Sunday, 6 September 2015

Lima kisah survival terbaik di alam bebas : Top five survival story in the wild



Survival atau perjuangan bertahan hidup, atau struggle to stay alive. Adalah sebuah kondisi di mana seorang survivor ( sebutan orang yang melakukan kegiatan survival ) berusaha dengan semaksimal yang ia bisa untuk tetap bertahan hidup, dalam kondisi yang penuh keterbatasan, baik karena faktor lingkungan, kejadian tak terduga, ataupun hal lainnya.

Kita akan mengangkat tema survival pada posting kita kali ini.

Menurut salah satu teman, pengertian survival adalah bukan bagaimana kita bisa makan, namun bagaimana kita bisa tetap bertahan untuk hidup. Jadi ada sebuah perluasaan definisi yang harus kita ketahui tentang survival, yang pada sebagian teman menganggapnya terlampau sempit, hanya pada bagaimana tetap bisa makan dalam kondisi yang sudah di luar prediksi dan rencana awal.

Jika kita menyempitkan pengertian hanya pada bagaimana bisa makan saja, mungkin nanti kita akan mengabaikan pentingnya elemen lain dari sebuah kondisi survival, seperti menjaga mental dan emosi tetap stabil, dan juga mencari cara agar segera keluar dari kondisi tersebut.

Sebagai seorang yang biasa bertualang di alam bebas, kita tentu sudah terbiasa mendengar tentang kata survival, dan mungkin juga sudah memperoleh pelatihan dan pengetahuan yang cukup tentang hal itu. Dan memang sudah semestinya menjadi kecakapan dasar bagi seorang penjelajah, explorer, adventurer, atau seorang yang gemar mendaki gunung, seperti teman teman semua.

Kali ini saya akan mencoba mengulas secara ringan tentang lima kisah bertahan hidup di alam bebas yang paling terkenal di dunia, atau top five survival story in the wild nature.

Hampir semua kisah ini telah populer kita dengar saya yakin, dan hampir semuanya juga pernah di filmkan, sehingga memang kisah ini mempunyai sebuah jalan cerita yang bagus dan memberi banyak pesan sehingga para sineas tertarik untuk memfilmkannya.

Baiklah, ini dia beberapa kisah survival yang menjadi kisah besar dalam dunia petulangan dunia.

1.       Aron Ralston, 127 hours to cut his hand

I think you must be know who is Aron Ralston.

Ya nama Aron Ralston mejadi begitu akrab di telinga banyak orang setelah kisahnya untuk  bertahan hidup di filmkan dalam sebuah film Hollywood yang cukup sukses berjudul 127 hours, yang film ini juga mengangkat nama James Franco sebagai salah satu bintang besar di Hollywood.

Kisah Aron Ralston bermula ketika ia bersepeda dan hiking ke Blue john canyon at southeast Utah, dalam petualangannya itu ia tidak memberitahu siapapun prihal kepergiannya. Setelah bertemu beberapa hiker lain dan sempat berenang bersama dua perempuan cantik di sebuah kolam yang tersembunyi di balik cadas dan keringnya Grand Canyon, Aron seorang diri melanjutkan perjalanannya dengan hiking menyusuri sebuah celah tebing.

Kemudian mimpi buruk terjadi saat ia terpeleset, sebuah batu ikut menggelinding bersamanya dan menjepit lengannya di dinding ngarai sempit itu. Berbagai usaha yang Aron lakukan untuk melepaskan tangannya dari batu tersebut tidak berhasil, hingga Aron terjebak di ngarai tersebut sekitar lima hari. Dan semua perbekalannya telah habis, air minum, makanan, dan semuanya.

Dalam rasa marah, kesal , dan putus asa, Aron mulai  berhalusinasi, sebelum akkhirnya ia mengambil keputusan nekad, to cut his hand by a little mutlitools knife, memotong lengannya sendiri agar bisa lepas.

Dan kemudian Aron pun selamat, dan bisa keluar dari celah tersebut, sebelum akhirnya ditolong oleh beberapa hiker lain yang memanggil bantuan untuknya.

 
Aron Ralston



2.       Christopher Johnson Mccandles, dead in Alaska magic bus

Do you him..?

Ya, if you ever read a book by John Krakauer,  or you ever watch the movie about a young man going to Alaska, burn his money, leave his car,  maybe you will know about him.

John Mccandles atau Alexander Supertramp adalah seorang pemuda pintar dengan tingkat iq yang tinggi, yang memiliki idealisme yang juga tinggi. Ia adalah salah satu sosok anak muda yang merasa kecewa dengan keadaan sosial di sekelilingnya, merasa kecewa dengan segala bentuk kepura puraan hidup hanya untuk mengejar harta dan kekayaan.

Dalam puncak kekecewaannya, setelah tamat kuliah dan memperoleh gelar akademisnya yang memiliki peringkat cum laude, Mccandles malah menghilang, mengembara, guna mencari dirinya yang sesungguhnya.

