Wednesday, 16 September 2015

Film Everest 2015, Antara Rob Hall dan John Krakauer, who is right..?



Tadi malam di kota Samarinda, di kota tempat tinggal saya saat ini. Film pendakian gunung yang paling gress tahun ini diputar untuk pertama kalinya di dua mall utama di kota Samarinda, Bigmall dan Samarinda Centrall Plaza.  Terhitung telat juga sih, teman teman di pulau Jawa, utamanya kota Jakarta dan Bandung sudah menikmati film ini lebih dulu beberapa hari yang lalu, namun tidak apa apa, tidak terlampau terlambat banget, dan hitungannya jika diumpamakan makanan, maka film ini masih anget, masih enak untuk dilahap.

Sebenarnya saya adalah tipe orang yang tidak begitu suka menonton film di bioskop. Seumur hidup, baru dua kali saya menonton film di dalam gedung begini, yang kedua, ya menonton film Everest di kota Samarinda ini, dan untuk yang pertama kalinya saya pernah menonton bioskop di kota Jogjakarta, itu saja tidak direncanakan sebelumnya, saat sedang jalan jalan keliling kota Jogja, kakak dan isteri saya mengajak untuk menonton film, dan saya ikut saja. 

Saya masih mengingat dengan jelas film yang saya tonton waktu di kota gudeg itu, judulnya Total Recall, dibintangi oleh actor Colin Farrell. Sebenarnya bukan filmnya yang membuat saya merekam dengan baik moment pertama kali menonton bioskop itu, saya tidak begitu suka film dengan tema teknologi dan science seperti Total Recall. Namun yang membuat saya selalu ingat moment itu adalah, saya sempat tertidur saat menonton film tersebut, isteri dan kakak saya sampai geleng geleng kepala, bagaimana mungkin di tengah gemuruh suara tembakan, perkelahian, dan ledakan, dalam gedung bioskop yang kedap suara tersebut, saya bisa bisanya tertidur, dan pulas lagi.

Namun tadi malam, saya memang sengaja datang ke XXI kota Samarinda ini, karena ingin menyaksikan film Everest, sebuah film yang trailernya telah membanjiri sosial media selama bulan terakhir. Jadi, ini dia, untuk kedua kalinya saya mengunjungi XXI.


***
Dalam hal penggambaran badai yang mengamuk, dahsyatnya longsoran avalanche, mematikannya areal puncak Everest, Hillary Step, South Ridge, East Ridge, film ini menggambarkannya dengan sempurna. Rasa beku dan dingin, frossbite yang menghilangkan jari jari tangan dan kaki, seolah bisa ditularkan film ini kepada penontonnya.

Rob Hall adalah tokoh sentrall dalam film ini, berbagai macam persoalan yang terjadi lebih banyak dilihat dari sudut pandang Rob Hall. Dan karena inspirasi cerita dan kisah film ini merupakan kejadian nyata pada tahun 1996, tentu akan banyak pro kontra yang terjadi dalam menyikapi film ini, karena tentunya akan banyak versi yang mungkin saja, sedikit banyak berbeda dengan yang dituturkan dalam kisah ini.

Sayang sekali saya belum membaca buku The Climb, karya Anatoli Boukreev. Seorang tokoh paling tangguh dalam musibah Everest 1996 itu, yang mampu menyelamatkan tiga orang pendaki sendirian di tengah badai yang mengamuk. Satu satunya perbandingan yang saya miliki, hanya film Into Thin Air yang bukunya ditulis oleh John Krakauer, wartawan Outside Magazine yang juga ikut serta dalam tragedi paling mematikan di Everest itu.

Menurut sebuah sumber, film Everest yang rilis tahun 2015 ini adalah yang paling mendekati kenyataan sesungguhnya. Skenarionya ditulis berdasarkan sudut pandang orang orang Adventure Consultan pimpinan Rob Hall saat itu, berdasarkan gambaran dari orang orang Mountain Madness pimpinan Scott Fischer yang tewas dalam musibah yang sama, juga berdasarkan cerita dari Jan Hall, isteri Rob Hall, serta berdasarkan buku Left for Dead tulisan Beck Weathers yang juga hampir menjemput kematiannya di gunung tertinggi di dunia saat itu.
 

Jadi, sudut pandang film ini tentu lebih komplek, berdasarkan banyak nara sumber, dibandingkan dengan Into Thin Air yang merupakan murni sudut pandang seorang John Krakauer sendiri.

Jadi, who is right.. Adventure Consultant version, or John Krakauer version, Everest 2015 version, or Into Thin Air version..?

