Monday, 18 January 2021

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pada musim dingin sepanjang sejarah umat manusia, akhirnya berhasil dicapai kemarin. 10 sherpa terbaik dari Nepal membuat sejarah baru di atas puncak K2, dan mereka melakukannya dengan cara yang sangat luar biasa.

Tragisnya bersamaan dengan keberhasilan para pendaki gunung Nepal mencapai puncak K2 sebagai winter first ascent, Sergio Mingote dari Spanyol juga tewas karena terjatuh di gunung yang sama. Sebelumnya Sergio telah mencapi Camp 3, namun memutuskan untuk kembali ke base camp terlebih dahulu dan menunggu cuaca lebih baik.

Kisah lengkap tentang pencapaian tim Nepal dalam pendakian musim dingin pertama di K2 dapat dibaca  dengan lengkap dalam tulisan di website Akasaka Outdoor Indonesia berikut ini.

Puncak Gunung K2 Sebagai Tahta Terakhir Puncak Musim Dingin Gunung Delapan Ribu Meter

Barisan gunung-gunung tertinggi di dunia yang paling prestisius sebagai tujuan mountaineering jumlahnya ada 14. Oleh karena itu, gunung-gunung ini juga kadang lebih dikenal dengan istilah fourteen eight thousanders atau dalam istilah lain disebut juga sebagai Crown of Himalaya (Mahkota Himalaya). 14 gunung ini semuanya berada di dua medan pegunungan paling spektakuler di dunia yakni; Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Karakoram.

Empat belas gunung tertinggi di dunia yang ada wilayah Pegunungan Himalaya dan Pegunungan Karakoram tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Gunung Everest
  2. Gunung K2
  3. Gunung Kangchenjunga
  4. Gunung Lhotse
  5. Gunung Makalu
  6. Gunung Manaslu
  7. Gunung Cho Oyu
  8. Gunung Shishapangma
  9. Gunung Dhaulagiri
  10. Gunung Annapurna I
  11. Gunung Nanga Parbat
  12. Gunung Broad Peak
  13. Gunung Gasherbrum II
  14. Gunung Gasherbrum I atau Hidden Peak

Nah, dari 14 puncak gunung dengan ketinggian di atas 8.000 meter ini, hingga tanggal 15 Januari 2021 kemarin, hanya puncak gunung K2 yang sama sekali belum tersentuh di musim dingin. Sementara 13 puncak gunung delapan ribu meter lainnya, semuanya sudah berhasil dicapai puncaknya di musim dingin, yang pencapaian itu hampir mayoritas dilakukan oleh para pendaki gunung dari Polandia.

Puncak Gunung K2 yang dianggap sebagai yang tersulit, sebagai yang paling teknis untuk ditaklukkan dan yang paling banyak memakan korban para pendaki gunung terbaik di dunia, masih bertahan sebagai satu-satunya raksasa delapan ribu meter yang tidak tersentuh di musim dingin. Sudah ada cukup banyak ekspedisi terbaik dunia yang mencobanya, namun belum ada yang berhasil sampai kedatangan para pendaki terbaik Nepal pada tanggal 16 Januari 2021 kemarin.

Kemarin, 16 Januari 2021, sekitar jam 17:00 atau jam 05 sore waktu K2, kebuntuan puncak musim K2 dingin berhasil diakhiri. Orang-orang yang berhasil mencapai puncak gunung tersulit di dunia ini adalah para kstaria gunung yang sesungguhnya. Sherpa dari Nepal adalah para petarung gunung yang sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang selama dikenal bekerja keras dan bertaruh nyawa untuk kesuksesan dan nama besar para pendaki lain.

Namun tahun ini di K2, di puncak gunung tertinggi di dunia yang kedua, para Sherpa membuat sejarah untuk mereka sendiri, untuk negara mereka, dan untuk manusia-manusia yang selama ini seakan bekerja dalam bayang-bayang kesuksesan orang lain. K2 winter first ascent kemarin akan membuat sejarah baru sekaligus mengubah beberapa cara pandang tentang aktivitas mountaineering yang selama ini mendominasi banyak pemikiran manusia.

BACA JUGA:

Daftar 10 Sherpa atau Pendaki Gunung Nepal yang Membuat Sejarah Winter First Ascent di K2

Selain berhasil membuat sejarah sebagai pendakian pertama di puncak K2 pada musim dingin, para pendaki gunung Nepal atau yang biasa disebut dengan Sherpa ini juga melakukan pemuncakan dengan cara yang sangat luar biasa. Mereka secara sangat kompak dan dipenuhi semangat persaudaraan yang tinggi, memutuskan untuk saling menunggu pada 10 meter menjelang puncak tertinggi gunung K2.

Keputusan ini menjadi sebuah pembeda dalam mountaineering tentang apa yang disebut dengan ‘ego pemuncakan’. Dengan 10 orang melangkah bersama menuju bagian terakhir dari puncak gunung musim dinginnya belum terjamah, maka dunia tidak perlu diributkan dengan perdebatan siapa yang mencapai puncak itu pertamakalinya.

Pada sudut pandang yang lebih luas, keputusan ini juga membuat penghargaan atas keberhasilan K2 winter first ascent tidak lagi berkutat pada dunia individual, namun pada sebuah nilai kebersamaan dan nasionalisme dari putera-putera terbaik bangsa Nepal.

Sepuluh pendaki Nepal yang kemarin berhasil mencapai puncak K2 sebagai winter first ascent adalah sebagai berikut;

  1. Nirmal Purja atau Nimsdai
  2. Gelje Sherpa
  3. Mingma David Sherpa
  4. Mingma G
  5. Sona Sherpa
  6. Mingma Tenzi Sherpa
  7. Pem Chirri Sherpa
  8. Dawa Temba Sherpa
  9. Kili Pemba Sherpa
  10. Dawa Tenjing Sherpa

Kabar terakhir mengatakan bahwa 10 pendaki gunung Nepal ini telah berhasil turun ke Camp 4 kemudian Camp 3, 8 orang bermalam di sana, sementara Sona Sherpa dan Gelje Sherpa melanjutkan perjalanan turun hingga ke base camp.

Luar biasa!

Selamat untuk para pendaki Nepal! Selamat untuk para sherpa!

Dengan segala determinasi dan dedikasi yang mereka miliki, mereka memang layak mendapatkan hal ini.

DOWNLOAD SEJARAH LENGKAPPENDAKIAN GUNUNG DALAM BUKU MAHKOTA HIMALAYA DISINI

Berita Lain Tentang Ekspedisi Musim Dingin di K2 Tahun 2020/2021

Selain keberhasilan para sherpa membuat winter first ascent di K2 yang sangat luar biasa, hari yang sama justru menjadi kelabu bagi dunia mountaineering Spanyol. Sergio Mingote, salah satu pendaki besar dari negeri Catalan, kemarin dihantam rockfall dan terjatuh, kemudian tewas di kaki gunung K2.

Kehilangan Sergio Mingote benar-benar kesedihan yang mendalam bagi insan mountaineering. Ia adalah salah satu pendaki gunung yang sangat berprestasi, punya banyak sifat baik dan dikenal dengan jiwa yang rendah hati. Sergio juga ikut berpartisipasi dalam ekspedisi musim dingin di K2 tahun ini bersama dengan Tamara Lunger (pendaki Italia), Alex Gavan dan dua orang pendaki gunung Polandia.

Kabar lain dari K2 tentu saja tentang pendaki gunung Pakistan dan anaknya: Hasan Sadpara dan Ali Sadpara, yang info terakhir ada di Camp 2 bersama dengan John Snorri. Jika tidak ada kendala, mereka mungkin saja akan berpeluang untuk menambah pemuncakan di musim dingin K2 tahun ini sebagai K2 winter second ascent.

Kita tunggu saja  berita selanjutnya.

KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA


Friday, 1 January 2021

7 FAKTA TENTANG GUNUNG K2 YANG TIDAK BANYAK DIKETAHUI

 


Gunung K2 di Pakistan adalah salah satu gunung tertinggi di dunia yang memiliki banyak sekali keistimewaan untuk diceritakan. Sebagai salah satu raksasa gunung dunia, K2 memiliki aura sempurna untuk menjadi medan penjelajahan para pendaki gunung terbaik dunia. Ketinggiannya, sejarahnya, puncaknya, bahkan kematian yang terjadi di atasnya, adalah bagian dari hal-hal luar biasa tentang gunung K2.

Lalu, apa sajakah fakta paling menarik dari gunung K2 yang saat ini sedang menjadi medan kompetisi para pendaki gunung terbaik di dunia?

Nah, berikut ini adalah 7 fakta paling menarik tentang gunung K2 terkait dengan statusnya sebagai gunung tertinggi dan tersulit dunia.

