Monday, 14 December 2015

Perebutan tahta Eiger, dan kemenangan sejati Tenzing Norgay




Ketika perebutan tahta puncak Eiger berlangsung sekitar 90 tahun yang lalu, saat kecamuk perang dunia masih terngiang ditelinga warga dunia. Berlomba lomba berbagai negara Eropa mengirimkan putera terbaiknya untuk bisa menjadi yang pertama kalinya berada di puncak icon pegunungan Alpen ini. Tim dari Jerman, Austria, Inggris, Italia, Perancis dan beberapa negara lainnya berdatangan ke puncak Eiger, banyak diantara mereka yang gagal, bahkan tidak sedikit juga dari anggota tim tersebut yang pulang tinggal nama. 

Mereka menjadi korban ambisi dan cita cita negaranya, harus bertarung meregang nyawa di sisi utara gunung Eiger yang melegenda. Ada yang terjatuh, tersengat hyphothermia, dihantam guguran batu dingin North Face yang memecahkan kepala, atau pun hanya tergelincir yang kemudian membawa petaka.

Namun korban yang berjatuhan itu tak pernah membuat Eiger sepi peminat, pertarungan terus berlanjut. Para pendaki gunung tetap berlomba untuk bisa menjadi yang ipertama berdiri di puncak tertingginya. Beberapa ekspedisi dengan dukungan dana, publisitas, peralatan terbaik zaman itu tetap datang ke Eiger. 

Eiger menjadi medan tempur yang menarik untuk para pendaki gunung terbaik dunia kala itu.

Tidak kurang dari 64 orang pendaki gunung yang telah menemui kematiannya di gunung Eiger sejak perlombaan tak tertulis ini terjadi pada tahun 1935. Hingga tidak mengherankan salah satu kosakata bahasa Jerman menyebut Eiger North Face sebagai “Mordwand”, kata ini berasal dari nama panggilan seorang pendaki Jerman yang menjadi orang pertama yang tewas dalam climbing expedition untuk menggapai puncak Eiger. 

 
“Mordwand” pada sebagian orang merupakan  sebuah kependekan dari dua kata “ Murder Wall “ atau si tebing pembunuh. Hingga secara lama kelamaan, kata Mordwand berakselerasi menjadi sebuah kata yang mungkin lebih akrab di telinga kita saat ini, Nordwand.

Pertarungan dan perlombaan penggapaian puncak Eiger sedikit berhenti ketika tiga orang pendaki eropa berhasil menjejakkan kaki dipuncaknya pada 11 Agustus 1858. Ketiga orang tersebut adalah pendaki gunung Charless Barrington, dan dua orang guide profesionalnya, Christian Almer dan Peter Bohren.
 
Keberhasilan pendakian Barrington cs ini dikonfirmasi kevalidannya oleh kibaran bendera observatory yang mereka di bagian puncak Eiger sebelah kiri. 

Sama seperti kisah orang pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di gunung Everest, yang mengatakan jika saat itu, sang guide Tenzing Norgay lah yang lebih dulu memiliki kesempatan untuk menjejakkan kakinya di atap dunia itu, namun kemurahan hati yang tak terlupakan dari Tenzing Norgay untuk mempersilahkan Edmund Hillary menjadi yang pertama berdiri di puncak dunia, adalah sebuah kisah epic yang sangat menarik.

Beberapa langkah menjelang titik tertinggi planet bumi itu, Tenzing Norgay berhenti, menunggu langkah Edmund Hillary yang berjalan pelan di belakangnya, setelah tiba dekat kemudian ia berkata kepada Hillary.

“ Itu dia tempat impianmu, puncak yang kau cita citakan, raihlah ia…”

Sebuah kemurahan hati yang spektakuler dari Tenzing Norgay, mengalahkan raksasa ego terbesar dari setiap jiwa mountaineering.

 
Begitulah pula kurang lebih yang terjadi pada first ascent puncak Eiger tahun 1858 tersebut, dengan penuh kejujuran Charless Barringgton mengatakan kepada public selepas mereka berhasil turun dari icon gunung Eropa ini.

“ Dua guide ini ( Christian Almer dan Peter Bohren ) sangat baik kepadaku, menjelang langkah terakhir mereka memberi saya tempat dan kesempatan untuk menjadi yang pertama di puncak gunung Eiger..”

Ini hal yang luar biasa menurut saya, sejarah boleh saja mencatat, orang bisa saja mengingat, bahwa pendaki pertama gunung Everest adalah Edmund Hillary, pendaki pertama puncak Eiger adalah Charless Barrington, namun kemenangan tetap ada pada tiga oran guide mulia itu, Tenzing Norgay untuk Everest, serta Almer & Bohren untuk  Eiger. 

Kemenangan mereka adalah kemenangan yang besar, kemenangan terhadap ego dan keponggahan, dua faktor besar di pegunungan yang sering menjadi penyebab sebuah bencana yang mematikan.


Pertarungan belum berakhir

Setelah terhenti sejenak dengan keberhasilan Barrington cs di puncak Eiger pada tahun 1858, Battle of Eiger North Face kembali memanas sekitar 50 tahun kemudian.

Kali ini pertarungan lebih sulit lagi dari sebelumnya.


Barrington cs memang berhasil mencapai Top of Eiger, tapi itu melalui jalur mudah, west flank atau sisi barat bukanlah tantangan yang sebenarnya dari gunung maut ini. sisi liar sebenarnya dari gunung 3000 meter adalah bagian utaranya, atau yang lebih populer dengan sebutan The North Face.

Siapakah yang berhasil mencapai puncak Eiger dari sisi North Face untuk yang pertama kalinya, drama apa saja yang terjadi dalam pristiwa yang menyertainya..?

Insya Allah di lain kesempatan saya akan kembali menulis catatan yang akan membahas hal ini, khas dengan gaya penulisan www.arcopodojournal.com.

Semoga sahabat bersedia menunggunya…


Salam.

Artikel menarik lainnya :




Deuter Helion 60 
The really travelling pack
DISCOUNT UP TO 40% 
Call and WA :081254355648 / BBM : 7FA908A3 / idline : Arcopodostore







 

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...