Wednesday, 9 September 2015

Lima musibah besar yang paling terkenal di Everest : Top five deadly disaster on Everest



What is the most interesting mountain in the world..?

Gunung apa yang memiliki daya pikat paling besar di dunia…?

Mungkin sebagian besar orang akan menyebut, That’s, the tallest mountain in world, Mount Everest.

Meskipun juga, akan banyak orang lain yang akan menyebut nama nama gunung lain sebagai gunung yang paling menarik baginya, namun kali ini kita berbicara tentang sebuah gunung yang paling menarik di dunia, untuk setiap orang, untuk ia kunjungi, dan lebih daripada itu, mungkin juga untuk ia coba daki hingga ke puncaknya.

Everest adalah sebuah ikon gunung dunia, berdiri di atas 8850 Mdpl, atau 29.029 ft, dengan segala cerita dan kisah yang telah terjadi dalam usaha pencapaian puncaknya, gunung ini selalu menarik perhatian banyak pendaki gunung, ataupun turis lainnya. Meskpun dalam usaha pencapaian gunung ini, Everest telah banyak mencatatkan tragedi kematian untuk para pendakinya, namun daya tarik Everest tidak pernah surut, malah kian menjadi dari hari ke hari.

Saking ramainya para pendaki yang ingin mendaki puncak dunia ini, suatu ketika saya pernah membaca si dewa  gunung dunia, Reinhold Messner, pernah mengungkapkan kekhawatirannya begini..

“… Saya melihat Everest kian ramai dari hari ke hari, gunung ini seolah menjadi Kindergarden, alias taman bermain anak anak, di mana mana orang datang, berdesakan, mengantri menuju puncaknya, tanpa benar benar memperdulikan keselamatan mereka sendiri…”

Meskipun teknologi equipment, komunikasi, paramedic, sudah maju sedemikian pesat, hingga sudah dapat mengurangi tingkat kematian di gunung Everest. Namun, kekhawatiran akan musibah karena faktor lain yang juga mengancam keselamatan pendaki tetap menjadi perhatian banyak orang.


Kali ini, kita akan bercerita tentang lima musibah paling terkenal yang pernah terjadi di gunung Everest, atau top five disaster on Everest. Musibah dan kejadian yang kita ceritakan ini nanti, telah lama menjadi topik pembicaraan, bahkan di antaranya terus menggema hingga saat ini. 

Baiklah, apa sajakah musibah paling terkenal di gunung tertinggi di bumi itu, berikut kita akan coba menrangkumnya dalam top five deadly disaster on Everest.

     1.       Hilangnya George Mallory dan Irvine Andrew.

Dalam tajuk berita, kebanyakan di sebut nama Mallory dan Irvine saja biasanya, dua orang pendaki gunung yang hilang di gunung Everest, yang bahkan berkembang rumornya, jika mereka adalah dua pendaki pertama yang telah berhasil menjejakkan kakinya di puncak Everest, bukan Sir Edmund Hillary dan Tenzing Norgay, seperti yang biasa kita tahu.

Kisah ini terjadi pada tahun 1924, sebuah ekspedisi ketiga bagi Mallory untuk mencoba memuncaki Everest, dan menjadi orang pertama di dunia yang bisa melakukannya, ekspedisi ini sangat menjanjikan mengingat Mallory dan rekannya Irvine Andrew, adalah dua orang pendaki berpengalaman, yang juga expert dalam hal tabung oksigen, yang penggunaannya dalam pendakian gunung pada masa itu, masih merupakan sebuah teknologi yang baru.

Mallory dan Irvine memilih jalur pendakiannya melalui sisi utara Everest, pernah terdengar juga kabar yang mengatakan, bahwa sebelum memulai pendakian, Mallory pernah mengatakan jika pada pendakian kali ini ia tidak akan kembali lagi, namun itu hanya di anggap joke oleh sebagian besar orang, dan pendakian pun tetap berlanjut.