Ia meninggalkan mobilnya, membakar uang miliknya, dan berjalan kaki melintasi padang luas, menyusuri jalan pedalaman Amerika dengan perasaan merdeka. Untuk bertahan hidup ia pernah bekerja sebagai seorang buruh di ladang gandum, pernah bergabung bersama orang orang gipsy, namun ia tak pernah bertahan lama karena tidak ingin terlalu jauh membuat ikatan sosial dengan orang orang yang dikenalnya.

Kisahnya memang berakhir tragis, Mccandles tewas di Alaska, di dalam sebuah bis tua di tengah pepohonan. Ia memang tidak selamat, he not  survive, but what he did before hi dead, is the great lesson about survival in wilderness.

Ia memang tewas dan menjadi salah satu kisah besar dunia petualangan, namun apa yang ia lakukan di Alaska, seorang diri, alasannya bertualang, adalah sebuah pelajaran yang baik untuk kita tentang survival dan bertahan hidup di alam liar.

Christopher Mccandles


3.       Lincoln Hall, Life after dead on Everest

Lincoln Hall adalah seorang pendaki veteran dari Australia, ia adalah satu anggota dari team Australia yang mendaki puncak Everest pada tahun 1984.

Selain sebagai pendaki gunung, Lincoln juga seorang penulis, total ada tujuh buku yang ia tulis, dan satu buah buku terakhir ia menuturkan bagaimana sebuah ke ajaiban menghampirinya ketika ia bertahan hidup dalam kebekuan punggung gunung Everest di ketinggian 8700 meter.

Tahun 2006, Loincoln mengunjungi Everest lagi, sebenarnya bukan untuk mendaki, namun untuk menemani seorang pendaki muda Australia. Namun sang pendaki malah gagal sebelum benar benar mencoba meraih Everest sehingga entah bagaimana, akhirnya Lincoln memutuskan untuk mendaki puncak yang 20 tahunan lalu pernah juga ia daki.

Namun kali ini berbeda, Lincoln menemui hari naas sekaligus keajaibannya di punggung Timur Laut Everest.

Karena sudah menunjukkan gejala gejala akan tewas, dengan berhalusinasi, tidak dapat menguasai diri, Lincoln ditinggalkan oleh sherpanya, karena sudah tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk menyelamatkannya, memaksa diri untuk menunggu dan menurunkan Lincoln sama saja dengan membunuh diri mereka sendiri, dan itu artinya akan menambah banyak jenazah yang harus di tangisi, jadi para Sherpa itu meninggalkannya.
 

Besoknya seorang pendaki sekaligus guide gunung kelas dunia Daniel Mazur yang berjalan pertama menuju puncak Everest, terkejut saat mendapati Lincoln sedang duduk di punggung gunung mematikan itu, tanpa topi, tanpa sarung tangam, downsuit yang tidak terkancing, tanpa kacamata, tanpa masker oksigen,  dan ia tetap hidup.

Dan Lincoln hanya menyapa Daniel Mazur dan pendaki lainnya dengan berkata

“…I imagine you're surprised to see me here…”

Ya sebuah hal yang luar biasa, melewati di ketinggian mematikan tanpa tenda, matrass, masker oksigen, tanpa sarung tangan, tanpa topi.

Begini kalimat salah satu pendaki dari Inggris Myles Osbourne yang ditulis dalam sebuah journal saat menemuinya.

"…Sitting to our left, about two feet from a 10,000 foot drop, was a man. Not dead, not sleeping, but sitting cross legged, in the process of changing his shirt. He had his down suit unzipped to the waist, his arms out of the sleeves, was wearing no hat, no gloves, no sunglasses, had no oxygen mask, regulator, ice axe, oxygen, no sleeping bag, no mattress, no food nor water bottle. 'I imagine you're surprised to see me here', he said. Now, this was a moment of total disbelief to us all. Here was a gentleman, apparently lucid, who had spent the night without oxygen at 8600m, without proper equipment and barely clothed. And ALIVE..."

Lincoln Hall


4.       Joe Simpson and Simon Yates, cut the rope, but never cut the life.

Untuk filmnya, kisah ini pernah saya ceritakan pada pada postingan yang berjudul lima film pendakian gunung terbaiksepanjang masa.

Kali ini saya akan menceritakannya singkat saja, sebuah cerita yang lebih di titik beratkan pada Joe Simpsonnya. Tentang bagaimana ia bisa bertahan hidup, bagaimana ia bisa pulang ke tenda, bagaimana ia bisa selamat, dan bagaimana ia bisa keluar dari sebuah celah es dalam keadaan sebelah kaki yang patah.

Kisah Joe Simspson dan Simon Yates bermula, ketika mereka memutuskan untuk mendaki sebuah gunung sepi bernama Siula Grande di wilayah Chili, sebuah gunung sepi yang jauh dari hiruk pikuk keramaian dan perhatian dunia mountaineering. Dengan segala kesulitan dan kesukarannya, akhirnya Joe dan Simon berhasil memuncaki Siula Grande sebagai first ascent.

