Saturday, 19 September 2015

Doug Hansen in Everest 2015, Alasan mendaki gunung yang ingin didengar banyak orang



Ketika sedang berkumpul di dalam sebuah tenda induk di EBC ( Everest Base Camp ), dimana semua pendaki berkumpul dan menghadap sebuah meja besar. John Krakauer yang memang seorang wartawan mengajukan sebuah pertanyaan kuno, yang menjadi sangat klasik dan fundamental dalam dunia pendakian gunung.

“… Why you are climb a mountain…, mengapa kalian mendaki gunung, untuk apa, what’s a reason..., apa alasannya…?”

Semua berpandangan, sambil bibir tersenyum lebar, menganggap pertanyaan Krakauer hanya sebuah gurauan semata, tak ada suara yang menjawab, hanya ada kekehan tertawa saja yang terdengar.
“… I’m serious, saya serius, mengapa, apa alasannya…,Mungkin bisa dimulai darimu Yasuko…?”

Krakauer memberi tekanan kalimatnya, menandakan bahwa ia serius dengan pertanyaannya.

Dan Yasuko Namba yang dituju, pendaki perempuan Jepang yang telah memuncaki 6 puncak dari seven summit dunia, tampaknya memang harus membuka suara dan memberi jawaban.

“… ya,, I was climb six mountain of seven summits, so I have to climb this mountain, Everest, the last one.. saya telah mendaki enam puncak yang menjadi puncak seven summit dunia, jadi saya harus mendaki yang ke tujuh, Everest ini, sebagai yang terakhir,,,”

“.. That’s not answer., itu bukan sebuah jawaban…” ujar Krakauer menanggapi, “ and how about you Beck…? “ Kali ini Beck Weather yang ditanya, yang duduk di meja ujung, bersebelahan dengan Yasuko Namba dan Andy Harris.


“.. Me,, saya sebenarnya pergi ke Everest ini tanpa memberitahu isteri saya, you know,, dalam kehidupan saya sehari hari, saya telah merasa ada sebuah awan gelap yang mengikuti kemanapun saya melangkah, dan di gunung saya menemukan obatnya, jadi that’s a reason I climb a mountain, included Everest right now…”


“.. Ok your turn Doug, you a postman, you a mailman, why you climbing the Everest, kau tidak mau mengantar surat kan ke puncak Everest…?”

Gelak tawa mewarnai saat mendengar Doug Hansen di tanya begitu.

“.. ya ini adalah ketiga kalinya saya mencoba mendaki gunung tertinggi di dunia ini, dua kali sebelumnya saya gagal mencapai puncak…”

Doug berhenti sejenak, sambil tersenyum senyum memainkan cangkir mimun di atas meja, ia melanjutkan kalimatnya kembali.

“.. saya berasal dari sebuah kota kecil di Amerika sana, tak jauh dari tempat tinggal saya ada sebuah sekolah untuk anak anak, saya seorang tukang pos, pekerjaan saya adalah mengantarkan paket dan surat, dan dalam perjalanan ke Everest ini, anak anak sekolah itu turut membantu saya mengumpulkan dana dan biayanya, dan terimakasih yang dalam kepada Rob Hall yang telah memberi saya beberapa keringanan dalam pendakian ini….”

Doug Hansen kembali menghentikan ucapannya, dan menoleh kepada Rob Hall yang duduk di seberang meja sebelah kanannya. Rob hanya mengangguk dan tersenyum.

“.. Saya orang biasa, tidak memiliki banyak uang, dan tidak memiliki banyak kelebihan, namun itulah tujuan saya kesini, untuk membuktikan kepada anak anak yang telah menitipkan bendera sekolahnya kepada saya, untuk membuktikan bahwa setiap orang bisa meraih impian mereka, setiap orang mampu mencapai puncak dunia, selama mereka mau berjuang dan sungguh sungguh untuk mencapainya. Dan untuk membuktikan, bahwa setiap orang biasa mampu mencapai impian yang luar biasa, itulah alasan saya ke sini…”
 

Doug Hansen menutup kalimatnya dengan mata berkaca, haru memenuhinya lubuk hatinya, dan beberapa kalimatnya barusan membuat semua terdiam beberapa saat, sebelum Beck Weathers dari ujung meja memecah keheningan.

Doug Hansen saat menjelaskan alasannya mendaki Everest


“ I’m  with you Doug..”

“ Me too…” Rob Hall ikut menyambut.

“.. and me too…” Guy Cotter yang berdiri di belakang Yasuko Namba juga ikut bersuara 

“ ya,, we all with you Doug…” Andy “ Harold” Harris yang duduk persis di samping Doug Hansen bicara sambil menepuk pundak Doug.

