Friday, 11 December 2015

Douglas Tompkins, si raja The North Face yang takluk di Patagonia



Journal journal besar petualangan dunia banyak menuliskan berita berkabung saat ini, salah satu pesohor dari salah satu brand dunia petualangan paling populer, The North Face, baru saja meninggal dunia dua hari yang lalu.

Douglas Tompkins, atau sering dipanggil Doug Tompkins, atau juga kadang disebut Douglas Thomson, si founder The North Face meninggal dunia saat mengalami kecelakaan kayak di Patagonia dua hari yang lalu. Saat itu Doug bersama enam orang temannya yang lain sedang mengarungi Danau Lago General Carrera di Bagian selatan Chili.

Diantara enam orang teman berkayak Doug saat itu, dua diantaranya sahabat terdekatnya, yaitu Yvon Chouinard, seorang pendakil legendaries yang juga merupakan founder dari brand pakaian untuk adventure ternama, Patagonia. Satu teman lain yang juga ikut dalam tragedi tersebut adalah Rick Ridgeway, seorang pendaki gunung tangguh yang pernah menjadi orang amerika pertama yang berhasil mendaki puncak K2 pada tahun 1978.

Belum ada kabar pasti dari penyebab kematian salah satu billionaire paling tajir dunia outdoor ini, angkatan laut Chile hanya mengatakan jika kayak yang ditumpangi oleh Doug dan Rick disapu  oleh gelombang yang kemudian membuatnya oleng dan terbalik, yang juga memerangkap Doug didalam air selama beberapa lama.
Keterangan lain datang dari Pedro Salgado, salah seorang petugas medical setempat yang juga ikut memberi keterangan tentang kematian Doug. Menurut Pedro, Doug mengalami Hyphotermia hebat karena terlalu lama  terendam air, nyawanya tidak dapat diselamatkan meskipun ia dibawa secepatnya ke rumah sakit saat itu, hyphothermia adalah penyebab utama kematian Doug, begitu papar Pedro.

Belum ada keterangan resmi dari pihat yang sungguh sungguh memiliki otoritas dan wewenang prihal penyebab kematian Doug Tompkins ini, si raja The North Face yang takluk dan tewas dipelukan danau General Carrera, Patagonia.


Update  from Alpinis

Sebuah kabar yang cukup rinci tentang pristiwa kematian si raja The North Face di Lago General Carrera, Patagonia ini datang dari sebuah journal outdoor terkemuka dunia, Alpinis Magazine.

Dalam sebuah artikel update  di alpinis journal, kronologi dari kematian sang billionaire ini diceritakan kurang lebih sebagai berikut.

Pada tanggal 8 Desember hari Selasa itu, Doug si founder The North Face dan brand Esprit ini sedang paddling bersama teman dekatnya Rick Ridgeway, yang juga berprofesi sebagai Vice President di Patagonia, yang sebelumnya juga kita tahu bahwa Rick adalah salah satu anggota dari team Amerika yang berhasil mendaki puncak K2 pada tahun 1978. 


Sementara itu rekan mereka yang lain, Jib Ellison, guide sungai professional dan juga founder dari brand outdoor Blue Skye, Weston Boyles, founder dari brand Rios to River yang juga aktif berperan dalam kegiatan konservasi di Patagonia Range, dan Lorenzo Alvares, pemilik dari sebuah agen perjalanan outdoor ternama di Chile, Bio Bio Expeditions.
 
Kelima orang tersebut pada saat sebelum tragedi terjadi sedang asyik berkayak di danau General Carrera, sementara salah satu sahabat dekat Doug yang lain, Yvon Chouinard, founder dari brand clothing Patagonia dan juga dikenal sebagai salah satu pendaki ulung sedang memancing tidak jauh dari tempat kelima orang tersebut berkayak.

Lago General Carrera, tempat dimana Douglas Tompkins mengalami musibah yang mengakhiri hidupnya

Sekitar jam 11 siang, tiba tiba sebuah angin kencang dan gelombang setinggi 3 meteran menyapu areal itu, membalikkan kayak yang ditumpangi Tompkins dan Ridgeway, kemudian menyeret Rick dan Doug ke salah satu tempat yang cukup berbahaya di region Lago General Carrera, yang sering disebut sebagai Avelllano Sector.

Keterangan lebih lanjut menceritakan jika Doug dan Rick terlempar cukup jauh dari boat mereka yang terbalik, air dingin dari danau Lago General Carrera seakan membuat beku seketika tubuh mereka yang sudah tidak muda lagi itu. Rick dan Doug berusaha berenang menuju tepi, namun gelombang dan pusaran angin kencang membuat Jib Ellison dan teman mereka yang lain yang berusaha menyelamatkan sempat terhalang. 