Mallory dan Irvine mendaki hingga jauh, terkahir binocular memperlihatkan mereka sedang mandaki puncak Everest, namun sesaat kemudian kabut menghadang, menutupi seluruh pemandangan. Dan saat kabut menghilang, Mallory dan Irvine sudah tidak terlihat lagi, mereka seolah hilang di telan gunung Everest.


Hingga pada tahun 1999, jenazah Mallory ditemukan terbaring di atas tebing sisi utara, dengan beberapa tulang patah, yang menandakan ia telah terjatuh sebelum akhirnya tewas dan membeku di Everest. Rekannya, Irvine hingga saat ini tidak ditemukan lagi, dan yang paling menggelitik rasa keingin tahuan adalah, keberadaan kamera Kodak yang mereka bawa, karena kemungkinan besar kamera akan dapat mengungkapkan apakah Mallory dan Irvine berhasil tiba di puncak di Everest atau tidak, sebelum mereka menemui ajalnya dan menghilang selama puluhan tahun.

Ada sebagian orang yang  memiliki keyakinan, bahwa Mallory dan Irvine success reach the top of Everest before they disappear. Namun pendapat ini sangat sedikit, karena tidak adanya bukti yang konkret, hanya berdasarkan teori teori semata saja.

Hingga saat ini, Edmund Hillary dan Tenzing masih di nobatkan sebagai orang pertama yang berhasil mencapai puncak Everest, meskipun nama Irvine dan Mallory masih merupakan sebuah misteri besar digunung Everest.

George Mallory & Irvine Andrew


     2.       Tragedy Icefall

Pada pristiwa ini ada 5 orang Sherpa yang hilang, disapu oleh reruntuhan es yang mengamuk.

Kisah ini terjadi pada tahun 1970, ketika hampir 150 orang pendaki yang berniat mendaki ke Everest ditempatkan melalui sisi selatan, termasuk di antaranya adalah ekspedisi ski dari Jepang yang membawa bintangnya, Yuichiro Miura.

Karena melalu sisi selatan, tentu mereka harus melewati salah satu rute paling mematikan di Everest, yaitu Khumbu Icefall, sebuah tempat berbahaya yang topografinya sering berubah ubah sepanjang waktu.


Pada tanggal 5 April tahun 1970 adalah sebuah hari yang naas di Everest, saat tim ski jepang melewati Khumbu Icefall, sebuah longsoran menyapu dengan dahsyat, merontokkan segala yang dilewatinya, termasuk lima orang Sherpa yang hilang di hantam longsoran. Pristiwa ini adalah salah satu yang terburuk menimpa para Sherpa gunung Everest, sejak ekspedisi Inggris tahun 1922 yang juga memakan korban dari pihak Sherpa. Dan kejadian ini pula menjadi sebuah penegasan kepada dunia, betapa berbahayanya pekerjaan yang di lakukan seorang Sherpa.

A climber crossing crevasse by ladder in Khumbu Icefall


     3.       Kematian David Sharp yang kontroversial

Kematian seorang pendaki gunung solo dari Inggris bernama David Sharp ini, adalah salah satu kematian yang kontroversial dan mendapat banyak perhatian dari dunia mountaineering. Lagi pula buntut pristiwa ini pun berkepanjangan, masih banyak di bicarakan hingga sekarang.

David Sharp adalah seorang pendaki berkebangsaan Inggris, ia mendaki gunung Everest sendirian, dengan budget yang seadanya, perlengkapan yang ia gunakan termasuk kategori “biasa” untuk gunung sekelas Everest, hanya backpacknya saja, keluaran brand Berghaus yang dinilai paling mahal dari sisi harga yang ia gunakan saat itu.

Di sebuah ceruk di atas pungungan sisi timur laut Everest, hampir 40 orang melewati seorang pedaki yang sedang sekarat, namun di antara banyak orang tersebut, hanya beberapa saja yang berusaha menolongnya.

