Tuesday, 25 December 2012

Porter Juga Manusia

 Sang pembawa beban para pendaki ( Porter )

Bagi para pendaki, traveller, trekker,  atau hiker, tentu istilah porter bukanlah sesuatu yang asing, karena memang sebenarnya istilah porter bukanlah diperuntukkan hanya kalangan petualang semata, semua orang yang melakukan pekerjaan membawakan barang bagi seseorang dengan imbalan uang atau semacamnya dapat disebut porter. Jika anda ke bandara, seseorang pekerja bandara membantu membawakan barang anda dari tempat pengambilan bagasi ke mobil anda, ia juga dapat disebut seorang porter. Tapi bukan porter dalam pengertian itu yang akan kita bicarakan disini, saya lebih tertarik untuk membicarakan porter dalam pengertian kita sebagai seorang petualang, seorang pendaki atau seorang ekspeditor.

Secara sederhana dalam dunia penjelajahan dan pendakian gunung, porter diartikan sebagai sang pembawa barang, sama saja dengan porter di bandara, bedanya disini adalah jika porter bandara mungkin dapat menyelesaikan satu pekerjaannya dalam hitungan menit dan jam saja, dan sepertinya jarang juga ada pekerjaan porter bandara yang membutuhkan waktu berjam jam. Namun seorang porter gunung, atau seorang pembawa barang dalam sebuah perjalanan penjelajahan, membutuhkan waktu berhari hari, bahkan berbulan bulan untuk menyelesaikan satu pekerjaannya, tergantung dari selesai atau belumnya sebuah perjalanan sang penyewa jasanya.

Selain itu, seorang porter bandara tidak membutuhkan seleksi, perjanjian khusus ataupun kriteria tertentu sebagai pertimbangan bagi anda, untuk kemudian menyewa jasanya, sebuah deal kesepakatan kadang hanya dalam bentuk anggukan dan kerdipan mata saja. Beda halnya jika anda seorang pendaki gunung, ataupun seorang penjelajah yang sedang mencari seorang porter untuk membantu membawakan barang dan perlengkapan anda selama pendakian dan penjelajahan anda berlangsung. Tentunya selain memperhatikan fisiknya yang sehat, andapun akan mempertimbangkan attitude dan sikapnya, “ membaca” biodatanya walau hanya sekilas. Anda tidak akan begitu yakin menyewa jasa seorang porter yang berprilaku kasar dan tidak sopan, ataupun seorang porter yang berprilaku kemayu seperti banci, anda akan mencari yang lebih baik daripada itu tentunya.

Namun bukan itu yang akan kita bicarakan disini, bukan cara menyeleksi seorang porter handal dalam sebuah perjalanan atau pendakian gunung. Yang ingin saya sampaikan adalah tentang bagaimana sikap kita, perlakuan kita yang sepatutnya pada seorang porter gunung yang kita sewa.

 Seorang porter kadang memikul beban melebihi batas sewajarnya

Saat saya bersama 6 orang dari teman dari Arcopodo Adventure Indonesia mendaki gunung Latimojong di kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Januari 2011 silam. Kami menyewa jasa seorang porter untuk membantu membawa peralatan kami selama perjalanan, beliau adalah penduduk kampung di kaki gunung itu. Pada saat malam kedua dalam perjalanan itu, sebelum kami summit attack pada pagi harinya, sang porter dalam acara makan malam dan ngobrol ringan bercerita kepada kami.

“ Baru ini saya mengantar orang naik gunung dan mendapat perlakuan seperti ini mas, tidur ditenda yang sama, makan makanan yang sama, dan merokok rokok yang sama dengan yang diantar...”

Kami menoleh ke sang porter, beberapa pendaki baru mengerenyitkan dahi belum mengerti.

“ memang biasanya bagaimana bang..? “ tanya salah seorang diantara kami.

“ Ya biasanya saya tidur diluar tenda, makanan saya hanya diberi dua bungkus mie instan per hari, dan rokok bawa sendiri kalau ada mas...” jawab sang porter.

Saya tak perlu menyebutkan nama porter itu, tapi beliau sebagai porter sekaligus guide sangat berdedikasi dan memiliki integritas tinggi dalam tugasnya, secara pribadi, saya juga miris mendengar pernyataannya. Tidak pantas seorang pendaki gunung yang mengaku mencintai alam bermental ksatria pemberani memperlakukan seorang porter seperti itu.