Artikel ini bersumber dari www.akasakaoutdoor.co.id

Informasi lebih lengkap tentang gunung K2 dan gunung-gunung spektakuler lainnya dapatanda baca pada tautan berikut ini.

5 Fakta Paling Menarik dari Gunung K2 Sebagai Gunung Paling Sulit Didaki di Dunia


Nama asli gunung K2 sebenarnya adalah Chogo Ri atau Chogori menurut sebutan orang-orang Baltistan yang menjadi wilayah terdekat tempat gunung K2 berada. Namun seiring berjalannya waktu, nama Chogo Ri atau Chogori kurang populer. Nama lain yang juga sempat disematkan untuk gunung ini adalah gunung Goldwin Austin, namun itu juga tidak sukses untuk dipopulerkan.

K2 kemudian tampil sebagai nama yang paling dikenal untuk gunung dengan ketinggian elevasi 8.611 mdpl ini. Hal ini mungkin sama seperti nama Chomolungma dan Sagarmatha yang tidak begitu populer untuk mengenal Everest. Ketika Everest adalah nama yang dikenal untuk gunung tertinggi di muka bumi, maka nama K2 adalah nama yang seringkali dikenal sebagai gunung dengan predikat paling sulit didaki di dunia.

Lantas, apa sih alasan untuk mengatakan bahwa K2 adalah gunung yang paling sulit didaki di dunia? Dan apa pula berbagai fakta menarik yang paling sering dikaitkan dengan raksasa bernama K2? Nah, berikut ini adalah penjelasan lengkapnya.

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

Fakta Pertama: Gunung K2 adalah Runner Up Gunung Tertinggi di Dunia


Jika diukur dari permukaan laut, maka tidak terbantahkan lagi bahwa Everest adalah gunung tertinggi di dunia dengan ketinggian elevasi mencapai 8.848 meter. Sementara jika diukur dari dasar laut, gunung Mauna Kea di Pegunungan Hawaii, secara data mampu mengungguli Everest dengan ketinggian mencapai 10.210 meter.

Sebagai gunung paling tinggi dunia, Everest menjadi gunung tertinggi di lempeng benua Asia, dan semua benua lainnya di muka bumi. Karena ketinggiannya ini, Everest telah menjadi impian para pendaki dari seluruh dunia. Bagaimana pun juga jika berbicara tentang Everest, ketinggian elevasinya yang menyentuh cakrawala adalah keistimewaan paling signifikan dari gunung ini.

Nah, gunung K2 yang terletak di Pegunungan Karakoram, Pakistan, berbatasan pula dengan China di sisi utara, adalah gunung kedua tertinggi di dunia setelah Everest. Ketinggian gunung K2 memiliki selisih 237 meter lebih rendah dibandingkan Everest.

Namun sebagai gunung dengan ketinggian runner up di dunia, K2 tentu saja menjadi raja gunung tinggi di Pegunungan Karakoram, menggungguli gunung tertinggi populer lainnya di kawasan itu seperti Nanga Parbat, Gasherbrum, dan juga Broad Peak.

Fakta Kedua: Gunung K2 adalah Gunung 8.000 Meter Tersulit di Dunia


Pamor gunung K2 yang sangat menantang telah menginspirasi banyak orang untuk membuat cerita tentangnya. Selain tulisan dalam bentuk buku, film gunung K2 juga termasuk yang paling banyak dibuat selain film tentang gunung Everest. Beberapa contoh film tentang gunung K2 misalnya adalah Breathtaking K2 yang menceritakan pendakian Carla Perez dan Adrian Ballinger. Kemudian ada lagi K2: The Ultimate High, K2: Tha Savage Mountain, dan juga Gripping The Summit.

Namun, tahukah kamu film apa yang paling terkenal tentang gunung K2?

Jawabannnya adalah Vertical Limit.

Ya, sejauh ini Vertical Limit adalah film pendakian gunung K2 yang paling sukses dan populer. Film fiksi yang bercerita tentang upaya penyelamatan para pendaki gunung yang terjebak di ceruk es gunung K2 ini, adalah film pendakian gunung yang dianggap paling sukses sepanjang masa hingga saat ini.

Menariknya lagi, film Vertical Limit adalah satu-satunya film fiksi populer tentang K2. Film-film lain tentang K2 seperti K2: The Savage Mountain, Gripping The Summit, K2: The Ultimate High dan berbagai judul lainnya, adalah film dokumenter yang sepenuhnya berkisah tentang sebuah pendakian atau tragedi di gunung K2.

Fakta Ketiga: Gunung K2 adalah Gunung 8.000 Meter Terakhir yang Musim Dinginnya Tidak Terkalahkan


Jika kamu mengikuti berita tentang mountaineering dunia dari internet saat ini, kamu pasti akan tahu apa yang terjadi di gunung K2 pada bulan Desember 2020 hingga Februari 2021 mendatang. Ada hampir 60 orang para pendaki gunung sedang berjibaku untuk berlomba menjadi orang pertama yang mencapai puncak K2 pada musim dingin tahun ini.

K2 adalah satu-satunya gunung delapan ribu meter di Pegunungan Himalaya dan Karakoram yang belum berhasil dicapai puncaknya pada musim dingin. Gunung-gunung delapan ribu meter yang lain yang terkenal dengan istilah fourteen eight thousanders atau Mahkota Himalaya, semuanya sudah berhasil ditaklukkan pada musim dingin. Bahkan Everest yang merupakan gunung 8.000 meter paling tinggi, adalah gunung pertama yang berhasil ditaklukkan oleh pendaki Polandia pada musim dingin tahun 1990.

Sebelumnya ada dua gunung delapan ribu meter yang tak terkalahkan pada musim dingin; yakni gunung Nanga Parbat dan gunung K2. Semuanya ada di Pegunungan Karakoram. Akan tetapi pada tahun 2016, puncak Nanga Parbat berhasil dicapai oleh eksepedisi internasional yang beranggotakan empat orang pendaki gunung terbaik dunia, dan 3 di antara mereka berhasil menjadi winter first ascent.

Para pendaki tersebut adalah; Muhammad Hasan Sadpara dari Pakistan, Simone Moro dari Italia, Alex Txikon dari Spanyol. Sementara yang tidak mencapai puncak adalah Tamara Lunger, ia adalah pendaki perempuan tangguh dari Italia.

Dengan tercapainya puncak musim dingin gunung Nanga Parbat pada tahun 2016, maka hingga saat ini, K2 adalah satu-satunya gunung delapan ribu meter di dunia yang belum terkalahkan di musim dingin.

Fakta Keempat: Gunung K2 adalah Gunung yang Paling Banyak Membunuh Para Pendaki Terbaik Dunia


Fakta menarik selanjutnya tentang gunung K2 adalah tentang reputasinya yang tidak ramah untuk para pendaki, bahkan yang terbaik sekali pun. Sepanjang sejarah pendakiannya, gunung K2 telah membunuh banyak sekali pendaki gunung terbaik dunia. Tak mengherankan pula atas catatannya ini, K2 juga mendapatkan julukan yang dramatis yakni The Savage Mountain atau Si Gunung Buas.

Di gunung K2 Pakistan secara administratif memang terletak di jantung pegunungan Karakoram anatara Pakistan dan Xinjiang, China. Gunung-gunung di wilayah ini memang terkenal dengan tingkat kesulitannya. Bahkan K2 sendiri sudah umum dikenal sebagai gunung dengan tingkat kesulitan yang jauh melampaui gunung Everest. Maut dan bahaya di gunung K2 adalah kombinasi antara ketinggian, angin badai, longsoran es, tebing teknis, dan cuaca yang sangat sulit untuk diprediksi.

Lantas siapa sajakah para pendaki gunung terbaik di dunia yang telah menjadi mangsa gunung K2?

Beberapa yang paling populer mungkin adalah; Alison Jane Hargreaves, Alan Rouse, Julie Tullis dari Inggris. Kemudian ada juga Marty Schmidt  dan Denali Schmit dari Selandia Baru, ada juga Tadeusz Piotrowski dan Dobroslawa Miodowicz dari Polandia,  Renato Casarotto dari Italia, Fredrick Ericcson dari Austria, serta dua sejoli pendaki gunung tinggi dari Perancis; Liliane Barrard dan Maurice Barrard yang tewas dalam eskpedisi mereka di K2 tahun 1996.

Dengan begitu banyak kematian  para pendaki gunung terbaik di atas tebing-tebingnya, rasanya memang tidak berlebihan untuk menyebut sebagai The Savage Mountain alias Si Gunung Kejam.

Fakta Kelima: Gunung K2 adalah Medan Perang Terakhir Para Pendaki Gunung Sejati


Selanjutnya fakta kelima tentang gunung K2 yang berhasil dihimpun oleh Akasaka Outdoor adalah gunung ini merupakan gunung dimana kompetisi mountaineering yang terakhir akan terjadi. Dan ini tentu saja sudah menjadi kenyataan jika melihat bagaimana antusiasnya perhatian dunia mountaineering global atas pendakian musim dingin di K2 tahun ini.

