Sunday, 28 June 2015

Kesombongan Membunuhku Di Mahameru : Bagian Tiga

Pada bagian sebelumnya, saya telah menceritakan kondisi tubuh saya yang drop karena terserang diare dan masuk angin, baiklah, saya akan menlanjutkannya lagi cerita setelah kami tiba di desa Ranupane...

***

Sakit perut yang melilit
Perjalanan dimulai dengan mengikuti jalan desa hingga ke ujung arah kiri pos, melewati areal tanaman sayuran penduduk yang terhampar di sebelah kanan jalan, tak lama kemudian kami sudah tiba di pertigaan pintu rimba gunung Semeru, menurut mas Theo, jalan aspal kasar arah kiri adalah menuju Bromo, namun jalur ini jarang digunakan dan sangat sepi, sementara jalur ke gunung Semeru adalah yang  berbelok ke kanan, mengikuti jalan setapak. Di sebelah kiri jalan yang arah kanan bediri dengan kokoh sebuah gapura kecil pintu masuk pendakian gunung Semeru.
Jalur dibuka dengan tanjakan landai yang berbelok kearah kiri,  mas Haris berada di depan, lalu mas Theo, kemudian saya, dan mas Sugeng paling belakang, jalur ini sangat mengayikkan semestinya, medan landai, rimbun, sejuk dan tenang, beberapa pendaki dalam perjalanan turun, baik dari domestik dan luar negeri seringkali berpapasan dengan kami. Ini sungguh menyenangkan seharusnya, saya katakan seharusnya, karena saya tidak pada kondisi menyenangkan itu, mencret dan sakit perut membuat wajah saya pucat dan tubuh saya lemas, mas Sugeng berjalan paling belakang juga sekaligus mengawasi saya, jangan sampai ambruk dan KO di tegah jalan. 
Rasa sakit di perut saya semakin menjadi jadi, beberapa kali melangkah saya harus duduk untuk menetralisir rasa sakit dan lemas, daypack yang saya bawa di ambil alih mas Sugeng dan saya membawa tas shoulder  mas Sugeng yang ukurannya lebih kecil, memang dari sisi bobot dan bentuk, carrier yang saya pikul lebih besar dan lebih berat, jadi sangat tidak berimbang dengan kekuatan dan kondisi tubuh saya sekarang. Namun semua ini tak perlu terjadi, seandainya saja saya lebih bersahaja  dan tidak over convidence saat tidur di Tumpang kemarin.
Penderitaan ini agak mereda tatkala kami sudah mencapai Pos I Watu Rejeng, di pos ini saya melepas lelah dan rehat, mas Haris dan mas Theo telah lebih dulu tiba,  belum lama kami di sana, serombongan pendaki dalam perjalanan turun menghampiri, mereka adalah pendaki dari negeri jiran Malaysia yang tergabung dalam klub X-4 Expedition, mereka dalam journal pendakian Semeru dan Rinjani. Tawa dan canda serta ritual perkenalan dengan saling bertukar kartu nama berlangsung meriah di pos Watu Rejeng, beberapa orang porter dari Ranupane ikut nimbrung dan berfoto bersama.
Keceriaan di pos I Watu Rejeng bersama porter dan tim X-4 Malaysia
Tidak lama setelah tim X-4 Expedition kembali melanjutkan perjalanan turun, kami juga melanjutkan perjalanan naik, pada tahap setelah pos I ini saya merasa sudah fit kembali dan langkah menjadi lebih mantap dan cepat, rasa sakit yang melilit di perut juga sudah reda rasanya, bahkan saya bisa berjalan paling depan. Namun belum 500 meter melangkah, rasa sakit melilit ini kembali muncul, langkah saya mulai melamban lemah dan seperti sebelumnya, lebih sering berhenti dan duduk. Karena akan memperlambat gerakan anggota yang lainnya, maka saya memberi jalan kepada mas Haris dan mas Theo untuk kembali di depan, dan mas Sugeng kembali mengawal saya di belakang.