Belakangan Ridgeway mengatakan, jika sebelumnya ia tak percaya akan selamat saat mencoba berenang menuju tepi, gelombang tersebut menyapu dengan ganas di atas kepalanya. Rick berada dalam air dingin Lago Carrera hampir satu jam lebih.

Pada bagian yang lain, Doug Tompkins dibantu oleh Weston Boyles menuju tepi dengan single person kayaknya, tidak lama kemudian helicopter bantuan datang membawa dua orang korban tersebut menuju Coyhaique Regional Hospital, namun hyphothermia parah yang dialami oleh Doug membuat ia tidak mampu diselamatkan, meskipun tubuhnya tampak tidak ada bekas luka atau cidera. Boyles mengatakan jika Doug “terguncang” cukup parah.

Doug Tompkins meninggal saat mendapatkan penanganan intensive dari paramedic ICU di Coyhaique Regional Hospital, terombang ambing dalam danau beku Lago Carrera membuat pertahanan tubuh Doug jebol dihantam hyphothermia, dan ia pun tewas. 

Sang maestro yang juga seorang philanthropist ini pun menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan kegiatan dan daerah yang sangat dicintainya, Kayaking di Patagonia.


Billionaire yang hanya seorang tamatan SMA

Doug Tompkins meninggal pada usia 72 tahun, namun apa yang ia lakukan pada masa hidupnya adalah sesuatu yang sangat spektakuler, mungkin kita akan dapat belajar banyak darinya.

Di San Fransisco, pada tahun 1966 Doug mendirikan sebuah prusahaan yang berkonsentrasi memproduksi dan mebuat perlengkapan outdoor, yang dikemudian hari menjadi brand paling populer dalam dunia petualangan sejagad raya, The North Face.

 
The North Face tidak lama ditangani oleh Doug, sekitar dua tahun kemudian, atau sekitar 1968, Doug menjual bisnis fenomenalnya ini dengan harga yang cukup murah jika dipikir saat ini, hanya $50.000. Kemudian bersama isteri pertamanya, Susie Tompkisn Buell, Doug membangun sebuah produk yang segmentasi pasarnya berbeda jauh dengan bisnis ia sebelumnya. 

Jika ia sebelumnya ia menyasar para petualang dan aktivis outdoor dengan The North Facenya, maka kali ini, Doug menciptakan produk dan brand Esprit yang ditujukan untuk kalangan para kaum hawa dengan interest belanja atau shopaholicnya yang tinggi, Esprit tumbuh menjadi perusahaan raksasa dengan pelanggan menengah ke atas.

Setelah Esprit tumbuh menjadi bisnis besar dan prusahaan terkenal yang mendistribusikan produknya hampir ke 50 negara di dunia, Doug kembali menjual kepemilikan sahamnya di Esprit ini dengan nilai mencapai jutaan dolar.

Pada tahun 1989, Doug bersama isterinya yang kedua Kristine Mcdivett Tompkins, yang juga menjabat sebagai CEO brand Patagonia dan partner Doug dalam konservasi di Patagonia selama 20 tahun, memutuskan pindah ke Patagonia Range di Chile, dan membeli lahan liar seluas hampir 2,2 juta hektar yang digunakan untuk kegiatan konservasi dan perlindungan ecology, yang kemudian menjadi lahan pribadi untuk konservasi terbesar di dunia. 

Apa yang Doug lakukan bahkan lebih besar dari apa yang salah satu millionaire legendaries dunia pernah lakukan, Rockefeller yang juga pernah membeli lahan luas di Wyoming yang juga ia gunakan menjadi private landnya untuk tujuan konservasi.

Doug hanyalah seorang anak muda drop out dari salah satu SMA di kota Conneccticut, ia lahir di Ohio, dan tumbuh besar di Milbrook, kemudian mulai membangun bisnis di San Francisco.

Douglas Tompkins adalah real petualang yang berjiwa enterpreneuer sejati
 
Apa yang ada dalam diri Doug adalah kombinasi yang sangat ideal antara seorang petualang, pendaki gunung, pengusaha, entrepreneur, dan juga jiwa philanthropist. Apa yang ia lakukan dengan brand sekelas  The North Face dan Esprit yang menjadi trade mark dunia petualangan dan women fashion tentu mejadi pelajaran yang sangat berharga bagi setiap orang yang tertarik dengan dunia wirausaha. Sedangkan apa yang  Doug lakukan di Chile dengan membeli dan membangun konservasi ecology di Patagonia Range merupakan rule model bagi setiap orang yang mengaku pecinta alam dan ingin melakukan sesuatu yang lebih banyak, dan lebih besar dalam kegiatan pelestarian.

