Thursday, 13 August 2015

Pesan Dania Agustina & Aron Ralston, ini juga adalah pesan untuk anda semua





Masih sangat hangat menjadi berita musibah kematian salah satu pendaki gunung Semeru baru baru ini, Dania Agustina Rahman, seorang pendaki dari kota Bogor jawa Barat, berusia 19 tahun,dan masih tercatat sebagai mahasiswi aktif di sebuah perguruan tinggi dikota kembang, Bandung.

Dari berbagai kabar, Dania diberitakan tewas karena tertimpa longsoran batu yang tepat mengenai kepalanya di gigir pendakian menjelang puncak Mahameru. Dania juga diketahui bukan satu satunya korban dalam tragedi naas itu, bersamanya ada seorang pendaki pula benama Rendyka yang mengalami cidera patah kaki, ikut dihantam batu lepas di jalur pendakian gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut.

Dania di beritakan sedang duduk istirahat kelelahan di jalur pendakian, saat batu longsoran itu terjun ke arahnya, sehingga dalam kondisi membelakangi puncak gunung, Ia sama sekali tidak siap menghindari dari laju batuan longsor itu. 

Sebelumnya di Semeru juga, salah seorang pendaki asal kota Medan Sumatera Utara. Juga dikabarkan hilang  saat proses perjalanan turun dari puncak Semeru. Dan tim SAR gunung Semeru masih melakukan aktifitas pencarian ketika Dania dan rekannya Rendyka, ditimpa musibah yang membuat geger lagi dunia pendakian gunung di Indonesia.

Menanggapi berita semacam ini, tentu akan banyak ulasan tentang risiko risiko aktifitas pendakian gunung, kembali para senior akan menceramahi banyak para juniornya terkait akan hal ini, safety first, mountain is not your kindergarden, atau hal hal lain yang sifatnya peringatan keras kepada para pendaki, ataupun untuk orang orang yang memiliki ketertarikan untuk mencoba mendaki gunung, bahwa aktifitas pendakian gunung bukanlah perkara remeh yang bisa dilakukan sambil menutup mata akan segala resikonya, bahwa mendaki gunung adalah salah aktifitas penuh bahaya, di balik segala pesona dan keindahannya  yang banyak menarik orang saat ini di sosial media.

Sebagai salah satu orang yang juga menggemari kegiatan yang sama, yaitu mendaki gunung. Melalui blog ini saya pun ingin menyampaikan belasungkawa dan rasa dukacaita medalam atas musibah yang telah meluruhkan hati seorang Ibu yang kehilangan anak tercintanya ini, musibah yang telah juga memutuskan harapan kedua orang tua saudari Dania.

Hanya doa saat ini, yang dapat dipanjatkan, semoga Allah Yang Maha Menguasai segala, berkenan mengampuni segala dosa dan salah almarhumah, menempatkan beliau ditempat yang layak di sisi-Nya, dan pula menganugrahkan kesabaran untuk orang tua, keluarga,dan sahabat yang ditinggalkan.. Aamiin.

***
Ada hal lain  yang menarik disini, karena dalam banyak sumber berita juga, saya mendapati sebuah kesamaan informasi tentang musibah Dania ini, tentang bagaimana ia mengabaikan restu orang tuanya dalam mengadakan pendakian ke gunung yang terkenal dengaan killing field blank 75 nya  ini , Dania diberitakan tidak memberitahu orang tuanya prihal keberangkatannya menuju puncak para dewa gunung Semeru, ia hanya mengatakan akan merayakan ulang tahunnya di kota gudeg Jogjakarta, alih alih mendaki gunung ke Semeru.


Restu orang tua, is your access permit ( must be )

Bukan ingin mencela apa yang telah dilakukan almarhum, namun semoga ini tidak hentinya menjadi pelajaran yang berharga untuk kita bersama, bahwa memperoleh izin dan restu dari kedua orang tua dalam proses pendakian gunung, atau izin suami atau istri, atau anak anak,  jika sudah menikah, semestinya tidak menjadi hal yang gampang untuk disepelekan.

Sayangnya ini terjadi dengan Dania, ia mengabaikan restu dan izin dari seorang Ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan penuh cinta dan pengharapan. 

Tentu, tidak ada yang mau mengakhiri hidupnya dalam sebuah proses pendakian gunung, semua orang yang mendaki gunung ingin kembali pulang dengan selamat dan sehat, tanpa cidera, dan tanpa terluka. Bahkan pada zaman sekarang ini, lebih dari sekedar selamat pulang saja keinginan banyak orang dalam mendaki gunung, namun mereka juga ingin segera memamerkan foto foto perjalanan mereka dalam mendaki gunung ke dalam sosial media. Hingga sisi lain dari hal ini, kecendrungan untuk menikmati alam raya tidak lagi di dominasi oleh para pencari kekhusyu’an alam sunyi, namun lebih sekedar daripada arena mencari gambar bagi para aktifis sosial media.