Semuanya sudah tak tertahankan lagi, selain perut yang sakit melilit, ditambah juga dengan rasa mual dan ingin muntah, badan saya juga semakin terasa lemah.  Tapi yang lebih mendesak daripada itu adalah, kebutuhan akan toilet. Saya harus mendapatkan toilet, sistem pencernaan saya benar benar dikacaukan oleh kebodohan dan keangkuhan tidur tanpa sleeping bag tadi malam, isi didalamnya mendesak ingin segera dikeluarkan.
“ Mas Sugeng, tissue gulung di tas siapa..?”  tanya saya seraya terduduk di sebatang pohon tumbang sambil meringis.
“ ini di carrier..” jawab mas Sugeng, bayangan kecemasan melintas di wajahnya.
“ Saya pakai tissue gulungnya mas, mas Sugeng duluan saja, tunggu saya di pos II itu...” ujar saya sambil menunjuk bangunan Pos II Landengan Dowo, yang sudah terlihat jauh di ujung jalan yang berkelok itu.
Mas Sugeng lalu berjalan menyusul mas Haris dan mas Theo, sementara saya meletakkan carrier dan mulai mencari lokasi yang “rahasia” untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar makhluk hidup, tempat itu saya temukan, dan “indah”. Tidak terlihat dari jalan yang di lalui pendaki dan nyaman digunakan. Namun demikian, saya tidak ingin menggunakannya lagi untuk kedua kalinya di kemudian hari. Cukup saat itu saja.
Selepas pos II Landengan Dowo ini trek langsung menanjak tajam, membutuhkan tenaga extra untuk bisa melalui jalur ini, apalagi buat saya yang dalam kondisi tidak prima. Namun perjalanan harus tetap dilanjutkan, paling tidak saya harus sampai Ranukumbolo dan bisa segera istirahat disana, demikian pikir saya. Sekitar 45 menit dari Landengan Dowo, jalur yang di tempuh berbelok ke arah kiri melipir sisi bukit, beberapa tempat jalurnya bukan saja landai, tapi malah menurun, ini mempercepat langkah mas Haris dan mas Theo yang berjalan di depan, mas Sugeng tetap setia menemani langkah saya yang lamban di belakang.
Beberapa langkah kemudian panorama memukau itu tersibak sedikit demi sedikit di antara rerimbunan jalur Semeru, genangan raksasa air biru yang tenang, dikelilingi oleh permadani savana lembut yang indah dan puncak puncak kecil dengan pohon pinus yang tidak terlalu rapat. Semakin kami melangkah, semakin jelas terkuak keindahan tempat ini, tak salah ini disebut fantastis, secuil surga di tanah jawa. 
Ranu Kumbolo..!!!
Rasa sakit yang mendera untuk sementara terlupakan melihat view yang terbentang di depan kami, mas Haris melangkah kian cepat, jauh meninggalkan saya dan mas Sugeng, ia begitu bersemangat, apalagi inilah pertama kalinya ia mendaki gunung. Saya terus berjalan, sambil terus memandangi hamparan panorama menakjubkan di depan mata, semakin mendekati danau, semakin terpampang jelas bahwa tempat ini memang benar benar spektakuler. Jalur trek sekarang melipir berkelok ke arah kanan menurun. Padang savana dengan di kelilingi beberapa pohon pinus terhampar di seputaran danau, tepat sekitar 100 meter sebelum tiba dibibir danau terdapat semacam pos peristirahatan dan view point Ranu Kumbolo. Saya tak bisa menahan diri, sakit yang melilit tak bisa dibohongi, saya harus beristirahat lagi di tempat itu.
Ranu Kumbolo dari View Point jalur masuk