Ada banyak nama populer yang sedang ramai memperebutkan puncak musim dingin K2 saat ini. Beberapa nama yang cukup familiar untuk dikenal mungkin adalah; Muhammad Hasan Sadpara dan anaknya; Sajid Sadpara, Nimsdai atau Nirmal Purja yang tahun lalu berhasil membuat rekor mendaki 14 belas puncak gunung delapan ribu meter hanya dalam waktu 7 bulan.

Selain Nimsdai, Hasan Sadpara dan Sajid Sadpara, ada pula nama lain seperti Mingma Gyalje Sherpa, Dawa Sherpa, Sergi Mingote, Tamara Lunger, Tim Seven Summits Trek dan masih banyak yang lainnya. Kehadiran nama-nama besar ini dalam perebutan puncak musim dingin di K2 adalah bukti sempurna untuk mengatakan bahwa K2 adalah medan pertarungan terakhir para pendaki gunung terbaik dunia di musim dingin.

Fakta Keenam: Gunung K2 adalah Gunungnya Para Pendaki Gunung


Ada cukup banyak gunung sulit dan mematikan untuk didaki di dunia. Selain K2 ada juga gunung Kangchenjunga yang merupakan gunung tertinggi ke-3 di dunia, tertinggi ke-2 di Nepal dengan elevasinya yang menjulang di atas 8.586 meter. Gunung Kangchenjunga sendiri memiliki 5 puncak di sekitar puncak utamanya. Puncak-puncak ini dikenal dengan istilah Kangchenjunga Massif yang salah satunya puncak paling terkenalnya bernama Yalung Kang Peak.

Dikarenakan memiliki 5 pucak tertinggi pada Kangchenjunga Massif, nama Kangchenjunga diketahui juga mengandung makna sebagai Lima Harta Karun Puncak Salju. Masyarakat kaki gunung ini percaya bahwa ada harta yang demikian banyak terpendam di bawah Kangchenjunga.

Meskipun gunung seperti Kangchenjunga terkenal sebagai gunung yang penuh daya tarik mengalahkan Everest, namun itu tetap tidak dapat mengalahkan K2. Hingga sekarang K2 tetap dikenal sebagai gunungnya para pendaki gunung sejati.

Jadi, jika Everest adalah gunung idaman banyak orang karena ketinggiannya, maka pendaki gunung

Fakta Ketujuh: Gunung K2 adalah Raja Gunung yang Sebenarnya


Dilihat dari bentuknya, sejarah pendakiannya, lokasinya tempatnya berdiri, serta berbagai tragedi yang terjadi selama proses mencapai puncaknya, banyak orang bersepakat bahwa gunung K2 adalah raja gunung yang sebenarnya. Jadi, bukan Everest, bukan Kanchengjunga, bukan pula Annapurna yang menjadi raja gunung dunia, melainkan K2. K2 adalah maharaja gunung yang ada di muka bumi ini.

Dari bentuknya yang menyerupai piramida sempurna, K2 tentu memiliki bentang elevasi yang dramatis dan sangat teknis. Sementara dari sisi lokasinya yang persis berada di pedalaman pegunungan Karakoram, K2 tentu saja susah dijangkau, bahkan butuh waktu hampir dua minggu lamanya hanya untuk mencapai kaki gunungnya saja.

Berbagai hal yang membuat gunung K2 demikian terasing, demikian sulit untuk digapai, dan demikian legendaris untuk diceritakan, telah mengukuhkan K2 sebagai raja sebenarnya dari berbagai gunung-gunung untuk didaki di dunia.

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

 

Tuesday, 22 September 2020

TERNYATA INI KISAH SURVIVAL PALING TERKENAL DI GUNUNG K2

 “Kami memasuki gunung K2 saat itu sebagai orang asing yang tidak saling mengenal, tetapi kami meninggalkannya (K2) sebagai saudara" Charles Houston

 

Poster film The Summit yang rilis tahun 2012 berkisah tentang musibah di gunung K2 tahun 2008. Dengan imajinasi yang lebih jauh ke belakang, kita mungkin dapat pula membayangkan bahwa pristiwa The Belay yang terjadi 59 tahun sebelum film ini dirilis, memiliki gambaran yang tidak jauh berbeda seperti yang dilukiskan oleh cover The SummitSumber foto: Google image

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<  

EKSPEDISI KE-4 DI K2


Dalam daftar nama-nama para pendaki gunung dunia dengan prestasi yang patut untuk dicatat dan diingat, nama Art Gilkey dengan berat hati harus kita katakan, belum layak untuk dimasukkan dan disebut legenda. Pencapaian Art Gilkey dalam mountaineering biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang masih jauh dibawah kelayakan untuk disebut menarik. Satu-satunya prestasi tertinggi Gilkey dalam pendakian gunung adalah keikutsertaannya dalam ekspedisi Amerika tahun 1953 ke gunung K2 yang dipimpin oleh Dr. Charles Snead Houston, pendaki Amerika yang juga ikut berpartisipasi dalam ekspedisi Inggris Amerika pada tahun 1936 ke Nanda Devi. Keikutsertaan Art Gilkey ke K2 pada tahun 1953 ini sekaligus menjadi moment yang membuat namanya dicatat abadi dalam sejarah mountaineering dunia meskipun dari sisi pencapaian, ekspedisi ini tak mencapai apa-apa selain kematian dan kegagalan. Penjelajahan lain dari nama Art Gilkey yang dapat kita temukan dalam catatan sejarahnya adalah petualangannya ke Alaska pada tahun 1950 dan 1952, namun tidak ada catatan signifikan mengenai apa yang telah dilakukan Gilkey dalam dua kali kunjungannya ke Alaska tersebut.

Daripada sebagai seorang mountaineer, Art Gilkey pada umumnya lebih banyak dikenal sebagai seorang ilmuwan geologis yang cukup berwawasan. Disertasi Gilkey yang berjudul “Fracture Pattern of the Zuni Upliff” telah mengantarkan namanya untuk meraih gelar Doktoral pada beberapa waktu menjelang kematiannya. Zuni Upliff atau Zuni Mountain yang menjadi objek penelitian dalam disertasi Gilkey adalah sebuah gunung yang terletak di negara bagian Cibola Country, barat laut New Meksiko, puncak tertinggi dari gunung ini adalah Mount Sedgwick yang memiliki ketinggian elevasi sejauh 2.821 meter.

Perjalanan Art Gilkey ke Alaska pada dasarnya juga merupakan bagian dari jurnal ilmiahnya, meskipun hal ini membuka peluang juga bagi Gilkey untuk mengenal lebih jauh medan yang telah menjadi bidang ketertarikan saintisnya. Dalam ekspedisi Amerika ke gunung K2 tahun 1953, nama Art Gilkey bukan satu-satunya ilmuwan yang direkrut sebagai anggota pendakian. Selain Gilkey ada beberapa nama lain yang juga bergabung dalam ekspedisi kecil ini untuk alasan petualangan, ambisi penaklukan, dan juga ilmu pengetahuan.

Charless Houston yang menjadi kunci dari ekspedisi orang-orang Amerika ke K2 tahun 1953 ini adalah orang yang juga sudah pernah mendatangi gunung ini pada tahun 1938 sebelumnya. Sampai ekspedisi Amerika tahun 1953, terhitung baru ada empat usaha serius untuk mencapai puncak K2 sejak gunung ini muncul dalam peta sebagai salah satu destinasi pendakian gunung Himalaya dan Karakoram.

Upaya pertama mendaki K2 dilakukan oleh Oscar Eickenstein, Aleister Crowley, Jules Jacot-Guillarmod, Heinrich Pfannl, Guy Knowles dan juga Victor Wessely melalui punggungan timur laut pada tahun 1902. Ekspedisi ini gagal mencapai puncak dan mendapat begitu banyak rintangan.

Rintangan pertama Eickenstein dan Aleister Crowley ditangkap oleh pihak pemerintah setempat atas permintaan dari Martin Conway.13.1 Tuduhan spionase yang dialamatkan kepada Eickenstein dan Crowley diduga hanyalah rekayasa Conway untuk menghambat upaya ekspedisi pertama ini mencapai puncak K2.

Selanjutnya tantangan kedua yang menimpa ekspedisi Inggris dan Swiss ini adalah perjalanan yang demikian berat hanya untuk mencapai kaki gunungnya. Berdasarkan catatan masa itu dibutuhkan waktu empat belas hari bagi tim ekspedisi pimpinan Oscar Eickenstein untuk bisa mencapai kaki gunung K2.