 Salah satu porter di gunung Rinjani

Ketika mendaki gunung Semeru tahun 2010, saya juga mendapatkan pengalaman yang sama. saya camp di Kalimati, ketika malamnya saat hujan deras mengguyur Mahameru dan sekitarnya, saya keluar mendengar ada hiruk pikuk diluar tenda. Ternyata ada beberapa porter yang sedang memasak bersama menggunakan kayu bakar, mereka memasak sekaligus istirahat di bagian luar shelter Kalimati yang sempit itu, didalamnya beberapa pendaki bule yang mereka antar cekikikan tertawa. Porter itu sekitar 4 orang, masing masing mengangkut barang dari tim yang berbeda, 2 orang jika saya tidak salah ingat, mengantar beberapa pendaki dari Kanada dan India yang cekikikan dalam shelter, 2 orang lagi mengantar 2 kelompok pendaki domestik yang saya lupa berasal dari mana..

Walau mereka mengantar dan mengangkut barang dari tiga tim berbeda, saya melihat mereka memperoleh fasilitas yang sama : tidak ada fasilitas. Mereka makan dengan nasi asal matang yang dimasak seadanya dalam panci hitam penyok diatas kayu bakar, berselimut sarung dekil sambil berhimpitan menghindari rintik rintik hujan yang menerpa ditiup angin. Didalam tenda dan shelter, para pendaki yang mereka antar sedang bercanda riang menyuap corned, biskuit dan susu coklat hangat.

Hal seperti yang saya ungkapkan diatas, mungkin sudah merupakan cerita basi bagi banyak pendaki, atau malahan beberapa orang memiliki pemikiran yang sama dengan pendaki pendaki yang memperlakukan porter dengan cara seperti itu, tapi apakah harus begitu..? bukankah ada cara yang lebih baik daripada sekedar mem”babu”kan mereka selama pendakian berlangsung.

Memperlakukan mereka seperti layaknya kita ingin diperlakukan, hanya itu saja sebenarnya hal yang harus kita lakukan, memberi mereka makanan yang layak, menghormati dan menghargai mereka selama pendakian berlangsung, serta tentunya memberi mereka upah yang pantas. Dan seperti itu saja sudah cukup saya kira.

Buku perjalanan Sieling Go di Himalaya

Saya setuju sekali dengan perlakuan Sieling Go kepada porter dan guidenya, seperti yang ia tuturkan dalam bukunya Nyayian angin dalam celah gemunung Himalaya, Sieling memperlakukan porter dan guidenya sangat baik, bukan hanya satu atau dua, tapi empat. Mereka makan seperti makanan yang disantap Sieling, tidur di tenda eureka Sieling, dan sieling pun menghormati mereka semua tanpa membedakan life clas, hanya saja, pada akhir buku saat Sieling melampirkan fee yang ia berikan pada ke empat porter dan guide, ada perbedaan yang cukup signifikan antara fee yang diterima Big Pasang, Small Pasang dan dua guidenya. ( Sieling pasti memiliki alasan yang sangat masuk akal melakukan itu, tapi saya tidak tahu apa alasannya ).

Buku Biografi Lincoln Hall, salah satu pendaki besar dunia.

Beda seperti yang disampaikan Sieling Go, dalam bukunya Dead Lucky, Lincoln Hall menuturkan sisi lain dari dunia porter, guide dan sherpa. Hall menuturkan tentang perlakuan yang ia terima dari dua orang sherpa yang “menyiksa”nya saat perjalanan menurun dari punggung timur laut Everest. Dua orang sherpa yang diminta menemani Hall turun memeras dan memukulinya dalam perjalanan setelah Lincoln bangkit dari kematiannya di punggung Everest. Saya sarankan anda membaca buku itu jika penasaran dengan kalimat “ bangkit dari kematian”,  dibeberapa bab akhir, ketika Hall sudah tiba di Katmandu setelah turun dari ABC ( Advance  Base Camp ), ia mempunyai kesempatan untuk memberi sangsi kepada dua sherpa penyiksanya, tapi Hall putuskan untuk berpura pura lupa nama mereka, dan tak ingin memperpanjang masalah itu lagi, Hall hanya menunjukkan luka memar bekas pukulan kapak es si sherpa dilengannya pada beberapa sherpa lain, dan pada Alex, rekannya mendaki dari Rusia, dan persoalan itu selesai disana.

