Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2015

Dick Bass si pionir seven summit dunia tutup usia, dan kisah pertarungannya dengan Pat Morrow

Richard "Dick" Bass & Pat Morrow Bagi para petualang nusantara, atau orang orang yang paling tidak, suka membaca tentang literatur sejarah pendakian dunia, maka nama Richard Bass, atau yang lebih akrab disapa Dick Bass, bukanlah nama yang asing ditelinga mereka. Dick Bass adalah salah satu pioneer pendakian grand slam seven summit dunia, model prestasi pendakian yang fenomenal, yang bertujuan membukukan 7 puncak gunung tertinggi di setiap benua.  Setelah ide ini diluncurkan oleh Dick Bass dan teman seangkatannya, maka hingga saat ini, mungkin sudah ratusan orang yang telah mencatatkan namanya secara pribadi, organisasi, bahkan Negara sebagai subjek yang telah mampu menajejakkan kakinya di   7 puncak tertinggi dunia tersebut. Dan kita bangsa Indonesia, patut juga ikut bangga, karena telah ada juga anak bangsa yang sukses membawa merah putih tebentang di ketinggian beku 7 benua tersebut. Diawali dengan tekad sang pioneer Norman Edwin, Didiek Syamsu, d

Tentang generasi pendaki gunung, kalimat ini sepertinya sudah tidak tepat lagi

Hendry Dunant bapak palang merah dunia pernah mengatakan  “ .. sebuah Negara tidak perlu khawatir kekurangan stok pemimpin masa depan, selama anak mudanya masih suka bertualang di alam dan mendaki gunung…” Saat beliau, Hendry Dunant mengatakan hal itu, tentu saja karena ia melihat apa saja yang bisa dilakukan, diperoleh, dipelajari, oleh seseorang yang memiliki kesukaan dan kegemaran mengarungi alam bebas dan merayapi puncak puncak tinggi. Dan karena menurutnya, kegiatan dan hobi semacam itu dapat membentuk sebuah karakter kepemimpinan yang tangguh, maka ungkapan beliau   yang terkenal itupun keluarlah pada saat itu. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang, masih relevankan ungkapan seperti ini pada saat sekarang, pada zaman saat ini, ketika mendaki gunung seolah telah menjadi piknik weekend hampir setiap lapisan masyarakat, atau meminjam istilah sang legenda Reinhold Meisner , sudah menjadi semacam   kindergarden area , alias taman bermain buat anak anak..?