Tantangan ketiga adalah sakit yang menimpa beberapa anggota ekspedisi, Aleister Ceowley terkena efek residual malaria sementara Heinrich Pfannl menunjukkan gejala edema. Kemudian ada juga cuaca buruk yang seolah tak mau beranjak dari K2. Selama ekspedisi berlangsung hanya ada 8 hari yang cerah di antara 68 hari masa pendakian. Meskipun demikian ekspedisi ini bertahan pada ketinggian 6.500 meter dan membuat rekor yang menakjubkan bertahan lebih dari dua bulan di atas ketinggian mematikan.

Foto buram Dr. Charles Houston saat meniti jembatan tali di salah satu medan pendakian Himalaya. Houston dapat dibilang sebagai sosok pertama yang memperkenalkan bermacam teori tentang penanganan medis untuk penyakit ketinggian. Sumber foto: Los Angeles Time

Mempertimbangkan kondisi peralatan pada masa itu, tantangan alam buas yang tak kenal belas kasihan, juga kondisi pakaian yang dapat melindungi anggota ekspedisi yang berlangsung hampir selama ekspedisi, upaya pertama di K2 ini patut untuk mendapatkan apreasiasi tentang semangat dan keberanian mereka. Meskipun pada akhirnya, kombinasi segala rintangan ini dan juga konflik pribadi antar anggota ekspedisi (antara yang ingin meneruskan ekspedisi dan ingin mengubah rencana di lain hari), membuat upaya pendakian puncak K2 yang pertamakalinya disudahi dengan kegagalan. Ketika tidak ada lagi yang dapat ia lakukan untuk meneruskan pendakian, Eickenstein memutuskan untuk menarik semua anggotanya mundur dari K2.

Ekspedisi kedua yang mendatangi K2 adalah pada tahun 1909 dibawah komando Duke of the Abruzzi, pangeran Luigi Amadeo. Tim ini mengambil rute sisi tenggara gunung, namun terhenti pada ketinggian 6.250 meter di sebuah tempat yang dinamakan South East Spur13.2.

Merasa buntu melalui rute tenggara, Luigi Amadeo mengajak timnya untuk mengitari gunung dan mencari sisi yang paling memungkinkan bagi mereka untuk naik. Akan tetapi setelah mencoba semua sisi K2 dan tak menemukan celah yang memungkinkan, Duke of the Abruzzi kemudian mengatakan bahwa K2 selamanya tidak akan pernah bisa didaki. Kemudian ia pindah ke Chogolisa, di mana ia dan para pendakinya terhenti 150 meter sebelum mencapai puncak karena dihalau oleh badai gunung Chogolisa yang ganas.

Nama Charles Houston kemudian muncul pada tahun 1938 untuk pertamakalinya di K2. Houston dan timnya menyimpulkan bahwa rute melalui Abruzzi Spur yang ditinggalkan oleh pangeran Luigi Amadeo tahun 1909, adalah rute yang paling mungkin untuk mencapai puncak K2. Pendakian Houston dan timnya berhenti pada ketinggian 8.000 meter ketika kehabisan suply makanan dan risiko cuaca buruk mengusir tim ini dari dinding gunung.

Setahun setelah kehadiran Houston di K2, gunung itu kedatangan tamu lagi. Kali ini seorang pendaki gunung berdarah Jerman Amerika bernama Fritz Wiessner yang bahkan mampu mendaki mencapai ketinggian 200 meter di bawah puncak tertinggi K2. Namun sirdarnya yang bernama Pasang Dawa Lama meminta untuk menghentikan pendakian ketika empat anggota ekspedisi13.3 hilang ditelan badai.

Ada sebuah asumsi yang berkembang jika Fritz Wiessner bersikeras untuk melanjutkan pendakian, kemungkinan besar puncak K2 dapat dicapai pada tahun 1939, artinya tidak harus menunggu tahun 1954 dimana ekspedisi Italia pimpinan Ardito Desio membuat first ascent melalui nama Lino Lacedelli dan Achille Compagnoni.

Namun demikian, keputusan untuk mundur saat itu dinilai sudah tepat bagi sebagian besar pendaki gunung dunia. Seumpama saja Wiessner bersikeras untuk tetap melanjutkan pendakian dan mencapai puncak K2, maka keberhasilan itu tak akan bisa dirayakan dengan sempurna. Kehilangan empat nyawa dalam sebuah ekspedisi sama sekali bukan bagian dari makna kesuksesan first ascent gunung tersulit di dunia. Jika Wiessner tetap memaksakan diri mengikuti ambisinya saat itu, ia mungkin akan dikenang sebagai salah satu alpinis brutal dan tak berpikemanusiaan yang pernah ada. Untung saja ia mengikuti permintaan sirdarnya, dan reputasinya kemudian tetap bergaung sebagai salah satu pionir pemanjat tebing terbaik di Amerika hingga sekarang.

Hanya Charles Houston yang tertarik untuk kembali lagi ke K2 di antara empat ekspedisi sebelumnya. Mulanya Houston berniat untuk mengunjungi gunung ini pada tahun-tahun sebelum pertengahan abad ke-20, namun karena perang dunia ke-2 yang meletus membuat rencananya terpaksa ditunda. Tahun 1953 akhirnya pemerintah otoritas Pakistan mengeluarkan izin untuk Charles Houston kembali ke K2. Dan pada upayanya yang kedua ini, Houston ingin menerapkan sebuah gaya pendakian yang berbeda dengan sebelumnya.

Di Amerika, Houston merekrut dan menyeleksi beberapa pendaki gunung dan juga ilmuwan yang tertarik untuk ikut ekspedisi. Tim ini nantinya direncanakan akan melakukan pendakian secara alpine style, meskipun pada kenyataannya jasa Hunza (porter di Pakistan) tetap digunakan walau hanya bisa mencapai Camp II.

Pendakian ini juga nantinya direncanakan tidak akan menggunakan tabung oksigen, bukan karena para pendaki itu sepakat tak membutuhkannya, namun mereka sepakat bahwa membawa benda itu akan terlalu memberatkan pendakian yang sudah tidak didukung oleh sumberdaya yang cukup lagi.

Sebelum ekspedisi bertolak menuju Pakistan, terkumpul delapan nama yang siap melakukan pendakian menuju K2. Berikut adalah profil singkat mereka;

  1. Charles Houston, pemimpin ekspedisi sekaligus orang paling berpengalaman di gunung Himalaya. Experience Houston di Nanda Devi dan K2 pada beberapa tahun sebelumnya telah membuatnya dianggap paling mengerti skenario pendakian.
  2. Robert Bates, seorang pendaki gunung, penulis sekaligus guru. Bates sama seperti Houston, ia juga adalah alumni ekspedisi K2 tahun 1938. Pengalaman lain dari Bates adalah ia merupakan teman Bradford Washburn saat melakukan pendakian first ascent di Mount Lucania di Yukon.
  3. Robert Bob Craig, seorang pria berusia 28 tahun yang berprofesi sebagai instruktur ski mountaineering yang berpengalaman dari Seattle, Craig telah melakukan pendakian first ascent secara mengesankan di Devil’s Thumb, British Columbia.
  4. Dee Molenaar, seorang pelukis landskap berusia 34 tahun, merupakan teman dari Bob Craig. Selain seorang seniman, Molenaar juga adalah seorang geologist berpengalaman, ia juga telah menyelesaikan pendakian Mount Saint Elias, Alaska beberapa waktu sebelumnya.
  5. Art Gilkey, seorang geologist dan ilmuwan yang mempelajari gletser dari Iowa. Selain ilmuwan murni, latar belakang lain dari Art Gilkey adalah seorang pemanjat tebing.
  6. Peter Kittilsby Schoening atau Pete Schoening, pendaki gunung dari Seatlle. Selain pendaki gunung, Schoening juga berprofesi sebagai seorang insinyur kimia. Pengalamannya yang cukup signifikan sebelum tahun 1953 adalah memimpin ekspedisi pendakian yang sukses di Yukon.
  7. George Bell, seorang fisikawan, imuwan nuklir berusia 27 tahun dari Los Alamos yang telah membuat banyak pendakian first ascent di Peru.
  8. Letnan Kolonen Harry Reginald Antony Streather atau Tony Streather, seorang perwira angkatan bersenjata Inggris yang sebelumnya hanya bertugas untuk membantu transportasi. Namun karena skill dan kecakapannya kemudian direkrut sebagai salah satu anggota utama ekspedisi. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan mengapa Streather direkrut menjadi anggota tim utama adalah pengalamannya mendaki Tirich Mir di Pakistan saat bergabung dengan ekspedisi Norwegia tahun 1951.