Apa yang Sieling lakukan pada porternya dalam perjalanannya menjelajah Himalaya patut ditiru, sebaliknya, perlakuan yang diterima Lincoln Hall dari dua sherpanya bukanlah alasan bagi kita untuk memarginalkan peran porter, Lincoln Hall sendiri tidak melakukan itu, ia tidak dendam, demikian yang ia tulis dalam bukunya. Sebenarnya adalah, perlakuan yang kita berikan kepada porter, sherpa dan orang orang yang kita bayar tenaganya untuk menyukseskan rencana kita, adalah cerminan pribadi kita sendiri. Jika anda memperlakukan mereka dengan baik dan hormat, maka Insya Allah begitu jugalah pribadi anda, baik dan terhormat. Kebalikannya, jika anda memperlakukan mereka dengan buruk, maka pribadi anda kurang lebih juga demikian.

Saya sunnguh miris terkadang melihat kenyataan, seorang porter yang membawa beban melampaui berat tubuhnya sendiri, tertatih tatih mendaki tebing dan meniti jurang, lalu diperlakukan kasar dan buruk oleh “majikan”nya, dibayar rendah dan kadang ditambahi dengan kalimat kalimat menyayat dan meremehkan.

Akan sangat banyak untungnya jika kita bisa “mengambil” hati mereka dengan sikap kita, bukan hanya mengambil tenaga mereka dengan uang kita.

Keceriaan bersama Arcopodo Team Indonesia, X 4 Malaysia, dan porter  gunung Semeru

Saya pribadi lebih suka mendaki solo, dan jika mendaki sebuah gunung di suatu daerah yang baru dan asing bagi saya, saya tak segan untuk mengajak seorang guide sekaligus porter menemani saya. Beberapa pengalaman menyenangkan bersama sang guide atau porter membekas hingga sekarang, sambutan keluarganya sangat antusias dengan kehadiran saya, karena setelah turun gunung biasanya saya sempatkan diri untuk mampir ke rumah mereka, memperoleh informasi lebih banyak tentang daerah tersebut dari cerita mereka, kenal dengan anggota keluarganya, dan mengenal mereka lebih dekat tentunya. Itu adalah pengalaman perjalanan gunung yang lebih lengkap dan berbeda, bukan hanya sebatas fokus tentang puncak dan titik tertinggi.

Akhirnya, seperti dalam Al’Quran surah Ar Rahman ayat 60,61 :

“ Tidak ada balasan kebaikan, melainkan kebaikan (pula), maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan...”

Demikianlah sikap yang harusnya hadir dari seorang pendaki gunung terhadap porter porter mereka, Memperlakukan mereka dengan baik, karena tidaklah kebaikan kita akan sia sia, akan dibalas kebaikan juga, dan janji ini adalah dari Allah SWT, Dzat Yang Maha menepati janji, yang nikmat lembah lembah-Nya, gunung gunung-Nya, tebing tebing-Nya sering kita cumbu dan nikmati.
Maka bersikap baiklah pada porter anda, mereka juga manusia...

Photo : Arcopodo Adventure Indonesia dan berbagai sumber.

4 comments:

  1. kita memang harus menghormati mereka,,

    ReplyDelete
  2. Anton Sujarwo, Keren nih mas. setuju saya dgn isi nya "Porter Juga Manusia", sejauh ini saya masih menghindari menggunakan jasa porter. sebisa mungkin saya bawa sendiri alat yang saya butuhkan di gunung, walau kadang sedikit menyiksa badan. Mungkin ketika fisik saya sudah tidak mendukung, tidak ada pilihan lain selain saya minta porter bawa alat saya di dalam duffel. kekekeke

    ReplyDelete
  3. Saya pernah nemuin begini juga mas, waktu itu ada 3 porter jadi satu. Sama kaya yang mas temuin di kalimati, mereka mau masak dan saya liat seadanya. Berhubung saya dsn team mau masak juga ya sekalian saya ajak masak dan makan bareng, mereka sambil makan bilang "Baru kali ini ketemu pendaki, padahal bukan orang yang kita tolong ngajak makan bareng dengan makanan yang sama dan ngopi bareng"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas Doni, hal semacam ini harus kita budayakan mas,, memanusiakan porter.
      terimakasih sharingnya mas.

      Delete

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...