Tuesday, 4 August 2015

Ruh pegunungan dengan kekasihnya



Dalam keriuhan alam  raya tempat burung burung terbang mengangkasa, kawah kawah menggelegar dalam amarah..

Hari ini aku hanya ingin bertutur, tidak perduli apa kalian menyukainya atau tidak.

Aku ingin bebicara tentang gunung dan para kekasihnya, puncak puncak tanah tinggi dan orang orang yang menaruh hati padanya.

Aku ingin bercerita tentang ruh gunung dan kekasihnya.

Sementara kita lupakan sebentar carut marutnya keriuhan yang ada, kita lupakan sejenak sampah yang menjadi masalah di setiap gunung yang dikunjungi, kita lupakan pula barang sebentar Ranukumbolo yang seolah menjadi pasar dadakan di bulan Ramadhan, atau mari kita berkedip sedikit dari  Segara Anakan Gunung Rinjani yang seolah telah berubah menjadi tempat kemping yang jorok  di atas mayapadanya yang cantik, dan pula mari kita istirahatkan sejenak pikiran kita dengan kabar Merbabu yang terbakar, Lawu yang membara, Raung yang meraung, ataupun Bawakaraeng yang menjadi saksi percobaan perkosaan dan kebiadaban seorang anak muda yang berdandan ala pendaki gunung.

Dan kita juga coba rehat sejenak  dari mendengar lengkingan Mahameru yang kabarnya kembali berurai air mata, kala seorang dara terkapar di punggungnya, bersimbah darah, di hempas oleh bebatuan yang tanpa sengaja menimpanya. 

Sekarang mari kita coba memutar kembali beberapa kisah  tentang pegunungan, mengapa tempat tinggi ini terasa begitu menarik hati, mengapa puncak puncak terasa begitu terpatri di sanubari. Kita memang bukan orang suci, namun tempat “suci” ini dan belaian kabut jingganya, dalam garis nirwana yang membelah, dalam batas horizon yang seolah tidak tergapai, dan dalam lirik lirik angin kasturi di kibasan angin angin padang tinggi, kita menemukan seolah diri kita mandi dalam rasa yang khusyu’, kita berkubang dalam keriangan pengabdian, dan kita menyiram wajah kita dengan air mata penghambaan yang penuh.

Merindukan kawan yang senasib, yang duduk duduk di puncak batu pegunungan dengan pikiran jauh menerawang, melanglang buana, menari nari di atas hamparan jagad raya. Ataupun para pendaki yang bertasbih dalam tiap langkah kaki mereka, bertahmid dalam hembusan nafas yang lelah, dan juga berdoa dalam kelelahan dan dalam kekurangan kekuatan. 

Tidak mudah lagi menemukan jiwa jiwa luka yang kesembuhannya hanya di atas awan, menemukan jiwa jiwa kesepian yang menikmati kesendiriannya di balik angin pegunungan, atau mendapatkan tubuh tubuh kuat dengan ransel besar yang menggelayut di punggungnya, dengan wajah laksana rampok dari hutan Roban, namun memiliki sebuah hati samudra seperti Cinderella. 

Kami mulai terkikis di tempat di mana kami dicumbu rayu dulu, kami mulai tersingkir di tanah tanah di mana kami bermain dengan pikiran seriang remaja, mulai terdorong di mana kami biasa menghabiskan secangkir kopi sambil membiarkan rambut kami yang lembab oleh kabut di sapu angin yang kadang kencang dan kadang gemulai. 
Lazada Indonesia

Mari kita bernostalgia wahai para penjelajah dengan kemeja berkotak kotak.

Kamukah dulu yang mendaki gunung hanya untuk membuat gadis cantik ayu seolah kagum melihatmu..?

Atau kamukah dulu yang mendaki gunung hanya untuk menemani salah satu orang yang diam diam kamu sukai…?

Dan mungkin kamu juga dulu yang memanggul ransel, menyandang gitar konyol, hanya untuk menikmati malam dingin di atas puncak beku.

Bahkan aku sendiri masih ingat dulu, ketika untuk pertama kalinya memanggul ransel, mendaki punggungan bukit di daerah Datar Lebar hutan gunung Bengkulu, menggunakan celana jeans, dengan baju kemeja yang dimasukkan, rambut tersisir rapi, dan bau parfum yang bikin norak, yang semuanya itu aku lakukan, karena ingin menemani seorang gadis remaja manis yang aku suka.

Aku menggunakan sepatu putih untuk berolahraga, yang harganya hanya sekitar lima puluh ribu rupiah saat itu, tanpa kaos kaki, aku berusaha mengikuti langkah langkah orang yang telah ada di depanku. Kakiku lecet, badanku lelah, tapi aku senang, aku riang, karena hampir dua harian aku bisa bersama dengan gadis remaja yang aku sukai..

Itu cerita indah dan menggelikan kawan untuk ku kenang lagi saat ini.

Sebuah perkenalan yang tidak tulus untuk sebuah perjalanan dan tempat yang telah banyak membuatku banyak berpikir.

Aku saat itu mungkin tidak banyak berbeda dengan anak anak kekinian yang mendaki hanya untuk pamer poto di sosial media , perbedaannya sederhana saja. Jika mereka mendaki untuk menunjukkan eksistensi diri mereka di dunia maya, maka aku merayap di bukit basah pegunungan barisan hanya untuk menemani gadis muda yang dulu aku suka..

Kita semua pembelajar kawan, orang yang mampu berpikir dan berkembang. 

Kita boleh berkenalan dengan cara apa saja dengan ketinggian gunung, dengan motivasi dan tujuan yang beragam pula. 

Namun pesanku, bukalah mata hatimu.., tarian tarian gunung gunung akan memberimu lebih dari sekedar gambar yang terekam dalam cameramu, ia akan memberimu jiwa yang terus tumbuh, jiwa yang banyak berpikir tentang syukur dan pengabdian, jiwa yang syahdu dalam kepasrahan kepada Yang Maha Satu.

Tempat “sembahyang” kita mungkin memang sudah berisik, batu pertapaan kita mungkin sudah penuh coretan, dahan tempat hinggap kita memang mungkin sudah dipatahkan…

Namun kita tidak akan tersingkir kawan..

Tidak ada yang dapat menyingkirkan seseorang dengan jiwa dan ruh gunung ada di dalam dirinya, jiwa damai ketinggian kabut akan tetap bersama dirinya, ruh ruh nyayian terjal bebatuan akan terus membelai hatinya, walau mungkin, mereka telah lama tidak berjumpa..

Tidak ada yang dapat menyingkirkan pegunungan dengan kekasihnya..



Salam.
Lazada Indonesia

1 comment:

  1. Membaca ini membuatku ingin menanggis... Aku merindukan heningnya tempatku bertafakur... Merindukan damainya tempatku berebah.. Merindukan indahnya tempatku merindukanMU...

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...