Thursday, 27 August 2015

Pria inilah yang menganggap badai dan angin ribut sebagai kesempurnaan, siapakah dia...?



Menembus badai 
Dalam angin ribut yang menggila, hujan salju yang menggelapkan semua pandangan, belum lagi kerimbunan hutan pinus yang seolah telah berubah pekat dalam suramnya cahaya, suara daun daun pinus yang bergesekan ditiup angin membuat semua orang ketakutan, tak ada yang bisa dilakukan dalam cuaca badai seperti ini selain duduk dan menungggunya reda.

Namun diantara suara angin yang menderu, diantara daun pinus yang bergesekan, beberapa bayangan tampak bergerak menuju ke selatan,  mereka berjalan dengan sangat pelan, sembari menutup wajah mereka dengan telapak tangan, berusaha melindungi penglihatan mereka dari terpaan angin dan juga salju yang berterbangan.

Bayangan itu berjumlah tujuh orang, menggunakan baju tebal berwarna coklat yang tampak lusuh, mereka terus bergerak perlahan melawan badai dan angin yang bertiup tajam seolah mau menembus ke dalam tulang.
Tiba tiba seorang yang paling depan berjalan terduduk, berlindung di balik sebatang pohon pinus berukuran sedang, kemudian beberapa orang dibelakangnya pun melakukan hal yang sama, semua terduduk sembari menundukkan muka, meringkuk di balik batang pinus, berusaha melindungi tubuh mereka dari gempuran badai yang mengamuk.

Namun ada satu orang di antara mereka yang tetap berdiri, ia memandangi teman temannya semua yang telah duduk di tempat berlindung masing masing..


“.. Hey mengapa berhenti…”

Teriak pria yang masih berdiri itu kepada teman temannya di tengah gemuruh suara angin yang menderu.

“.. We cant  do  this Januz, storm will kill us…”

Lelaki yan terduduk pertama kali tadi menjawab berteriak, sambil tetap meringkuk di bawah batang pinus tempat ia berlindung.

“ ya,,, saya tidak melihat apa apa Januz, I cant see anythings…”

Pria lain, yang meringkuk paling dekat dengan Januz ikut menjawab.

“ We have to waiting strom gone, kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dalam cuaca seperti ini, kita harus istirahat dulu menunggu hingga badainya reda…”

Lelaki yang berdiri itu, yang di panggil dengan sebutan Januz oleh teman temannya terdiam sebentar, kemudian ia mendekati salah seorang di antara temannya yang meringkuk tidak jauh darinya.

“.. Give me your knife Valka, berikan aku pisaumu…”

Tampak pria yang dipanggil Valka agak ragu ragu sebelum ia memberikan juga pisaunya pada Januz, Januz menyambut pisau itu dengan cepat, kemudian dengan cekatan ia duduk bersimpuh didekat sebuah pohon yang tampak tumbang, lalu ia menyayat kulit pohon tersebut, mengelupasnya dan menunjukkan kepada teman temanya yang memperhatikan apa yang ia lakukan. 

Kita akan melanjutkan perjalanan dengan ini…”
 
Kemudian kulit pohon itu ia lubangi dengan pisau sehingga menyeruapi sebuah topeng. Dan mendemonstrasikan kepada teman temannya.

“… Tapi ini badai Januz, kita tidak bisa melanjutkannya di tengah badai, terlalu berbahaya…”

Januz menoleh ke temannya yang berbicara tadi, ia memegang bahunya dan berucap.

“… Hei tidakkah kalian lihat, ini adalah apa yang kita cari, tidak ada yang mau mengejar kita ditengah badai salju dan angin ribut yang menggila  seperti ini. This is perfect…!..”

Teriakan Januz membuat semuanya temannya mengangkat muka, tertegun sebentar kemudian berdiri dan mulai mengantri membuat topeng dari kulit pohon seperti yang di pegang Januz, tidak lama kemudian mereka kembali bergerak, membelah deru angin dan gesekan daun pinus yang meliuk liuk.

***

Sahabat pembaca ada yang tahu ke tujuh orang itu…?

Jika tidak, saya akan mengingatkan, ke tujuh orang pria yang berjalan di dalam badai tersebut adalah para actor dalam sebuah film dramatis yang sukses beberapa tahun lalu, The Wayback. 