I really nothing idea about that’s, about  who is wrong, and who is right, I never yet climb Everest,  but you know, story about Everest, K2, Kangchejunga, Amadablam, Broad Peak, Patagonia, Eiger, North Face, Seven Summits, Fourteen Eight thousanders, and about reach the summit on the top of the world, is a special story, we can’t hold our interest about that things.

Saya sungguh tidak tahu, saya belum pernah mengunjungi Everest, bahkan saya belum pernah mendaki gunung di atas  4000 Mdpl sekalipun, namun, cerita tentang Everest, K2, Seven summits, 14 puncak di atas 8000 mdpl, adalah cerita yang special, kita tak bisa menghentikan untuk membicarakannya, semua itu topik yang menarik untuk semua orang yang gemar menggendong ransel seperti kita.

Harus saya katakan, bahwa dalam film Everest ini. John Krakauer becoming a loser, he become a egoism person. John Krakauer digambarkan sebagai tokoh yang egois, mementingkan diri sendiri, dan tampaknya, tidak banyak yang menyukai kehadiran dirinya pada pendakian Everest tahun 1996 itu.

Salah satu gambaran jelasnya adalah ketika ia mengucapkan sebuah kalimat, saat Rob Hall terjebak di dasar Hillary Step, Ang Dorje yang berusaha menjemput juga tak bisa melanjutkan langkah karena dihantam gemuruh badai, dan Beck Weather juga terperangkap kebutaan di samping tubuh Yazuko Namba yang membeku.

“.. We need our energy to climb down, I don’t interesting to die here…”

“.. Kita membutuhkan semua tenaga kita untuk turun, saya tidak ingin mati di sini…”, itu ucapannya yang menurut saya sebuah kesempurnaan penggambaran tokohnya yang egois dan mementingkan dirinya sendiri.
Moment saat Scott Fischer menyentuh puncak Everest

Lalu ada lagi ada lagi adegan saat, Anatoli Boukreev membangunkan Krakauer untuk mengajak menjemput pendaki yang terjebak badai di atas camp IV. Dan John Krakauer menolaknya dengan alasan ia sudah tidak mampu lagi, dan tidak memiliki tenaga lagi untuk mendaki dan meyelamatkan yang lain.
 

Beck Weathers yang diperankan Josh Brolin mendapat banyak porsi dalam film ini, sesuatu yang tidak terjadi di film Into Thin Air. Namun secara garis besar, masih ada kesamaan antara versi Jonh Karakauer dan Everest 2015 dalam mendeskripsikan sosok Beck Weathers, bagaimana Beck yang tidak bisa melanjutkan pendakian karena penglihatannya yang terserang snowblind, ia menunggu Rob yang membantu Doug Hansen meraih puncaknya, dan berjalan laksana mayat hidup pada pagi harinya menuju kamp empat.

Secara garis besar semuanya sama.

Bedanya, Beck Weathers dalam Everest digambarkan sebagai sosok yang sedikit temperamen, ini tergambar saat ia memaki Rob Hall sewaktu ia hampir jatuh dari ladder ketika menyeberangi sebuah ceruk es di Khumbu Icefall. Dan hal ini tidak ada di Into Thin Air.

Kematian kedelapan pendaki lebih jelas pada film Everest ini, bagaimana  Doug Hansen yang terjatuh saat berusaha memasang ascender dan fix line, kematian Andy “ Harold “ Harris karena keputusannya mendaki kembali untuk menjemput Rob Hall, dan malah berujung dengan kematiannya sendiri. Atau dramatisnya kematian si tokoh utama, Rob Hall setelah memberi nama Sarah Hall untuk puterinya yang masih dalam kandungan Jan Hall, isterinya.

Namun kematian lain yang tidak digambarkan dengan jelas, mungkin adalah kematian Yasuko Namba, pendaki perempuan Jepang yang mendaki Everest untuk menggenapi grand slam Seven Summitnya, dan menurut saya kematian Scott Fischer yang diperankan Jake Gylenhall juga tidak mendapat porsi yang cukup, terakhir ia masih hidup hanya di adegan ketika ia menyuruh Lopsang untuk meminta Anatoli Boukreev menjemputnya, dan ketika Anatoli tiba ia sudah membeku, tidak ada kata kata “ Good Bye my friend…” dari Anatoli saat menemui jasad Scott, seperti apa yang dikisahkan dalam Into Thin Air.

Dalam Everest, Anatoli hanya menutup wajah Scott dengan ranselnya untuk mencegah es dan salju menutupinya.