Saya dan mas Sugeng tiba di shelter Ranukumbolo hampir 30 menit setelah mas Haris dan mas Theo tiba lebih dulu. Mau bagaimana lagi, kesombongan di Tumpang tempo hari, benar benar melumpuhkan saya, hingga membuat saya melangkah amat lamban. 
Beberapa rombongan lain yang mendaki lebih dulu telah mendirikan tenda di tepi danau sebelah kiri, rombongan yang dalam perjalanan turun dari Mahameru biasanya memilih istirahat dulu di Ranu Kumbolo dan mendirikan tenda di sebelah kanan danau. Kami tak perlu mendirikan tenda, karena ketika kami tiba di Ranu Kumbolo, shelter sedang kosong tak berpenghuni, jadi kami memilih untuk menginap di shelter saja malam ini, membentangkan tenda yang tak terpakai sebagai alas, lalu dilapisi matrass hingga terasa lebih hangat.
Sementara yang lainnya mempersiapkan makan siang, saya kembali didesak dari dalam untuk kembali  harus mencari atau membuat toilet baru,rasa sakit perut karena masuk angin di Tumpang malam kemarin benar benar menyiksa.
Hari itu kami habiskan dengan bersantai di tepi Ranu Kumbolo yang indah, saya mengkonsumsi banyak obat untuk mempercepat kesembuhan. Berdoa semoga saja sakit perut ini segera sembuh dan saya bisa melanjutkan pendakian lagi besok pagi, dan untunglah sore harinya saya merasa sudah agak baikan, dengan jaket tebal saya berjalan jalan sendiri menapaki tanjakan cinta di belakang shelter, duduk di atas tanjakan memandangi Ranu Kumbolo yang memukau lalu berjalan lagi meyusuri jalur pendakian di sisi Oro Oro Ombo yang luas dan hening. 
Renungan dalam rasa sakit
Tiba di tempat memukau seperti ini, merintih sakit selama pendakian akibat kebodohan sendiri, membuat saya banyak berpikir dan menyadari, bahwa kesombongan tidak akan membawa kita kemana mana, selain kebinasaan
Yah begitulah.., Allah SWT yang maha tinggi, tidaklah Dia memberi kita sesuatu, mengizinkan kita melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu kecuali ada hikmah dan pelajaran yang mesti kita petik di dalamnya. Dan tentunya  hal ini hanya bisa dimaknai dan dijadikan bahan renungan oleh orang orang yang mau berpikir.
 Lihatlah bagaimana bumi dihamparkan, langit ditinggikan, pohon pohon, dedaunan, gunung, dan binatang serta kita manusia dapat benar benar selaras dengan semua ini. Bagaimana mungkin, tempat seindah Mahameru, Ranu Kumbolo, Oro Oro Ombo ini tercipta begitu saja tanpa maksud, Allah  melangkahkan kaki kita ke tempat tempat seperti ini pastilah memiliki tujuan dan maksud, diantaranya agar mahluk yang bernama manusia lebih dalam berpikir tentang eksistensi dan kekuasaan Allah, agar manusia ini kembali pada-Nya dalam setiap aspek kehidupan, agar kesombongan dan keangkuhan yang bercokol dalam hati kita dapat terleburkan oleh kesadaran, bahwa kita ini kecil dan tidak memiliki daya apa apa.
 Contoh kasusnya persis seperti yang baru saja saya alami.
Sore hari di Ranu Kumbolo

