper dan timnya mencapai puncak, Jean Antonie Carrel bersama rekannya Jean Baptize Bich, juga mencapai puncak Matterhorn dari sisi Italia.

Dari fakta ini yang terjadi di gunung Matterhorn ini kita dapat juga belajar, betapa persaingan dan pertarungan tak tertulis antara para pendaki gunung untuk menjadi yang pertama disebuah puncak yang belum pernah dijelajahi, sangatlah ketat dan panas. Meskipun Carrel berulang ulang datang ke Matterhorn untuk menjadi the First Ascent, nasib berkata lain, Edward Whymper lah yang beruntung, dan nama serta wajahnya lah yang dicetak pada plakat penaklukan gunung Matterhorn, bukan Carrel yang mungkin rasanya lebih pantas.

Karena itu juga adalah bagian dari hukum gunung, tidak hanya kemampuan, skill, dan gears yang akan menjamin keberhasilan, faktor keberuntungan dan nasib juga menjadi hal yang akan menentukan. Carrel kalah dalam perlombaan di Matterhorn, meskipun sejarah Matterhorn tak pernah bisa dilepas dari nama besarnya.

Jean Antonie Carrel dan North Face of Matterhorn


Setelah Matterhorn berhasil berhasil dipuncaki, masalah belum selesai, sisi utara atau North Face of Matterhorn tetap menjadi tak tertaklukkan hingga tahun 1931, hingga tebing ini pernah dijuluki sebagai masalah terakhir pegunungan Alpena atau the last problem of Alps.

Pencapaian sisi utara Matterhorn dilakukan secara tak terduga, tanpa publikasi dan gembar gembor, dilakukan oleh dua kakak beradik dari Munich, Jerman, bernama Franz Schmid dan Toni Schmid. Mereka memang melakukan pendakian ini secara rahasia, dari rumah mereka di Munich mereka bersepeda menuju Matterhorn, dan setelah sukses menyelesaikan the last problem of Alps, mereka kembali mengayuh sepeda mereka pulang ke rumah.

Nama besar yang juga pernah melakukan pendakian langsung ke puncak Matterhorn melalui sisi utara adalah Walter Bonatti, salah satu mountaineer legendaries dari Italia.

Sedangkan untuk speed rekornya saat ini, masih tetap dipegang oleh si Swiss Machine, Ueli Steck, dengan catatan waktu 1 jam 56 menit.


Tebing utara ketiga, North Face of the Eiger.

Eiger North Face adalah nama dan tempat yang paling populer dalam sebutan nama The North Face, dan yang pertama sebagai granit terbesar dalam jajaran Trilogy north face of the Alps.

Sejarah pencapaian puncak gunung ini, dan pertarungan para pendaki yang mendakinya telah saya tulis dalam postingan beberapa waktu yang lalu, silahkan klik disini untuk membacanya kembali. 

Dan sekarang kita khusus akan berbicara mengenai sisi The North Face nya saja.

Eiger North Face atau sisi utara gunung Eiger, tepatnya sisi utara barat daya. Adalah sebuah tebing granit raksasa dengan ketinggian 1.800 Meter atau 5.900 ft dengan kemiringan hampir tegak lurus disemua permukaan tebing.


Beberapa kali usaha dalam mencapai puncak Eiger melalui sisi utara berbuah malapetaka, salah satu yang terkenal adalah ketika dua pendaki muda dari Bavaria, Jerman bernama Karl Muhringer dan Mark Sedlemeyer, yang selama berhari hari pada ketinggian 3.300 meter dihantam badai, longsoran salju, avalanche, serta juga kabut tebal yang menutupi pandangan. 

Hampir selama lima hari Karl dan Mark terjebak dalam bivak mereka diketinggian mengerikan gunung Eiger ini.

Hingga sekitar seminggu kemudian, cuaca benar benar cerah dan langit biru benderang di atas puncak Eiger, dua pendaki muda Jerman itu ditemukan telah tewas mebeku mengenaskan di dalam bivak mereka.

Dan saat ini tempat dimana kedua orang pendaki muda itu tewas disebut dengan Bivak Kematian atau Death Bivouac.

Akhirnya Eiger North Face terpecahkan kebuntuaannya pada tanggal 24 Juli 1938, empat orang pendaki yang tergabung dalam tim Jerman – Austria berhasil mencapai puncak Eiger melalui tebing The North Face. Keempat orang tersebut adalah Anderl Heckmair, Ludwig Forg, Heinrich Harrer, dan Fritz Kasparek.

Sebenarnya keempat orang ini bukanlah satu team, mereka adalah dua tim independent yang sama sekali tidak saling kenal. Namun tantangan dan kesulitan mengalahkan kengerian tebing utara Eiger mempersatukan mereka dalam sebuah tim yang bahu membahu saling membantu menuju puncak menara Eiger. Dibawah komando pendaki paling berpengalaman diantara mereka, Heckmair, semua anggota tim sukses meraih puncak Eiger melalui rute North Face pada jam empat sore.

Setelah turun dari puncak melalui jalur normal, Heckmair memberikan keterangan tentang kerjasama mereka sebagai tim di atas granit raksasa North Face tersebut dengan kalimat.

“… We, the sons of older Reich, United with our companions from the Easten Borders to march together to victory…”.

Anderl Heckmair dan rute tempuhnya di Eiger North Face

Selanjutnya pada tahun tahun terakhir atau yang paling actual ada beberapa nama yang mencatatkan namanya di tebing utara Eiger.

Seperti Daniel Arnold yang mengalah rekor Ueli Steck dengan catatan waktu 2 jam 28 menit 20 April 2011.

Pada waktu sebelumnya 07 Agustus 2008, mendiang Dean Potter yang melakukan free solo dan free base dari Deep Blue Sea dengan tingkat kesulitan 5.12+.

Kemudian Sasha Digiulian yang menjadi perempuan pertama di dunia yang berhasil mengikuti rute Magic Musroom bersama salah seorang rekannya dari Adidas athlete ambassador.

Dan yang terakhir, adalah pada 17 November 2015 kemarin, Ueli Steck kembali merebut rekornya dengan catatan waktu 2 jam 22 menit 51 detik.

***


Dan tidak tahu, pada waktu mendatang rekor apa lagi yang tercipta dari icon pegunungan Alpen ini.

Yang pastinya, para penjelajah dan pendaki gunung akan terus berekplorasi mencari cara yang lebih sulit lagi untuk mengekplotasi batas kemampuan mereka.

Dan dunia pendakian gunung akan selalu meberikan tantangannya.


Salam.

 Artikel menarik lainnya :


Sntaoutdoor adventure jacket
Waterproof,  Windproof, and breathable
Rp, 395.000
Wa ; 081254355648 / Bbm : 7FA908A3 / line : Arcopodostore








2 comments:

  1. jadi dialog film nordwand, "mereka datang dengan kereta pulang dengan peti mati"

    ReplyDelete
  2. tulisannya keren" mas, bersyukur bs jd pembaca di journal ini
    keep posting!

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...