Namun yang menjadi momok kematian adalah perjalanan turun mereka, dalam perjalanan turun ini, sebelah kaki Joe patah karena terjatuh dari sebuah tebing es cukup tinggi, sehingga perjalanan seterusnya ia terpaksa di belay oleh Simon dari atas.

Beberapa proses belay berjalan lancar, namun pada yang ke sekian kalinya, panjang tali untuk membelay sudah tidak mencukupi lagi, sementara dasar tebing  masih belum terlihat  karena tertutup kabut. Joe berusaha maraih bibir tebing, namun tidak bisa, jemarinya terserang radang dingin, bergantung terlalu lama di seutas tali membuatnya kelelahan dan tertidur kelelahan.

Simon yang merasakan tidak ada pergerakan lagi di ujung tali tempat Joe bergantung, menunggu dengan perasaan campur aduk, lelah, takut, cemas, khawatir, dan juga tidak sabar ingin tahu, mengapa Joe sejak tadi tidak bergerak. Setelah menunggu beberapa jam, memberi kode melalu sedikit sentakan tali, namun tidak ada respon sama sekali, rasa lelah, sakit, dan penat membuat Simon mengambil keputusan untuk memotong tali tersebut.

Dan dari sanalah kisah survival Joe yang sebenarnya berawal, sebuah kisah yang telah menjadi legenda dalam dunia mountaineering. 

Joe Simpson


5.       Nando Parrado, we are not cannibal, we just survive.

Mungkin anda pernah membaca sebuah buku yang berjudul Alive, atau Miracle in Andes, yang pada intinya sama, sebuah kisah bertahan hidup dan mencari jalan pulang dalam ganas dan liarnya pegunungan Andes, di Argentina.

Kisah ini mengangkat nama Nando Parrado, seorang atlet rugby yang bersama teamnya berangkat menuju Chili guna mengikuti kompetisi. Di tengah perjalanan musibah melanda mereka, pesawat yang mereka tumpangi, mengalami kecelakaan dan jatuh ke pegunungan andes yang liar, namun untungnya tidak terbakar.

Ada beberapa yang meninggal, terluka parah, atau hanya terluka ringan dalam pristiwa itu. Beberapa korban itu menunggu helicopter rescue mencari mereka, namun sia sia, hampir satu bulan mereka menunggu tidak ada yang datang menjemput mereka. Memang di Uruguay sibuk mencari mereka, namun setelah beberapa kali usaha, dan gagal, beberapa kali pencarian tim penyelamat tidak dapat menemukan mereka, akhirnya pencarian di hentikan, dan pesawat Fuerza Aerea Uruguay yang naas itu dinyatakan hilang.


Dalam keputusasaan dan harapan di selamatkan yang kian hilang, para korban mulai kehabisan makanan, kemudian terpaksa memakan apa saja yang bisa di makan, dan itu termasuk mayat teman teman mereka sendiri, yang membeku di bailk es pegunungan Andes.

Seseorang harus keluar dan memcari bantuan, itulah yang diputuskan. Dan orang tersebut yang berangkat sejauh puluhan kilometer menembus es dan salju, gunung karang dan udara membeku, adalah dua orang, yaitu Nando Parrado dan Roberto Canessa.

Setelah kurang lebih 10 hari perjalanan, akhirnya mereka memasuki wilayah Chili dan bertemu dengan seseorang  bernama Sergio Catalan. Dan pertemuan ini jugalah yang menandai akhir dari kesengsaraan mereka di pegunungan liar Andes.

Akhirnya semua korban yang masih hidup di dalam bangkai pesawat berhasil di selamatkan melalui bantuan helicopter setelah bertahan 73 hari di pegunungan ganas Andes.

Nando Parrado adalah seorang tokoh sentral dalam kisah ini, meskipun ia kehilangan saudaranya,  Susy, dalam musibah tersebut, namun struggle, tekad, motivasi, dan strength mentalnya dalam upaya tetap hidup dan mencari jalan keluar, merupakan sebuah dorongan besar bagi teman temannya untuk tetap bertahan hidup juga.

Nando Parrado & Roberto Canessa


***

Dari dalam negeri juga sebenarnya ada banyak kisah survival yang cukup membuat kita bisa membuka mata, seperti kisah Martunis yang bertahan hidup dalam ombang ambing ombak saat tsunami. Atau kisah dua orang pendaki yang tersesat di pegunungan Argopuro selama kurang lebih seminggu, kemudian berhasil selamat, yang salah satu yang mereka lakukan cara untuk bertahan hidup dengan memakan daging burung merak, serta masih banyak kisah survival yang lainnya.

Mempelajari kisah survival akan membuat kita lebih menghargai hidup, menyadarkan kita betapa berharganya kehidupan yang telah Allah SWT berikan untuk kita.

Ada sebuah ungkapan yang akan saya gunakan dalam menutup postingan ini..

“… semakin kuat sebuah keadaan ingin merebut kehidupan dari kita , maka akan semakin kuat juga kekuatan dan tekad kita untuk mempertahankannya, that’s survival….”



Salam
Please share if you like this article

 

No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...