“… and the other reason, why we climb the mountain, becauseee…..” Beck yang berbicara lagi mengakhiri kalimatnya denga titik titik, seolah olah seperti seorang ibu guru menunggu muridnya bersuara.

“..Because mountain is out there…!!! “ 

Suara orang orang itu setengah berteriak sambil menangkat tangan dengan mengacungkan jari telunjuk mengarah ke luar tenda, kemudian di ikuti suara tawa bergelak.

Ya adegan itu ditutup dengan gaya khas sang legenda George Mallory saat menjawab pertanyaan banyak orang tentang alasan mengapa ia mendaki gunung, dan ia selalu menjawab dengan kata kata “ because mountain is out there…”, dan jawaban ini menjadi terkenal dan legendaries hingga saat ini.


***
Sahabat masih ingat adegan di atas kan..?

Saya tidak pasti, apakah plotnya benar benar sesuai seperti yang saya gambarkan di atas, atau ada sedikit perbedaan pada detailnya, namun untuk pesan dan maksud yang ingin disampaikan, saya pastikan sama.

Ini mungkin adegan yang tidak banyak menjadi perhatian banyak orang, namun menurut saya ini adalah penekanan yang mendalam dalam film Everest tahun 2015 ini. Sosok Doug Hansen  adalah tokoh special dalam menampilkan drama tragedi kematian tahun 1996 silam di film ini, alasan mengapa ia mendaki gunung, adalah sebuah alasan yang tidak hanya bercerita mengenai ambisi personalnya dalam menggapai puncak, namun merupakan sebuah tugas yang mesti ia tunaikan untuk menjadi contoh dan pelajaran bagi yang lainnya, bahwa mencapai puncak bisa dilakukan oleh siapapun, asalkan dengan usaha yang sungguh sungguh, bahkan oleh seorang yang hanya berprofesi sebagai tukang pos sekalipun.

Tiga tokoh utama dalam film Everest 2015

Doug Hansen juga yang menjadi “penyebab” kematian Rob Hall dalam adegan selanjutnya, ketika waktu sudah sampai hampir pukul 16:00, ia tetap memaksakan diri mendaki hingga puncak, melanggar batas waktu jam 14:00 dalam aturan summit saat itu.
 

Rob Hall yang tulus dan bersifat sangat care tidak bisa membiarkan Doug Hansen mendaki sendirian, dan ia pun menemaninya hingga ke puncak. Dan dalam perjalanan turun saat melewati Hillary Step, semua bencana dan “pembantaian” oleh alam dimulai, badai mengamuk, angin menderu, jarak pandang menjadi hilang, dan pada akhirnya menjadi penyebab tewasnya delapan pendaki dalam satu hari, yang menjadi musibah terburuk sepanjang sejarah pendakian gunung Everest.

Doug Hansen adalah orang pertama yang menemui kematiannya, terjatuh ke dalam jurang karena gagal mengaitkan ascender di pinggangnya ke sebuah fix line di dasar Hillary Step. Ia tewas setelah sebelumnya setengah pingsan, dan ditarik paksa oleh Rob Hall untuk tetap berjalan turun.

Doug Hansen mungkin tidak menjadi perhatian banyak orang, tidak seperti penampilan Rob Hall, Scott Fischer, Beck Weathers, yang menjadi tokoh utama film ini, atau juga seperti si tangguh Anatoli Boukreev. yang berhasil menggendong tiga pendaki yang terjebak sekarat di tengah badai.

Bahkan, Doug Hansen adalah pendaki terlemah dari semua yang summit hari itu, ia kalah dari Yasuko Namba, ia tertinggal jauh dari Sandy Hill, namun Doug Hansen memiliki sebuah alasan yang indah dalam melakukan perjalanan pendakiannya, mungkin saja lebih indah dari semua alasan pendaki yang lainnya.

Doug Hansen menunaikan tugas untuk dirinya sendiri, dan juga anak anak yang telah menitipkan bendera padanya, dan untuk semua orang yang memiliki mimpi yang tinggi, namun ragu dengan keterbatasan mereka.

Doug Hansen ingin membuktikan If ordinary man can reach the extraordinary dream, bahwa orang biasa mampu meraih impian yang luar biasa.

Dan itu alasan yang cukup, untuk membuat kita menaruh hormat kepadanya.




Salam
Please share and coment if you like this article

2 comments:

  1. ya tokoh ini yang buat saya geram mas anton saat nonton everest. haaaa mgkn terlalu terhanyut. sukses trus mas.. saya ikuti blog sampean stiap hari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas,, terlalu maksa dianya.. sudah 2 kali coba dan gagal, jadi mungkin yang ketiga, mungkin tekadnya harus ke puncak apapun yang terjadi.

      Oya, wah terimakasih banyak untuk kunjungan setianya mas @cataleya

      Delete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...