Sukses membangun Esprit, The North Face, Patagonia Company sebagai brand besar dunia, juga membangun Patagonia National Park, Pumalin Park, yang benar benar bebas dari kegiatan ilegallogging, pertambangan, dan aktifitas merusak lingkungan yang lain, tidak membuat Doug menjadi banyak berubah, ia adalah karakter yang unik, yang senantiasa kembali kepada akar darimana ia terbentuk, seorang ekplorer dan juga petualang, dalam usia yang sudah tidak muda lagi, Doug masih sering melakukan petualangan yang sebenarnya cukup menguras tenaga, dan juga waktu.


Selama lebih dari 45 tahunan Doug menjadi outdoorman sejati mulai dari mendaki gunung, ski racers, kayak, hingga sekedar memancing atau hiking di seputaran Patagonia Range. 

Mungkin salah satu rekam dari perjananan outdoor sang billionaire outdoor ini adalah apa yang terkenal dengan nama “ Funhog Expeditions” sebuah ekspedisi yang berlangsung hampir enam bulan lamanya, yang goal mereka salah satunya adalah memuncaki salah satu gunung tertinggi di wilayah Patagonia, Fitzroy Peak. Pendakian dan pemanjatan ini sukses dilakukan dari salah satu jalur baru yang mereka buat dari sisi barat daya.

Bersama Kristine Mcdivett, sang isteri yang sekaligus menjabat CEO Patagonia

Tiga bintang D yang menghilang.

Salah satu kematian petualangan legendaries lainnya dalam tahun ini adalah kematian Dean Potter beberapa bulan yang lalu yang tewas dalam aksi free base bersama seorang rekannya di tebing Yosemite. Dean juga adalah salah satu tokoh petualang yang dikenal pioneer dalam hal mengekplorasi kemampuan bertualang dan mengadu adrenaline.

Melalui aksi Dean Potterlah dikenal istilah hight altitude slackline, climbing free solo, free base, dan lain sebagainya. Dean begitu dihormati dalam kancah adventure dunia, bintang rock climbing yang populer dengan aksi yang hanya bisa dilakukan oleh dirinya sendiri. Rekor rekor spektakuler dibuat oleh Dean dalam karir profesionalnya, dan ya, iya juga merupakan salah satu atlete andalan atau brand ambassadornya The North Face, namanya berkibar dengan gagah di seantero jagad outdoor dunia, meskipun hal itu tidak pernah mampu mengubah Dean dari sifatnya yang ngayomi dan rendah hati.

Kemudian Dean dikabarkan tewas di Yosemite, dalam sebuah petualangan yang selama ini membesarkan namanya.

Tiga bintang yang telah pulang di tahun 2015


Setelah Dean Potter, kabar duka juga datang dari kancah mountaineering dunia, Dick Bass yang terkenal sebagai pencetus ide seven summit juga meninggal dunia tak lama setelah itu.

Dick Bass memang tidak tewas dalam tragedi seperti yang dialami oleh Dean Potter beberapa waktu lalu, maupun seperti yang menimpa Douglas Tompkins belakangan ini. 

Namun kematian Dick Bass cukup membuat bela sungkawa jagad mountainneering dunia, meskipun teori seven summit yang dilontarkan oleh Bass ditentang dan kalah pamor dengan apa yang dicetuskan oleh Patt Morrow dan Reinhold Messner, karena Bass memasukkan puncak Australia sebagai summit Austronesia, bukannya Cartenz Pyramid yang ada di Indonesia. 

Namun bagaimanapun juga,  Dick Bass adalah salah satu pioneer dunia mountaineering dan pemilik ide grand slam seven summit, dunia outdoor dan adventure tetap menghormatinya, kepergiannya tetap meninggalkan duka, dan Bass memang pantas memperoleh hal itu.

Dan kemarin hari Rabu, tanggal 08 Desember 2015, mungkin nama besar Douglas Tompkins yang akan membuat genap tiga orang bintang yang berpulang pada tahun 2015 ini.

Douglas Tompkins, Dick Bass, dan Dean Potter adalah tiga bintang, tiga maestro dunia outdoor dan petualangan, dan mereka semua berpulang di tahun ini.

Siapun pun diri kita, apa pun profesi kita, dan meski pun kita jauh dibanding mereka baik dari sisi prestasi maupun jam terbang, kita semua juga punya waktu untuk pulang. 

Dan pertanyaannya…, 

Kapan..?




Salam.

Artikel menarik lainnya 

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...