Pada dasarnya Charles Houston sangat berharap dapat mengajak William House, salah satu pendaki tangguh yang memiliki peran besar pada ekspedisi pertama Houston tahun 1938. Namun sayang, dengan alasan bisnis yang tak dapat ia tinggalkan, House tak dapat bergabung dalam ekspedisi ini. Nama pendaki Amerika yang tangguh lainnya seperti Willi Unsoeld, Paul Petzoldt dan Fritz Wiessner sendiri tidak ikut bergabung dikarenakan merasa tidak sreg dengan komposisi anggota. Keputusan yang kemudian membuat nama mereka tidak dapat ikut dicantumkan dalam sebuah kisah mountaineering Amerika yang paling heroik dan abadi sepanjang sejarah pendakian gunung K2.

Selain mengadopsi teknik alpine style yang ringan dan cepat, ekspedisi Amerika yang diberi judul American Karakoram Expedition 1953 ini juga memutuskan untuk tidak menggantungkan logistik ekspedisi kepada sponsor. Houston dan kawan-kawannya, umumnya masih menerima dukungan sponsor dalam bentuk peralatan dan perlengkapan, namun ekspedisi ini menolak dengan keras dukungan dalam bentuk uang.

Untuk masalah biaya, sepenuhnya ditanggung oleh masing-masing anggota ekspedisi yang ikut berpartisipasi. Anggaran biaya sebesar $32.000 yang dibutuhkan untuk ekspedisi pada masa itu diperoleh melalui iuran pribadi anggota ekspedisi, beberapa hadiah, juga uang muka yang dibayarkan oleh National Broadcasting Corporation dan Saturday Evening Post untuk film dan serangkaian artikel surat kabar yang ditulis selama ekspedisi.

Dana lain dari ekspedisi ini juga diperoleh melalui pinjaman signifikan dari masing-masing anggota tim dari pihak lain. Adapun tawaran uang dari pemerintah dan juga badan mountaineering Amerika yang lainnya, secara umum ditolak oleh tim ekspedisi Houston. Sikap ini dinilai oleh beberapa pengamat mountaineering sebagai salah satu upaya dari ekspedisi Amerika tahun 1953 ke Karakoram ini untuk tetap independen dan tidak bisa ‘didikte’ oleh sponsor mereka. Meskipun pada dasarnya ekspedisi ini dapat dikatakan mengalami banyak kendala dalam hal pengumpulan biaya ekspedisi.

Pada tanggal 20 Juni 1953, ekspedisi ini telah mencapai base camp utama gunung K2 setelah melewati hari-hari awal yang melelahkan untuk melintasi Gletser Baltoro di wilayah Askole. Pendakian pada awalnya berjalan dengan lancar meskipun mengalami kemajuan yang sangat lambat. Lambatnya proses pendakian ini juga merupakan imbas dari strategi pendakian yang telah dijalankan oleh Houston. Pengalaman Houston saat mendaki Nanda Devi dan juga K2 pada tahun 1939 telah membuatnya menerapkan prinsip untuk membuat persediaan logistik siap sedia dan tersisi penuh di setiap Camp. Hal ini dilakukan oleh Houston guna mewaspadai kemungkinan untuk berbalik jika saja cuaca buruk membuat mereka terpaksa mundur dari K2 nantinya.

Menara raksasa K2 dengan hamparan Gletser Goldwin Austin yang luas. Sejak awal sejarah pendakiannya, kecamuk badai K2 terkenal dengan keganasan dan kekejamannya yang hampir selalu memakan korban. Sumber foto: Google image 

Sekitar tanggal 1 Agustus, keseluruhan anggota tim ekspedisi telah berhasil bergerak hingga mencapai ketinggian 7.800 meter di Camp VIII. Keesokan harinya sudah terbayang di benak para petualang Amerika itu bahwa mereka akan berhasil mencapai puncak K2 sebagai first ascent. Sayangnya impian ini tiba-tiba harus terhenti dari benak para pendaki itu, karena cuaca K2 yang selama bulan Juni dan Juli bersahabat dengan cukup baik, kini berubah menjadi beringas dan mematikan.

Satu atau dua hari kemudian, cuaca bahkan berubah lebih brutal dan berlangsung terus menerus. Badai di K2 seolah tak mau berhenti mencoba untuk mengusir para pendaki Amerika itu untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Mulanya Charles Houston dan kawan-kawan, dapat dikatakan tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi itu. Jangankan frustasi untuk segera mengakhiri pendakian, terpikirkan untuk mundur pun tidak ada dalam pikiran para pendaki gunung Amerika itu.

Melihat kondisi cuaca yang tak kunjung menunjukkan harapan karena badai telah berlangsung hampir satu minggu lamanya tanpa ada tanda-tanda akan berakhir. Tujuh orang pendaki itu mulai mendiskusikan siapa saja yang akan dipilih untuk melakukan final summit push, mengingat tidak mungkin semuanya dapat mencapai puncak dalam dekapan gunung kejam yang sedang mengamuk itu. Namun rencana ini juga pada akhirnya harus buyar. Malam keempat badai yang meraung sepanjang malam telah memicu salah satu tenda mereka ambruk, kondisi yang kemudian memaksa Charles Houston dan George Bell untuk masuk ke tenda lain yang juga sebenarnya sudah over kapasitas.

Pada hari keenam di Camp VIII, window mulai tersibak dan menawarkan kepada anggota ekspedisi untuk sedikit bergerak mengevaluasi langkah mereka. Dan pada saat inilah untuk yang pertamakalinya rencana untuk mundur dan menyerah kepada keganasan K2 mulai dibicarakan.

Esok harinya cuaca membaik yang memungkinkan untuk melakukan upaya summit attack, namun pemikiran ini kemudian dengan cepat menguap ketika Art Gilkey yang sedang berada di luar tenda tiba-tiba hilang keseimbangan dan ambruk. Charles Houston yang memang merupakan seorang dokter segera mendiagnosa Gilkey dan menyimpulkan bahwa ia telah terserang thrombophlebitis atau pembekuan darah pada jaringan vena, yang di atas dataran rendah merupakan penyakit berbahaya, namun diketinggian 7.800 meter, kalimat lain untuk menyebut penyakit ini adalah ‘kematian’.

Meskipun mengetahui betapa berbahayanya penyakit yang telah membuat Gilkey roboh, sama sekali tidak terpikir bagi ketujuh pendaki itu untuk meninggalkannya sendirian di atas gunung. Bagaimana pun juga Art Gilkey harus dibawa turun. Namun karena tak lama kemudian badai kembali melolong di K2, membuat rencana untuk turun terpaksa dibatalkan dan semua pendaki kembali meringkuk di dalam tenda yang kesempitan.

Diagnosa lanjutan yang dilakukan oleh Houston membuat kondisi tim ini semakin menyedihkan, penyakit thrombophelibitis yang diderita Gilkey telah berkembang semakin parah, bahwa penyakit itu telah pula mengundang gejala pulmonary embolism. Pulmonary embolism sendiri adalah penyumbatan arteri di paru-paru oleh zat yang telah berpindah dari tempat lain melalui pembuluh darah. Dalam kasus Art Gilkey, pembengkakan pada kakinya dan terpapar pada ketinggian mematikan, itulah yang secara signifikan telah membuat ia menderita pulmonary embolism.

Tanggal 10 Agustus situasi semakin kritis, kondisi Gilkey dengan cepat memburuk dan drop, sementara mereka semua masih terperangkap dalam badai 7.800 meter gunung K2. Tanpa ada upaya untuk turun dan melakukan sesuatu, kondisi ini tidak hanya akan membawa kematian bagi Gilkey, tapi juga seluruh anggota tim. Dengan memperhitungkan bahaya badai dan avalanche yang sambung menyambung tiada henti, tim ini kemudian memutuskan untuk segera turun meski apa pun risikonya.

Camp ekspedisi Amerika di gunung K2 pada tahun 1953, sebelum pristiwa heroik dan legendaris itu terjadi. Sumber foto: The New York Times

Tidak ada pikiran dan ambisi lagi untuk mencapai puncak K2 dan membuat first ascent dalam benak Charles Houston dan kawan-kawan. Sekarang fokus mereka adalah segera turun meninggalkan gunung dan menyelamatkan Art Gilkey yang sedang sekarat. Dengan memasukkan Gilkey dalam sleeping bag, dibalut oleh tandu darat dari bahan canvas, dibebat oleh tali seperti mummi, tubuh Gilkey mulai ditarik dan kadang diturunkan melewati neraka yang kejam gunung K2.

Proses evakuasi berjalan dengan sangat sulit dan mengkhawatirkan. Menarik atau menurunkan sesosok tubuh dengan berat mencapai 60kg lebih bukanlah perkara yang menyenangkan untuk dilakukan. Dan ini mereka harus melakukannya di K2, pada ketinggian 7.800-an meter, di tengah raungan badai dan risiko avalanche yang ingin menyergap nyawa mereka dengan cepat. Ini benar-benar sebuah mimpi buruk yang tidak dapat dihindari. Meski bagaimana pun, akhirnya proses evakuasi ini berhasil turun hingga ketinggian 7.600 meter, tersisa sebuah medan yang harus dilalui dengan traversing untuk mencapai Camp VII di mana mereka bisa beristirahat.