Malam hari di Ranu Kumbolo yang dingin serta rasa lelah akhirnya menidurkan kami dengan nyenyak di dalam shelter. Keesokan paginya, ketika hiruk pikur pendaki yang bangun dari tidur belum terdengar kami telah menyentuh air Ranu Kumbolo untuk berwudhu dan menunaikan sholat subuh, kemudian menyiapkan sarapan pagi. Target hari ini adalah bisa mencapai Kalimati, dan rencananya kami akan camp lagi di sana. Selesai sarapan, membereskan perlengkapan dan  packing, perjalanan kembali dilanjutkan.
Tanjakan cinta dan Oro Oro Ombo
Perjalanan dimulai dengan mendaki tanjakan cinta, tanjakan cinta adalah sebuah tanjakan landai yang lumayan panjang berada di belakang shelter Ranu Kumbolo. Tanjakan cinta ini adalah nama pemberian para pendaki, di sini berkembang mitos bahwa jika kita bisa melewati tanjakan ini tanpa berhenti dan menoleh ke belakang hingga ke puncaknya, maka perjalanan cinta kita akan mudah, namun kami  tak begitu tertarik untuk mencobanya.
Perjalanan hari ini lebih menyenangkan saya rasakan, ini tentunya karena kondisi kesehatan dan perut saya yang mulai berangsur normal, walaupun belum benar benar sembuh. Di puncak tanjakan cinta , kami istirahat sebentar sebelum meneruskan langkah kembali menuju padang Oro Oro Ombo. Sekitar 20 meter dari puncak tanjakan cinta, jalur terbagi dua, yang satu agak berbelok kiri dan menurun landai melipir tepi padang rumput savana Oro Oro Ombo yang luas, dan yang satu lagi turun agak curam lalu lurus membelah padang rumput Oro Oro Ombo, kedua jalur ini bertemu di pertengahan savana. 
“ lewat tengah saja jalannya, nanti biar tak poto dari pinggir..” Mas Theo memberi usul, yang langsung saja memperoleh persetujuan.
Salah satu sensasi yang tidak bisa diperoleh saat mendaki di gunung lain adalah ketika berjalan mebelah padang rumput Oro Oro Ombo ini, di sekeliling padang rumput yang luas ini barisan bukit bukit kecil menawan berbaris mengitari, seumpama stadion teater terbuka maha luas dengan kursi tangga penonton yang berbaris mengitarinya, di beberapa tempat pohon pohon pinus menjulang, daunnya semilir mendesau ditiup angin, menentramkan hati setiap pendaki yang melintasi tempat ini.
Mas Theo kembali bergabung lagi bersama kami ketika sudah sampai tepat pada pertengahan padang rumput, dimana kedua jalur tadi bertemu. Asyik sekali berbaris melangkah menyusuri jalur ini, desir angin yang meniup rerumputan di sekiling seolah menyanyikan senandung penuh kesyukuran, tak banyak yang kami bicarakan, malah lebih terkesan hening, hanya bunyi tapak sepatu yang mencium permukaan tanah berumput dan berdebu saja yang kadang mengisi keheningan.
Melewati  savana Oro Oro Ombo


Cemoro Lawang
Jika dilihat dari puncak tanjakan cinta tadi, maka jarak ke Cemoro Lawang tidaklah jauh, mungkin hanya butuh waktu tempuh sekitar 15 menit saja, namun begitu menapakinya, jarak yang seolah dekat itu  terasa jauh juga, apalagi panas matahari membakar di atas  kepala yang kadang membuat pusing, setelah berjalan hampir 20 menit, dan  keringat mulai membasahi sekujur tubuh, akhirnya kami tiba di Cemoro Lawang.
Cemoro Lawang adalah sebuah areal yang biasa digunakan para pendaki untuk beristirahat setelah melewati Oro Oro  Ombo. Dalam bahasa Indonesia, Cemoro Lawang dapat diartikan sebagi pintu cemara, atau lebih tepatnya lagi pintu untuk memasuki areal hutan Cemara. Bernaung di bawah rimbun pohon cemara setelah berpanas panasan menyeberangi Oro Oro Ombo sungguh menyejukkan, kami merebahkan diri di rumput sambil menikmati bekal. Satu rombongan pendaki  lain dari kota Bandung, sudah lebih dulu beristirahat di sana, bahasa sundanya kadang diselipi dengan beberapa kalimat mandarin, keakraban khas pendaki gunung segera tercipta, dari sekedar menanyakan nama, hingga saling menawarkan bekal makanan.
*****
Bersambung ke Bagian Empat.

No comments:

Post a comment

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...