Sejalan dengan pristiwa yang dialami Dania, sebuah kisah petualangan yang lebih dikenal karena diangkat  ke layar lebar menjadi sebuah film, juga telah memberikan pelajaran tentang perjalanan petualangan dan kaitannya dengan keharusan meninggalkan pesan kepada keluarga, tentang kemana arah yang dituju, dan perjalanan semacam apa yang dilakukan.

Dalam film ini dituturkan betapa menyesalnya sang tokoh yang bernama Aron Ralston kerena ia pergi tanpa meninggalkan pesan kepada keluarganya, petualangannya berujung bencana saat lengan kanannya terjepit batu besar dalam celah ngarai sempit di dataran liar Grand Canyon,Utah sana. 

Aron digambarkan sangat menyesal karena ulahnya itu, tidak berpamitan kepada kedua orang tuanya, tidak meninggalkan pesan untuk keluarganya, belum menjadi ayah yang baik untuk puteranya. Dalam drama yang digambarkan dengan sangat baik itu, akhirnya tedorong oleh keinginan untuk bisa berjumpa kembali dengan buah hatinya, Aron mengambil keputusan berani untuk memotong lengan kanannya, guna terbebas dari jepitan batu di ngarai maut tersebut.

Pada akhirnya ia memang selamat meskipun ia harus merelakan lengan kanannya menjadi buntung.

Tentu ada sudah hapal dengan cerita di film itu ya..? ya itu adalah si Aron Ralston dalam salah satu film adventure survival terbaik belum lama ini, 127 Hours.

Saat ini kita dihadapkan kembali dengan kisah nyata dari negeri sendiri, seorang Dania, ia juga memutuskan bertualang tanpa memberitahukan kepada orang tuanya.

Jika Aron bertualang sendiri, maka Dania bersama rombongannya, sehingga itu membuatnya mempertimbangkan bahwa yang ia lakukan tidak akan terlalu berbahaya. Namun selanjutnya, jika Aron bisa selamat pulang kembali ke keluarganya untuk bisa menebus kesalahannya, maka dengan berat hati harus kita katakan, bahwa Dania tidak selamat, ia meninggal dalam petualangannya itu. 

Dania tidak bisa lagi meminta maaf kepada Ibunda karena tidak menghiraukan restunya, ia juga tidak sempat mencium tangan ayahnya untuk berpamitan sebelum pergi jauh untuk selamanya.

Sekali lagi, tidak ada yang mau mengakhiri hidupnya di gunung manapun, namun jika maut menghampiri kita disana, siapa yang bisa menghindar…?

Tidak ada yang bisa mengelak, tidak ada yang dapat luput dari dekapan maut jika ia telah menjemput, karena itu, sebuah pelajaran untuk kita semuanya,  pastikan untuk meninggalkan kesan dan pesan terbaik saat memutuskan untuk berada jauh dari siapa saja yang berarti dalam hidup kita, utamanya keluarga, baik untuk waktu yang sementara, lebih lebih untuk waktu yang mungkin lebih lama.

Tinggalkanlah pesan untuk ayah bunda, kemanapun  kita akan melangkah. Semoga restu dan doa keduanya tetap menaungi kita dalam setiap langkah, meskipun langkah itu, bisa saja menjadi langkah terakhir yang kita miliki.



Salam.
Share and coment if you like this article

Baca juga :  tentang makna mendalam dari pendakian gunung disini

3 comments:

  1. setuju ..
    baru" ini ga direstuin ayah karna mau muncak di merapi, karna ga dapet ijin akhirnya dibatalkan sama sekali tidak kecewa hehe justru harus rajin berdoa semoga di ijinkan aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam mbak Utami, terimakasih untuk comentnya.

      Aaamin.. dan Jangan lupa persiapan yang matang ya mbak Utami,, jika dikemudian hari mendapatkan izin dari ayah untuk mendaki gunung...

      Delete
  2. Emang restu orangtua jika dikaitkan dengan petualanga adalah restu bumi dan tiket utama dalam perjalanan...
    Alhamdulillah masih bisa kembali ketengah mereka setelah 4 hari hilang orientasi di Argopuro dengan segala kejadian di luar nalar keduniaan terjadi pada kami berdua dan memang hanya kami berdua di gunung itu selama pendakian kala itu entah memang hanya kami berdua atau memang penglihatan kami yang terhalang sesuatu yang kasat mata
    Tapi ditengah hampir putus asa hati kami teringat dengan ijin mendaki kala itu yang ta kunjung kami dapatkan dari orang tua kami terutama ibu, dalam doa kami serahkan semua "jika memang ini pendakian kami terakhir kami ikhlas dan jika bukan kami harus pulang dan meminta keridhoan orang tua" dan alhamdulillah kami pulang dengan segala cerita dan keanehan dari kuasaNya

    ReplyDelete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...