Medan yang harus dilintasi tersebut adalah sebuah selokan atau couloir yang tidak terlalu lebar namun cukup berbahaya. Ujung dari selokan itu langsung bermuara pada Gletser Goldwin Austin yang menganga menunggu mangsa sejauh ribuan meter di bawah tebing. Dibutuhkan sebuah teknis yang matang untuk dapat melewati medan semacam ini, apalagi dalam kondisi membawa tubuh Art Gilkey yang terbungkus tak berdaya.

Pete Schoening kemudian mengambil posisi di atas tubuh Gilkey, ia membenamkan kapak esnya sedalam mungkin kemudian melilitkan tali yang menahan tubuh Gilkey ke badan kapak untuk kemudian kembali ke pinggang Schoening melalui tangan kanannya.

Waktu saat itu menjelang tengah hari di K2, badai masih bertiup menakutkan meski tidak sebrutal hari sebelumnya, gemuruh avalanche dengan skala yang tidak terlalu besar juga kerapkali mampir ke telinga. Perencanaan yang disusun oleh Houston dan para pendaki yang lain dalam melewati couloir ini adalah dengan membuat semacam bandul atau derek, sehingga mereka bisa menarik tubuh Art Gilkey dari seberang selokan.

Sebelum rencana ini dilakukan, Bob Craig yang sebelumnya hampir saja jatuh ke jurang dihantam avalanche, memilih untuk istirahat sejenak di ice shelf dan menenangkan diri. Ia juga melepaskan tali yang menghubungkannnya dengan Molenaar untuk memberi ruang pada Molenaar supaya lebih leluasa bergerak. Ketika Craig melepaskan talinya, Molenaar mengambil tindakan pencegahan dengan mengikat dirinya pada tali yang lebih longgar yang terhubung dengan tubuh Art Gilkey.

Sebelum pekerjaan menyeberang couloir itu benar-benar dimulai, George Bell yang berdiri tidak jauh dari tubuh Art Gilkey kehilangan keseimbangan dan terpeleset jatuh. Ketika Bell terjatuh, tubuhnya menabrak kaki Streather yang kemudian membuat Streather oleng dan ikut terjatuh. Jatuhnya Streather menarik tali kedua yang menghubungkan dirinya dengan Charles Houston dan Robert Bates, membuat kedua pendaki itu juga terjengkang dari posisi mereka!

Tidak ada yang dapat menahan laju jatuh keempat pendaki yang terjerat tali itu kecuali tali yang menghubungkan Molenaar dengan tubuh Art Gilkey, yang beberapa saat yang lalu baru saja dikaitkan oleh Molenaar ketika Bob Craig melepaskannya untuk beristirahat. Tali itu diraih (dikaitkan/dicantolkan) dengan cepat oleh Streather ketika ia terseret jatuh. Molenaar yang terhubung dengan tali langsung terjatuh pula sambil menarik pula tubuh Art Gilkey yang tidak berdaya dalam balutan sleeping bag seperti mummi. Sekarang ada enam tubuh yang tergantung di dinding K2 yang siap meluncur dengan kecepatan roket ke Gletser Goldwin Austin. Satu-satunya yang membuat laju itu terhenti adalah seutas tali yang menghubungkan antara Art Gilkey dengan Pete Schoening.

Pete Schoening dengan sigap dan spontan mencondongkan dirinya ke arah kapak yang ia tanam sebelumnya untuk mendapatkan lebih banyak gaya dan kekuatan dalam menahan tali yang tiba-tiba berubah kencang laksana kawat baja karena dibebani oleh enam tubuh temannya. Selama lima menit kemudian, mungkin adalah saat-saat paling monumental dalam hidup Schoening ketika ia bertahan sekuat tenaga untuk tidak ikut terjatuh dan menjadi satu-satunya jangkar penahan bagi keenam rekannya.

Ini menjadi sesuatu yang sangat luar biasa, tentang bagaimana Schoening bisa bertahan begitu rupa. Kejadian ini bukan hanya sebuah keterampilan dan ketangkasan seorang pendaki gunung terbaik, namun juga telah menjadi sebuah keajaiban yang menakjubkan. Pada ketinggian di mana seseorang tidak dapat berpikir dengan jernih karena pengaruh ketinggian, alih-alih hanya untuk melakukan tindakan yang cepat dan tangkas, namun Pete Schoening juga mampu melewati masa super kritis itu dengan mengambil tindakan yang tepat dan efektif.

Pete Schoening Sumber foto: Gripped Magazine


Ketika jatuhnya terhenti, kondisi menjadi cukup kacau dan berantakan. Bell terbaring dengan napas yang hampir habis, Molenaar merintih memegangi pahanya yang berdarah, Houston pingsan tak sadarkan diri di tebing jurang yang lebih dalam, sementara Sreather yang sempat panik berupaya memperbaiki posisinya. Robert Bates yang pulih lebih cepat dari kejadian itu segera mendekati Houston yang beberapa meter ada di bawahnya. Mata Houston yang terbuka namun tampak membingungkan membuat Bates berasumsi bahwa sahabatnya itu baru saja terguncang dengan hebat.

          “Dimana kita, apa yang kita lakukan di sini?”

Tanya Houston kepada Bates yang sudah berdiri di sampingnya.

          “Kita terjatuh Houston, kau pingsan”

Jawab Bates sambil memandangi temannya yang masih kebingungan.

Dalam kondisi demikian, tim babak belur itu tidak memiliki kemampuan untuk menaikkan Charles Houston, ia harus bergerak sendiri kembali ke atas. Namun kondisi Houston yang kebingungan dan nampaknya terguncang hebat membuat laki-laki itu seolah gusar untuk bertindak. Melihat kenyataan itu, Bates meraih tubuh Houston dan merangkulnya untuk membantu Houston berdiri

“Charlie, jika kau ingin melihat Dorcas dan Penny lagi, maka naiklah ke sana sekarang” kata Bates.

Motivasi itu bekerja dengan efektif, karena sesaat kemudian mata Houston lebih terbuka dan ia mulai bergerak. Bagaimama pun juga Dorcas dan Penny adalah dua nama yang sangat ia cintai. Isteri dan puterinya itu menunggu ia pulang dalam kondisi hidup, dan bayangan wajah dua orang itu memberi tenaga dan energi baru untuk Houston.

Sketsa posisi jatuhnya anggota ekspedisi Amerika di gunung K2 pada tahun 1953. Sumber foto: The American Alpine Club
Ada cukup banyak ilustrasi posisi Pete Schoening yang ditampilkan terkait dengan peristiwa The Belay. Dan gambar di atas adalah salah satunya. Sumber foto: Gripped.com

 

KECELAKAAN ATAU PENGORBANAN?


Setelah keadaan yang sangat menegangkan itu berlalu, maka sekarang dibutuhkan untuk membuat yang terluka berlindung dan beristirahat. Tubuh Art Gilkey yang terluka ditempatkan di sebuah selokan kecil dengan diikat pada dua buah kapak es yang tertancap erat dalam permukaan salju. Sementara yang lain bergerak ke seberang couloir untuk mendirikan tenda pada sebuah langkan yang agak rata.

Charles Houston, George Bell, Pete Schoening dan Dee Molenaar ditempatkan di dalam tenda, sementara itu Robert Bates, Tony Streather dan Bob Craig bergerak menuju tempat Art Gilkey untuk membawanya ke tenda pula. Namun sesampainya di tempat di mana Gilkey sebelumnya berada, ketiga pendaki itu tidak menemukan apa-apa selain sebuah jejak longsoran salju yang baru saja menyapu tempat tersebut.

“Memang seolah-olah tangan Tuhan telah menyapunya”

Tulis Robert Bates dalam bukunya saat mengomentari pristiwa itu.

Keesokan harinya setelah melewati malam yang penuh dengan kengerian, Charles Houston dan timnya  menemukan dirinya berjalan menuruni rute yang ternyata menjadi rute jatuhnya Art Gilkey. Ada banyak bekas sleeping bag dan kain tenda yang digunakan membebat Gilkey berserakan sepanjang rute, potongan-potongan tali dan juga darah berceceran tak karuan di berbagai tempat pada permukaan salju.

“Jelas kami telah menuruni rute yang sama yang dilalui oleh Art, dan kami berjalan mengikuti darah Art. Hanya ada darah, darah, dan darah, kami tidak membicarakan hal tersebut dalam waktu yang lama”.