The wayback adalah film yang menceritakan pelarian tujuh orang tawanan tentara komunis Rusia pada perang dunia ke dua, ke tujuh orang ini melarikan diri mulai dari hutan liar Siberia hingga India, ribuan mil melintasi batas beberapa Negara dengan hanya berjalan kaki, hanya untuk meraih sebuah tujuan, yaitu kebebasan, menjadi orang merdeka.


Berpikiran terbalik dari orang biasa 
Selain perjalanan mereka yang penuh petualangan, tujuan yang mereka ingin capai, adegan tentang berjalan dalam deru badai salju di tengah belantara hutan pinus yang memutih seperti yang saya lukiskan di atas, adalah sekian dari beberapa alasan mengapa saya menyukai film ini.

Terutama tentang ucapannya si Januz yang ingin saya garis bawahi lagi.

“… Hei tidakkah kalian lihat, ini adalah apa yang kita cari, tidak ada yang mau mengejar kita ditengah badai salju dan angin ribut yang menggila  seperti ini. This is perfect…!..”

Ketika semua temannya seolah takluk oleh badai yang menggila, Januz malah melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Alih alih menganggap badai sebagai sebuah halangan yang merintangi perjalanan mereka, Januz malah menganggap badai dan angin ribut, disertai hujan salju yang mengaburkan semua pandangan sebagai sebuah anugrah, sebagai sebuah keadaan yang sempurna.

Dan logikanya tepat sekali, tidak ada prajurit dan tentara komunis yang mau mengejar mereka disaat cuaca mengamuk sedemikian rupa, semua orang ingin berada ditempat aman, didalam shelter hangat dengan perapian yang menyala. Namun itu adalah kesempatan bagi ia dan teman temannya untuk terus berjalan lebih jauh tanpa khawatir dikejar. Dan apa yang Januz perkiraan memang benar, tidak ada satupun prajurit yang berani mengejar mereka ditengah gempuran badai dan hujan salju yang membeku.

Dan kita mungkin sudah tahu semua ending dari kisah itu, Januz dan teman temannya pada akhirnya selamat hingga tiba di Nepal dan  India. Mereka akhirnya mampu meraih status mereka lagi sebagai seorang yang merdeka, walaupun dalam perjuangan menuju kemerdekaan itu, beberapa dari mereka harus berakhir dengan kematian dalam perjalanan.

Ini film yang diangkat dari sebuah kisah nyata, sebuah kisah hebat yang terjadi pada kelamnya masa peperangan dunia yang kedua. Sebuah kisah yang menjadi perjalanan sebuah ziarah menuju kemerdekaan yang luar biasa, dan banyak hal yang bisa kita petik hikmahnya dari kisah ini.

Pada kehidupan yang sebenarnya, mungkin badai dalam kisah ini bisa saja menjelma menjadi kesulitan, tantangan, situasi yang sulit, keadaan yang tidak tepat, hambatan yang berat, dan segala macam yang lainnya, yang pada intinya menggambarkan sebuah kondisi yang tidak ideal, yang mustahil untuk melakukan sebuah langkah untuk maju, karena dibatasi oleh segala sesuatu yang rasanya mustahil untuk kita kalahkan.

Pada saat seperti inilah kita mungkin perlu mencoba pola pikir yang Januz telah contohkan dalam The Wayback itu, bagaimana melihat badai dan angin ribut sebagai sebuah kondisi yang sempurna, dan untuk kita, bagaimana kita bisa melihat sebuah kesulitan yang menghadang sebagai peluang emas untuk bangkit, untuk maju, dan untuk terus berjuang.

Tentu tidak akan mudah melakukan hal tersebut, menganggap kesukaran dan rintangan sebagai kesempatan emas bukanlah perkara gampang, tidak sama seperti menganggap matahari yang terik sebagai kesempatan untuk menjemur gabah, sama modelnya, namun tentu tidak sesederhana itu.

Namun setidaknya spirit Januz dalam melihat masalah sebagai peluang untuk memenangkan situasi perlu kita contoh, tentunya secara bertahap. Meskipun akan banyak rintangan menghadang kita di depan nanti, namun jika spirit dan tekad telah menggebu, hal itu akan banyak membantu kita dalam menghadapinya.

Sekali lagi tidak mudah menganggap badai dan dan angin ribut sebagai sebuah kesempatan yang sempurna, namun lebih tidak mudah lagi untuk tetap bertahan, pasrah, lalu kemudian menyerah di dalam badai dan topan yang terus menggila.


Salam.
Please share and coment if you like this arcticle


Lazada Indonesia

No comments:

Post a Comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...