Dan satu lagi menurut saya yang kurang memuaskan dahaga dalam menyaksikan film Everest ini, yakni nama Ed Viesturs yang juga ikut dijual dalam trailer dan nama pemerannya, Ed Viesturs adalah salah satu pendaki terbaik dari Amerika, memegang rekor sebagai orang Amerika pertama yang berhasil mendaki 14 puncak di atas 8000 mdpl tanpa tabung oksigen. Dan di film ini saya mendengar satu kali saja namanya disebut, saat kekacauan sudah memuncak, dan bantuan dibutuhkan untuk evakuasi para korban dari kengerian bencana Everest, namun sosoknya sendiri tidak ditunjukkan dengan jelas dalam film ini.
 

Berbeda dengan film Vertical Limit, yang dalam sebuah adegan, Ed Viesturs pernah berbicara memberi saran mengenai rencana evakuasi, dan senangnya yang berbicara memang sungguh sungguh Ed Viesturs, bukan diperankan oleh orang lain.

Bagaimanapun juga, nama Ed Viesturs akan menarik minat banyak orang, dan menambah kelas film ini, entah Ed nya benar benar ada di sana atau tidak.

Dua legenda, Anatoli Boukreev & Ed Viesturs

***


Ada banyak hal lain lagi yang ingin saya tulis dalam blog sederhana ini tentang Film Everest 2015, tentang alasan menyentuh hati Doug Hansen, mengapa ia mendaki Everest, tantang kemurahan hati Rob Hall yang memberi diskon padanya. Atau tentang Scott Fischer yang tidak digambarkan seperti journal journal yang banyak membahas musibah ini, jika dalam banyak teori dan analisa, Scott banyak dituding sebagai orang yang minus pengalaman dan tidak disiplin, namun di Everest 2015 ini tampaknya karakternya diselamatkan.
Hanya satu yang kurang lagi dalam kisah kematian di puncak dunia tahun 1996 ini, jika versi John Krakauer telah kita ketahui, versi Adventure Consultant dan Beck Weathers juga baru saja kita saksikan.

Tinggal satu lagi, yang semestinya juga menjadi perhatian para filmmaker Hollywood, yaitu versi Anatoli Boukreev, pendaki yang paling tangguh dan kuat dalam pendakian Everest 1996 saat itu, orang yang pertama meraih puncak pada tanggal 10 Mei tersebut, yang juga menggotong tiga pendaki yang hampir sekarat dari punggung mematikan Everest.
 

Anatoli mungkin adalah tokoh paling tengah di sini, meskipun ia masuk anggota mountain madness pimpinan Scott Fischer, namun kemungkinan ceritanya tidak akan banyak di titik beratkan kepada kepentingan manapun, baik untuk Rob maupun untuk Scott, baik untuk Krakauer, maupun untuk Beck.

Semoga benar benar ada film tentang hal ini di kemudian hari yang mengambil sudut pandang seorang pendaki tangguh dan berjiwa penolong seperti Anatoli Boukreev ini.

Insya Allah saya akan menulis lagi beberapa hal tentang film Everest 2015 ini dalam beberapa hari ke de depan, semoga sahabat tidak bosan membacanya.

Sekali lagi, we really don’t know, who is wrong and who is right.

Apakah Adventure Consultant version, atau John Krakauer version, kita sungguh tidak tahu, dan kita juga tidak ada sama sekali kepentingan di dalamnya. 

Namun, seperti saya katakan tadi, hal itu tidak bisa mencegah ketertarikan kita untuk tetap membicarakannya.




Salam.
Please share and coment if you like this article.

7 comments:

  1. ijin copas yah bang...saya lampirkan sumbernya

    ReplyDelete
  2. Hampir smua jurnalnya saya tidak ketinggalan untuk membacanya..pertama trima ksh buat tulisan yang sangat sarat ilmu dan pengetahuan..next, smoga masnya slalu ada waktu buat nulis...di tunggu yah journal berikutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih untuk apresiasinya mas Tri Karno..

      Aamiin, Insya Allah mas, semoga Allah memberi waktu dan kesempatan untuk menulis lebih banyak.

      Delete
  3. Bang, kalo saya malah penasaran dengan 4 tabung oksigen di jalur selatan, yang isinya kosong atau setengah. Saya juga masih meraba2 tentang ang dorje

    ReplyDelete
  4. Sama,,, kenapa bisa kosong dan ga isi full, secara ini pendakian profesional

    ReplyDelete
  5. Visteur emang aslinya ada disana mas. Dia kalo ngga salah ada di tim Imax yang rencananya mau bikin film tapi akhirnya malah jadi tim penolong.

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...