Friday, 20 November 2015

Good news and bad news ketika demam untuk mendaki gunung berangsur sembuh



Sebelum kita berbicar lebih banyak tentang topik kita yang satu ini, saya ingin memohon maaf kepada sahabat pembaca semua, karena sudah hampir satu setengah bulan ini blog sederhana yang biasanya update posting terbaru setiap hari ini, tidak bisa saya perbaharui setiap harinya, karena situasi dan kesibukan saya yang agak susah memperoleh waktu yang pas untuk menulis.

Di antaranya banyak pikiran dan hal yang ingin saya bagi dalam blog yang sederhana ini, ada satu hal yang mungkin akan menjadi suatu topik yang menyenangkan untuk dibahas. Yaitu masih tentang fenomena demam mendaki gunung dan bertualang, namun bukan dibahas dari dampaknya, banyak gear yang bersliweran, maraknya foto foto selfie di puncak gunung atau dihutan, ataupun menjamurnya istilah adventure untuk suatu kegiatan yang sebenarnya hanya sebuah leyeh leyeh belaka.

Kita tidak akan ngobrol itu semua kali ini,

Tetapi kita akan berbicara mengenai seberapa lama dan masihkah akan awet demam fenomena mendaki gunung dan bertualang di alam bebas ini…?

Tulisan saya ini nanti bisa jadi ada benarnya, bisa juga malah salah sama sekali. Dan itu tidak terlalu penting untuk dipermasalahkan, saya hanya akan mencoba membahas hal ini dari sudut pandang saya pribadi, sebagai sosok yang juga gemar mendaki gunung sejak lama.

Jadi jika dalam tulisan ini nanti, terdapat pendapat atau gagasan saya yang tidak disetujui, that’s no big deal, it’s just my opinion.


Kita tahu sendiri, wabah demam mendaki gunung dan bertualang di alam bebas ini, sebagai pemulainya mungkin adalah karena kesuksesan film 5cm, sebuah kisah fiksi romantic yang diangkat ke layar lebar, berdasarkan novel bestseller karya Donnie Dirgantoro, yang memang seperti kita tahu, bahwa film ini banyak mengambil setting di kawasan surganya gunung Semeru yang begitu indah dan mempesona.

Hingga sodoran panorama yang begitu indah ke hadapan banyak anak muda Indonesia yang selama ini seolah tertidur dengan gaya hidup modern perkotaan, menjadi sedikit terusik untuk ikut menjelajah dan melihat sendiri panorama yang sebenarnya, untuk tidak lagi sekedar menyaksikannya hanya dari layar kaca dan layar bioskop saja.

Dampak dari semua ini tentu saja sangat luar biasa, ketika kita menyaksikan banyak orang berbondong bondong mendatangi gunung yang selama ini hanya dicumbui oleh hanya beberapa gelintir orang saja. Puncak puncak tinggi di nusantara yang selama ini sepi, hening, dan lengang, berubah berisik luar biasa laksana pasar malam.

Dampak positif dari itu semua tentu saja ada, mulai dari meningkatnya penjualan produk outdoor dan adventure, membanjirnya agent agent perjalanan yang mendadak ada, serta menjadi berdenyutnya perekonomian kaki gunung bagi masyarakat yang mendiaminya. Tetapi dibalik sisi positif tentu sisi negative juga pasti ada, mulai dari pencemaran lingkungan, sampah, hingga pupusnya kesakralan sebuah perjalananan pendakian gunung, karena ramai dan murahnya kesan sebuah puncak gunung.

Dan dengan segala macam moda perubahan seperti sekarang ini, sampai kapankah trend adventure dan naik gunung akan berakhir, atau akan menemui titik jenuhnya..?


Saya adalah salah satu orang yang mungkin pesimis dengan euphoria ini, karena saya sendiri berkeyakinan bahwa mabuk dan demam mendaki gunung ini, tidak lama lagi sepertinya akan segera berakhir, dan prediksi saya fase ini hanya akan menjumpai finishnya pada kurun waktu satu atau dua tahun lagi. 

Pada sekitar satu atau dua tahun lagi, Insya Allah kita akan kembali menemukan alam alam yang kembali sepi, gunung gunung yang kembali lengang, dan lembah lembah yang akan kembali dalam keasrian dan kesendiriannya, hanya akan tersisa sang pecinta alam dan petualang sejati yang akan tetap bertahan untuk terus menjelajahi tapak tapak petualangan dalam rimba dan ketinggian. Orang orang yang selama ini hanya ikut arus dalam kegiatan petualangan dan pendakiannya, secara perlahan satu demi satu akan mulai merasa jenuh, bosan, dan kehilangan tantangan dan semangat untuk tetap menjadi penjelajah alam.

Mengapa saya bisa berpikiran seperti ini, karena saya percaya bahwa sebuah euphoria tentu memiliki awal dan akhir, memiliki fase permulaan, klimaks, dan akhirnya fase penurunan. Dan seperti kita tahu sendiri bahwa, euphoria mendaki gunung saya rasa telah menurun dari fase klimaksnya saat ini, antusiasme, ghirah, dan kesengsem seseorang dalam memuncaki rimba rimba dan pegunungan tinggi, telah turun dari puncaknya beberapa waktu sebelumnya.

Salah satu indikasi yang mungkin gampang terbaca dari penurunan antusiasme ini adalah dengan berkurangnya animo masyarakat terhadap diskon dan sale besar besaran dari beberapa brand penunjang outdoor.