Tujuh pendaki Amerika yang tersisa itu mencapai base camp K2 empat hari kemudian. Mereka telah melalui hari-hari neraka di K2, gunung kejam itu telah merenggut Art Gilkey dalam perjalanan pertamanya ke Himalaya. Namun gunung adalah gunung, tidak ada unsur perasaan dan belas kasihan di dalamnya, ketika seseorang mendatanginya, maka artinya ia juga telah siap dengan segala konsekuensi dan risikonya.

*


Pasca pendakian yang monumental itu, Jim Curran, seorang penulis, pendaki gunung, sekaligus pembicara dari Inggris memberi komentarnya atas kematian Art Gilkey. Menurut Curran, kematian Gilkey tak dapat ditepis, memang sangat tragis, namun tidak diragukan telah menyelamatkan nyawa rekan-rekannya yang lain. Dengan kematian Gilkey, tujuh pendaki lainnya dapat berkonsentrasi untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri tanpa harus ‘terbebani’ membawa tubuh Gilkey ke base camp.

Pemikiran Jim Curran ini mendapat persetujuan dari Charles Houston namun tidak dari Pete Schoening. Schoening bagaimana pun juga, tetap optimis dan berkeyakinan bahwa mereka dapat membawa Gilkey dengan selamat jika saja tidak disapu oleh avalanche setelah kejadian terjatuh massal sebelum mencapai Camp VII.

Namun sebuah teori yang lebih menarik disampaikan oleh Tom Horbein yang mengatakan bahwa kematian Art Gilkey adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh Gilkey sendiri untuk menyelamatkan nyawa rekan-rekannya. Pendapat ini segera menyulut pro dan kontra. Dalam keadaan terikat dalam kantung seperti mummi, bagaimana mungkin Gilkey dapat melepaskan diri dan mencabut dua kapak es yang menahan tubuhnya?

Meskipun demikian pendapat Hornbein juga tidak dapat ditepis begitu saja, selain reputasi Hornbein yang cukup bagus dalam dunia mountaineering Amerika, teori yang ia sampaikan juga ada benarnya. Karena dapat saja Gilkey melakukan aksi ‘penyelamatan’ bagi rekan-rekannya ketika Charles Houston dan yang lainnya sedang mendirikan tenda dan menghadapi trauma setelah terjatuh. Menyadari bahwa usaha penyelamatan dan membawanya turun telah membahayakan teman-temannya, Gilkey kemudian berusaha melepaskan diri dan membiarkan tubuhnya ditarik gravitasi menuju jurang Goldwin Austin yang menanti kedatanganya dengan tenang.

Kapak es milik Pete Schoening yang digunakannya sebagai jangkar tunggal dalam menyelamatkan rekan-rekannya pada pristiwa dramatis The Belay. Kapak ini sekarang disimpan dalam Museum Mountaineering Amerika di Colorado. Sumber foto: Google image

Pada awalnya Houston tak sependapat dengan teori yang disampaikan Horbeirn ini, apalagi sebelumnya Art Gilkey juga sempat disuntik dengan morfin untuk mengurangi rasa sakit pada tubuhnya. Pengaruh morfin dalam pertimbangan Houston akan membuat Gilkey terlalu lemah untuk dapat melepaskan diri. Akan tetapi, meninjau kembali pristiwa itu untuk film dokumenter tahun 2003, Charles Houston menjadi yakin bahwa pada dasarnya Art Gilkey memang sengaja mengakhiri hidupnya sendiri untuk meringankan beban rekannya yang lain.

Bertolak belakang dengan Houston, pendaki lain seperti Robert Bates tetap bersikukuh yakin bahwa Art Gilkey tewas karena kecelakaan, bukan karena bunuh diri. Hingga sekarang tidak ada yang dapat benar-benar memastikan motif kematian Art Gilkey, apakah itu merupakan kecelakaan karena disapu longsoran salju, ataukah karena tindakan kepahlawanan untuk menyelamatkan nyawa rekan-rekannya yang lain?

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

*

Footnote:

13.1 Pendaki Inggris yang lain dan memiliki kompetisi pribadi dengan Eickenstein.

13.2 Di kemudian hari lebih populer dengan Abruzzi Spur, salah satu bagian dari rute standar pendakian K2 saat ini. 

13.3 Dudley Wolfe, Pasang Kikuli, Pasang Kitar dan Pasang Pinsto.


ARTIKEL INI DIKUTIP SECARA UTUH DARI BUKU GUNUNG KUBURAN PARA PEMBERANI KARYA ANTON SUJARWO

Tuesday, 1 September 2020

PENDAKI PEREMPUAN PERTAMA DI PUNCAK EVEREST SECARA SOLO

 

Untuk mendapatkan pengakuan, seorang pendaki perempuan harus bekerja lebih keras daripada kebanyakan pendaki pria Alison Jane Hargreaves


Artikel ini dikutip dari buku DEWI GUNUNG karya Anton Sujarwo

Kisah Perempuan Pertama di Dunia yang Mencapai Puncak Everest Secara Solo dan Tanpa Tabung Oksigen 


>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

Prestasi puncak dari seorang Alison Hargreaves adalah ia merupakan perempuan pertama di dunia yang mendaki Everest secara solo, tanpa tabung oksigen, tanpa sherpa, dan juga tanpa fix line. Namun sebenarnya selain prestasi itu, Alison juga membuat banyak pendakian lain yang membuat namanya melambung. Bahkan pada tahun 1988, Alison yang saat itu tengah mengandung anak pertamanya pernah menyelesaikan pemanjatan di Eiger North Face bersama James Ballard, suaminya. Dan tidak hanya Eiger, Alison juga kemudian mengukir namanya dalam 5 tebing utara lain di Eropa dalam waktu satu musim, dan secara solo.

Alison Jane Hargreaves lahir pada tanggal 17 Februari 1962 di Belper, Derbyshire, Inggris. Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Belper High School, Alison kemudian meninggalkan rumahnya untuk mengejar impiannya sebagai seorang pendaki gunung profesional. Ia kemudian berkenalan dengan James Ballard dan tak lama kemudian keduanya memutuskan untuk menikah. Baik James Ballard mau pun Alison Hargreaves adalah lulusan Universitas Oxford jurusan mate-matika. Namun seperti pada banyak pendaki gunung besar lainnya, Alison lebih tertarik pada gunung daripada rangkaian rumus dalam sains dan mate-matika.

Kisaran tahun 1990-an, Alison dan James Ballard memutuskan untuk pindah ke Spean Bridge, sebuah tempat di Dataran Tinggi Skotlandia. Spean Bridge kemudian menjadi tempat yang ideal bagi keluarga Ballard, terutama Alison, untuk memperdalam minat dan bakatnya dalam mountaineering.

Alison adalah generasi pendaki gunung yang kuat, satu generasi dengan nama-nama besar seperti Doug Scott dan Chris Bonington. Dan sebagai wanita, Alison cukup komplek menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dalam karirnya sebagai pendaki gunung. Ia pada dasarnya tidak begitu suka dengan popularitas, namun prestasi dan pencapaiannya di atas gunung tidak menyembunyikan dirinya dari sorotan media yang penasaran. Dan media yang penasaran, publik yang kadang melihat suatu objek berdasarkan sudut pandang yang terbatas, pada banyak kondisi lebih sering melontarkan kritik dan cercaan pedas kepada siapa pun yang dianggap layak menerimanya. Termasuk pula dalam kasus ini, Alison Jane Hargreaves.

“Orang-orang akan selalu menemukan kesalahan pada dirimu, tidak peduli apa pun yang akan kamu lakukan”

Ucap Alison suatu ketika, saat diminta tanggapannya mengenai kritik yang ia terima. Kritik itu terjadi saat ia yang hamil 5 bulan memutuskan untuk mendaki Eiger North Face bersama suaminya.

Alison Jane Hargreaves dalam ekspedisinya di Kangtega. Sumber foto: Google image

Dalam kacamata yang objektif, kita pun harus memahami bahwa kritik yang diterima Alison dengan mendaki Eiger North Face pada saat mengandung bukanlah hal yang tidak beralasan. Tindakan itu meskipun dilakukan bersama suaminya sendiri tentu sangat berisiko dan berbahaya. Eiger North Face adalah salah satu tebing paling atraktif di muka bumi, panjang lintasan vertikalnya hampir dua kilomoter, perpaduan antara batu-batu, salju, dan juga es. Hal ini tentu saja sangat rentan bagi dirinya dan bayi yang dikandungnya. Jadi pada point ini kita memiliki persetujuan dengan nada kritik yang menganggap apa yang dilakukan Alison dengan memanjat Eiger North Face pada saat hamil, bukanlah tindakan bijaksana.