Dan selama beberapa hari tidak ada juga tim yang melaporkan kehilangan anggotanya, sehingga kejadian tersebut tidak terlalu di besarkan, dan di anggap sebagai sebuah musibah yang biasa terjadi pada pendakian di Everest.

Namun kemudian hal ini menjadi ramai, setelah identitas pendaki yang meninggal di ketahui, ia adalah David Sharp, salah satu pendaki terkenal dari Inggris.

Kejadian ini semakin menarik perhatian publik mountaineering dunia, karena pristiwa itu juga berbarengan dengan penyelamatan terhadap seorang mountaineer Australia bernama Lincoln Hall, yang juga mengalami musibah di bawah puncak Everest. Banyak pihak yang mengatakan bahwa moral untuk membantu sesama pendaki telah dikalahkan oleh keinginan memperoleh materi yang lebih banyak, karena memang Lincoln Hall adalah salah satu anggota ekspedisi yang memiliki budget tinggi, sedangkan David Sharp adalah pendaki solo dengan budget pas-pasan.


Mengenai musibah yang menimpa Lincoln Hall, silahkan baca : Lima kisah survival di alam bebas yang paling terkenal di dunia.

Pada pristiwa kematian Sharp ini, bahkan Edmund Hillary angkat bicara dengan mengatakan…
“.. saya lebih baik tidak memuncaki Everest dari dulu, jika mengetahui bahwa orang orang selanjutnya lebih mementingkan puncak, daripada menolong saudara mereka yang sekarat di gunung ini ( Everest )…”.

Namun di lain sisi, ada juga sebuah pendapat yang mengatakan, bahwa misi penyelamatan di Everest bukanlah perkara gampang, di butuhkan kemampuan dan skill yang tidak sembarangan untuk dapat melakukan hal itu, tentu adalah tindakan yang tidak bijaksana dari pendaki gunung, jika menyadari dirinya tidak memiliki kemampuan dan skill yang memadai, namun memaksakan diri untuk menolong orang lain, karena bisa saja bukan hanya korban pertama yang mesti di selamatkan, melainkan ia pun bisa menjadi korban berikutnya yang juga mesti diselamatkan lagi.

Adu pendapat karena kematian Sharp ini terus berlanjut, bahkan conclusion nya belum bisa disepakati hingga sekarang.

David Sharp

     4.       North Col Avalanche

Pristiwa ini juga membawa nama George Mallory di dalamnya.

Saat itu, pada tanggal 7 Juni 1922, Mallory bersama tim espedisinya, 2 orang ingris, dan 14 orang Sherpa sedang bergerak lamban dalam kubangan salju sedalam pinggang menuju North Col yang berada di ketinggian 23.000 ft.

Tengah melangkah dalam pergerakan yang sangat lambat itu, tiba tiba mereka mendengar suara gemuruh yang dahsyat, dan dalam hitungan detik sebuah longsoran besar tengah menuju ke arah mereka, dan menyapu semua yang ada di depannya. 9 orang Sherpa terhempas di menuju crevasse atau celah es yang dalam, namun 2 orang di antara mereka masih bisa selamat, sedangkan tujuh lainnya menghilang dalam timbunan es dan salju yang membeku.

Kejadian tragis ini sangat memukul Mallory, ia menyalahkan dirinya sendiri karena hal tersebut, dalam salah satu surat untuk isterinya, Mallory pernah menulis.

“.. Tidak ada kewajiban yang mendasar untuk saya lakukan, selain mengambil kehormatan untuk mengurus keluarga orang orang yang telah menemui kematian tersebut, karena mengikuti langkah saya untuk mencapai tempat yang saya inginkan…”.
Medan yang sulit menuju North Col


     5.       Tahun 1996, delapan orang tewas dalam satu hari Di Everest.

Dan ini adalah salah satu musibah yang di anggap paling mematikan dan fenomenal sepanjang sejarah pendakian gunung Everest.