Saya adalah salah penjual, dropshipper, reseller, juga pemilik toko yang menjual peralatan tersebut, dan saya dapat merasakan dengan jelas bahwa animo masyarakat dalam menyambut program diskon dari sebuah brand outdoor ternama mengalami penurunan yang cukup terasa dibandingkan sebelumnya.


Selain indikasi tersebut, hal ini dapat terbaca juga dengan berkuranganya kuantitas postingan poto, artikel, dan hal hal yang berhubungan dengan dunia adventure di sosial media akhir akhir ini. orang orang yang biasanya memposting hal hal yang berbau petualangan selama beberapa bulan terakhir, mulai merasa jenuh dan bosan. Dan mereka mulai ke kehidupan mereka yang sebelumnya, menjadi lebih normal dan alamiah, tidak lagi merasa terusik untuk terus terusan memposting outdoor activity mereka, yang kadang terkesan dipaksakan.

Ketika demam mendaki gunung berangsur pulih, hanya orang orang dengan jiwa pendaki sejati yang tetap akan ke gunung

Jika perkiraan saya ini benar, maka akan ada dua kabar, good news dan juga sekaligus bad news sehubungan dengan ini.

Bad newsnya adalah minat masyarakat terhadap dunia aktifitas alam terbuka akan menyurut, bisnis travelling dan agent perjalanan akan kembali sepi peminat, pebisnis perlengkapan outdoor akan kembali menemui pasar yang stabil, tidak meledak ledak seperti saat ini, dan perekonomian masyarakat kaki gunung yang mungkin selama ini terimbas oleh ramainya kunjungan para pendaki akan kembali sepi dankembali biasa seperti yang dulu lagi.

Dan good newsnya adalah gunung kembali sepi, para petualang dan pecumbu alam raya yang sejati kembali mendapatkan rumahnya kembali, sampah mulai berkurang, pasar mendadak di puncak puncak gunung akan hilang, dan ini adalah kabar bagus untuk para peziarah ketinggian yang memang mendambakan suasana yang lengang di ketinggian. 

Hiruk pikuk yang selama ini mungkin saja membuat bising akan segera sirna, dan semboyan “ tempat mainku kembali lagi..”, akan banyak mengalun dalam dendangan para penempuh rimba tersebut.

Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan hal ini, perubahan adalah suatu yang mesti terjadi.

Sebagai pedagang perlengkapan bertualang saya ikut sedih karena tentu saja minat masyarakat akan berkurang terhadap peralatan outdoor seiring menurunnya euphoria mendaki yang mewabah selama ini.

Namun disisi yang lain, saya juga senang dengan kembali asri dan lengangnya pegunungan, tempat main kami kembali lagi memang benar benar menjadi harapan banyak orang, dan saya mungkin termasuk di dalamnya.

Nah, bagaimana menurut kawan kawan, apakah euphoria mendaki gunung dan bertualang ini akan bertahan lama, atau sependapat dengan saya, atau malah memiliki pandangan lain..?



Salam.

Baca juga :

5 comments:

  1. Ya.. Sebuah trend akan saling berganti, sebelum trend kegiatan ruang terbuka booming, disebabkan dampak dr bosan trend fashion local brand yg biasa disebut clothingan atau distro.. Dengan pemantik film 5cm.. Perkiraan 3tahun kedepan trend ini bakal tergantikan, hanya menyisakan fashion style..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ada mas Indra juga ikutan memberi pendapat, terimakasih mas.

      Semoga dagangan kita tetap banyak yang sold out mas, sebelum trend ini bener benar mulai menurun di waktu mendatang...

      Delete
  2. Perfect ....super sekali mas Arcopodo, saya dr manajemen Wani adventure, pemilik toko outdoor dan penggiat adventure Pekalongan ikut bangga namun juga sedih ketika melihat pendaki2 pemula2 yg msh mengabaikan sampah dan prosedur pendakian yg notabene untuk keselamatan mereka jg, dg menurunnya animo mereka untuk mendaki skrg menjadikan alam kembali asri namun sebagai pebisnis kita mungkin perlu inovasi atau mungkin segmennya bergeser sedikit ke kebutuhan pariwisata outdoor semacam kebutuhan outbond, dll, dan sbgi penggiat tugas kita untuk mendidik, mengarahkan mgkn bukan kita tapi dg mendatangkan mentor2 berpengalaman agar mereka menikmati alam ini dg ilmu dan keahlian lebih baik .Saya kok masih optimis , mendaki gunung dan berpetualang masih menjadi pilihan wisata dan hobi unik setelah kita semua bosan dg gaya hidup hedonisme dan bisingnya kota, Semoga kita semua mendapat efek positifnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih mas Wani Adventure sudah ikut berbagi..

      Iya mas, bener banget. dalam bisnis bidang ini kita mungkin butuh lebih banyak inovasi dan kreatifitas,
      Dan ya semoga kesadaran para pendaki gunung yang semakin menjamur ini juga meningkat mas, untuk tetap memiliki kepedulian terhadap lingkungan disampin kegiatan petualangan mereka.

      Terimakasih mas.

      Delete
  3. memang tidak kita pungkiri, kegiatan mendaki gunung semakin diminati dan tidak mampu lagi terbendung.
    Kondisi aslam kita begitu menyedihkan, sampah dimana - dimana. Baik teman - teman penikmat dan Travel Agent pendakian sama - sama berlomba tanpa memikirkan dampak negatif kegiatan mereka.

    Semoga teman - teman pendaki mau terus belajar untuk memahami alam kita.

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...