Namun kritik seperti ini juga pada dasarnya harus objektif, tidak hanya pada Alison yang notabene adalah wanita. Kritik senada juga harusnya dilontarkan pada para pendaki pria yang melakukan hal serupa, misalnya pergi mendaki gunung di saat isterinya sedang hamil. Bukankah risiko dan kesengsaraan yang diterima juga kurang lebih sama jika kemudian terjadi musibah dalam pendakian tersebut? Ini seperti kita kemudian membandingkan Alison Hargreaves yang mendaki Eiger North Face saat hamil dengan Rob Hall yang tewas di Everest saat isterinya juga sedang hamil. Adakah kesamaan persepsi terkait risiko kehamilan dan potensi yang akan dialami sang bayi jika membandingkan dua kondisi ini? Mengapa Alison dihujani kritik sementara Rob Hall tidak terkait dengan keputusannya meninggalkan isterinya yang sedang hamil untuk mendaki Everest?

Jangankan seorang wanita yang memiliki konsekuensi mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang ibu, seorang pendaki laki-laki saja yang tidak akan melewati fase hamil dan melahirkan, tidak semua memiliki keberanian untuk berumah tangga ketika kehidupan sebagai pendaki gunung menjadi pilihan mereka

Membandingkan antara Alison Hargreaves yang mendaki Eiger North Face saat hamil dengan Rob Hall yang meninggalkan isterinya yang sedang hamil untuk mendaki Everest tentu bukan perbandingan yang apple to apple. Meskipun demikian, dua kasus ini sudah cukup jelas untuk melihat bahwa memang kesenjangan dan diskriminasi antara pendaki gunung perempuan dan pendaki gunung laki-laki masih terus ada. Meskipun teknologi dan zaman sudah jauh berkembang, perjuangan untuk menghilangkan hal semacam ini masih akan menempuh jalan yang panjang.

Bagian paling menarik dari seorang Alison Jane Hargreaves terkait dengan jati dirinya sebagai salah satu alpinis perempuan terkemuka dunia bagi saya adalah konsistensi yang tetap ia pegang teguh sebagai seorang ibu dan juga seorang isteri. Meskipun mendaki gunung adalah prioritas dalam hidup Alison, namun naluri sebagai seorang wanita membuat ia tetap mengambil keputusan yang tidak mudah dengan menjadi ibu dari anak-anaknya.

Pada profil Fanny Bullock Workman, atau pada profil Wanda Rutkiewicz, kita telah menemukan sebuah dilematis yang berbeda. Fanny meskipun memiliki dua orang anak di Amerika, memilih untuk menitipkannya pada pengasuh. Fanny lebih memilih berlepas tangan dengan pertumbuhan dua orang anaknya. Sementara untuk Wanda Rutkiewicz sendiri meskipun tidak sama persis, namun memiliki garis merah yang hampir mirip. Wanda memang tidak memiliki anak, dua pernikahannya gagal, suaminya ia tinggalkan untuk memilih gunung yang lebih ia cintai.

Alison Jane Hargreaves. sumber foto: Minden pictures

Akan tetapi dalam pribadi seorang Alison Jane Hargreaves kita menemukan sebuah pribadi yang lebih menarik. Ia tetap memilih memiliki anak, tetap memilih hidup bersama suaminya, namun di lain sisi Alison juga konsisten dengan nalurinya sebagai seorang mountaineer sejati. Ia tetap memiliki obsesi besar untuk menaklukkan 3 puncak gunung tertinggi di dunia (Everest, K2 dan, Kangchenjunga). Menyelaraskan kehidupan sebagai seorang pendaki gunung dengan kehidupan normal sebagai seorang ibu rumah tangga tentu adalah sebuah profesi yang tidak mudah. Dan atas pilihannya ini, sudah selayaknya Alison mendapat apreasiasi.

Jangan salah, beberapa orang justru bahkan tidak berani memiliki komitmen berumah tangga saat terlibat dalam urusan pendakian gunung atau alpinisme. Jangankan seorang wanita yang memiliki konsekuensi mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan anak ketika ia memutuskan untuk menjadi seorang ibu. Seorang pendaki laki-laki saja yang tidak akan melewati fase hamil dan melahirkan, tidak semua memiliki keberanian untuk berumah tangga ketika kehidupan sebagai pendaki gunung menjadi pilihan mereka.

Alison Hargreaves dalam ekspedisinya di K2 tahun 1995, foto ini diambil beberapa hari sebelum ia mencapai puncak dan kemudian tewas dalam perjalanan turun. Sumber foto: Google image

K2 dan Nanga Parbat

Gunung Everest, K2 dan Kangchenjunga adalah rangkaian 3 gunung tertinggi di dunia yang menjadi target Alison tahun 1995. Setelah sukses besar di Everest dengan pendakiannya yang solo, tanpa tabung oksigen, dan tanpa sherpa, Alison kemudian berencana untuk meneruskan pendakiannya di K2 untuk kemudian dilanjutkan ke Kangchenjunga. Namun sayang di K2, gunung kedua tertinggi di dunia yang terletak di atas perbatasan antara China dan Pakistan ini, obsesi Alison harus terkubur bersama dengan tubuhnya yang juga menghilang.

Berdasarkan laporan kejadian pada saat itu, Alison dan beberapa rekan pendakinya yang lain, termasuk juga seperti pendaki Amerika Serikat bernama Rob Slater, tewas digulung badai gunung K2 yang ganas. Tubuh Alison tak pernah ditemukan hingga hari ini. Saat tewas di K2, Alison meninggalkan anaknya pertamanya yang bernama Tom Ballard dalam pada usia 6 tahun, sedangkan Kate Ballard berusia 3 tahun.

Tahun 2019, bulan Maret tanggal 9, berpuluh tahun setelah kepergian Alison yang penuh duka di K2. Keluarga Ballard kembali dirundung air mata yang deras. Tom Ballard, anak sulung Alison dan James, bayi yang ada dalam kandungannya saat ia mendaki Eiger North Face tahun 1988, kini tewas di gunung seperti ibunya. Jika petualangan Alison kemudian berakhir di K2, maka sang anak kemudian tewas di Nanga Parbat, Gunung Pembunuh yang sama tidak ramahnya seperti K2.

Tom Ballard sama seperti ibunya dalam urusan prestasi di atas gunung. Prestasi puncak Tom Ballard dalam alpinisme dan mountaineering adalah pada musim dingin tahun 2014-2015 ketika ia berhasil menyelesaikan pendakian enam wajah utara Eropa secara solo dan dalam satu musim dingin. Enam wajah utara Eropa tersebut adalah Eiger North Face, Matterhorn North Face, Grandes Jorasses North Face, Piz Badile North Face, Petit Dru North Face dan, Tre Cima di Lavaredo North Face812.1. Sebelum Tom, belum ada satu pun pendaki gunung di dunia yang berhasil mendaki enam tebing mematikan ini secara solo dan dalam musim dingin. Tom adalah yang pertama kali melakukannya.

Alison, Kate, dan Tom berfoto bersama sebelum keberangkatan Alison ke K2 yang kemudian membuat ia tidak pernah kembali lagi. Sumber foto: Google image 

Di Nanga Parbat, Tom Ballard berpartner dengan Daniele Nardi dari Italia. Keduanya bertujuan untuk mencapai puncak Nanga Parbat pada musim dingin dari jalur Diamir Face. Namun malang bagi Tom Ballard dan Daniele Nardi, sebuah longsoran menghentikan mereka sebelum berhasil mencapai puncak.

Profil lengkap dan detik-detik kematian Alison Hargreaves di K2 pada tahun 1995 dapat dibaca dalam buku saya yang berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani, InsyaAllah rilis pertengahan tahun 2020 ini. Buku ini merupakan serial kedua daru buku One Last Climb yang terdiri dari 3 jilid. Judul pertama dan jilid pertama dari seri ini berjudul Maut Di Gunung Terakhir dan sudah dirilis tahun 2019 lalu.

>>> KLIK TAUTAN INI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU PENDAKIAN GUNUNG TERBARU DI INDONESIA <<<

Pencapaian Monumental

  • Perempuan pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak Everest secara solo tanpa tabung oksigen, tanpa bantuan sherpa dan juga fix line.
  • Perempuan pertama yang menyelesaikan pemanjatan Great North Face of the Alps dalam satu musim secara solo.


Footnote

    1. 812.1 Profil dan sejarah enam wajah Eropa ini secara lengkap dapat dibaca kembali pada buku saya yang ke-8 berjudul; Sejarah Pendakian Tebing Utara.

 

 

 

 

 

 

Tulisan Terbaru

PEMUNCAKAN DAN TRAGEDI DI GUNUNG PALING SULIT DI DUNIA

Gunung K2 yang merupakan gunung tertinggi ke-2 di dunia dan merupakan satu-satunya gunung 8.000 meter yang belum tersentuh puncaknya pa...