Dalam musibah ini ada 8 orang pendaki yang meninggal, ditambah dengan guide, pemimpin expedisi, dan Sherpa, selama musim pendakian tahun 1996 total ada 12 orang yang tewas. Salah satu hal yang dituding menjadi penyebab musibah besar ini adalah, persaingan yang mulai tidak sehat dalam memperebutkan klien di Everest, juga traffic jam pada puncak, dan sekitar Hillary Step. dan badai tanpa ampun yang meneggelamkan pendaki dalam kebekuan dan kematian.

Nama besar Rob Hall dan juga Scott Fischer menjadi sangat ramai di perbincangkan dalam kejadian ini, Persaingan di antara mereka dalam memperoleh klient untuk mendaki gunung Everest, di nilai oleh beberapa pihak sebagai sebuah persaingan bisnis yang lebih bermotifkan ekonomi dan orientasi uang.
 

Jika kita membaca jurnal jurnal tentang tragedi ini, kita akan banyak menemui, bahwa pembelaan terhadap Rob Hall lebih banyak daripada untuk Scott Fischer, Rob Hall lebih di akui secara profesionalitasnya, kemampuan, dan juga pengalamannya. Sedangkan Scott banyak pihak yang bahkan lebih jauh menjudge, bahwa ia mendaki dan memimpin eksepedisi hanya untuk uang dan popularitas.

Rob sudah 3 kali memuncaki Everest sebelum kejadian maut tersebut, telah memiliki jam terbang yang tinggi dalam dunia mountaineering, penuh kedisplinan, sangat care sekaligus tegas terhadap aturan bagi timnya. Sedangkan Scott, belum pernah memuncaki Everest, dan dari sisi jam terbang juga masih kalah di bawah Rob.

Salah satu hal yang memperkuat judge jika Scott hanya mengejar materi dan popularitas adalah dengan mengundang John Krakauer dalam ekspedisinya, seorang penulis lepas untuk sebuah majalah pendakian ternama masa itu, Outdoor Magazine. Dan Krakauer adalah salah satu orang yang selamat dalam musibah besar itu, bukunya Into thin Air membahas lengkap kejadian tersebut.

Kisah tragis tahun 1996 ini memiliki banyak versi yang berbeda, tergantung dari sudut pandang siapa dan untuk apa kejadian ini dilihat. Banyaknya perspektif ini pun melahirkan banyak teori dan penafsiran yang berbeda pula, dan salah satunya yang mungkin akan kita saksikan beberapa hari lagi. Sebuah cerita tentang tragedi ini telah di filmkan kembali, di bintangi oleh Josh Brolin, Jake Gylenhall, dan Keira Knightly, yang berjudul Everest dan akan di rilis dalam minggu kedua bulan September ini.

Sebelumnya sebuah versi telah terbit sejak lama, berjudul Into Thin Air, dead in Everest, berdasarkan persfektif dari John Krakauer, sang penulis bukunya, dan juga seorang pendaki yang menjadi saksi hidup musibah tersebut.
Kemacetan di Hillary Step


***

Everest adalah salah satu gunung yang mencatat dengan baik musibah yang terjadi di atasnya, dan gunung gunung lain pun demikian, musibah, bencana, tragedi selalu mewarnai dalam setiap usaha pencapaian puncaknya.

Mendaki gunung bukanlah sebuah jenis olahraga yang penuh sorak sorai dan gegap gempita, tidak seperti model olahraga yang lain, yang jika anda cidera, ada ribuan pasang mata menyaksikan, ada tim rescue yang segera bertindak, ada paramedic yang cepat merawat.

Di gunung berbeda, untuk sesuatu yang kita anggap jiwa kita ada di sana, kita akan masuk dalam sebuah dimensi kesunyian. Dan bila saja musibah, atau kematian menjumpai kita di sana, bisa jadi tidak akan ada yang menyaksikan, selain kita, dan gunung itu sendiri.

Dan jika engkau mengatakan kalimat “kembali dalam pelukan gunung”, itulah dia maksudnya, tidak ada yang lain lagi, hanya ada Tuhan, engkau, gunung, dan kematianmu sendiri…



Salam
Please share if you like this article

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...